DARI RUMAH MEWAH KE RUMAH SUSUN: Analisis Setting dalam Film FIKSI.

 Novi Diah Haryanti
Mata Kuliah Teori dan Pendekatan Sinema 
2009

Pendahuluan

Fiksi adalah film pertama Mouly Surya yang dirilis pada Juni 2008. Walaupun hanya meraih 23.883 penonton, Fiksi mendapat empat penghargaan di ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2008, yaitu film terbaik, sutradara terbaik, skenario cerita asli terbaik, dan tata musik terbaik. Meski belakangan kerap mendapat kritik, festival ini masih dianggap sebagai barometer perfilman Indonesia.

Film Fiksi berkisah tentang Alisha (Ladya Cheryl) yang hidup dalam kesepian, kecemasan, dendam, dan trauma setelah ia tahu bapaknya memiliki simpanan dan ibunya meninggal pada saat mengandung. Kebencian pada sang bapak, membuat Alisha menutup diri dan hidup dalam dunianya sendiri. Namun, hal tersebut berubah ketika ia melihat sosok Bari (Donni Alamsyah) yang terlihat santai, riang, dan melakukan apa yang ia inginkan, seperti mencuri pajangan kelinci putih milik Alisha untuk kekasihnya Renta (Kinaryosih). Sayangnya, Bari tak pernah tahu perbuatan isengnya itu membawa Alisha –yang belakangan kita tahu seorang gadis psikopat –ke dalam hidupnya. Diam-diam, Alisha mencari Bari, mengikutinya sampai ke rumah susun tempat ia dan pacarnya tinggal bersama, bahkan mengontrak rumah tepat di samping rumah Bari.


Maka, beralihlah Alisha dari dunianya yang sepi, ke dunia lain (dunia Fiksi) yang membuat ia harus mengarang cerita hidupnya, sebagai seseorang yang baru. Perkenalannya dengan Bari, serta kenyataan bahwa Bari telah memiliki pacar, membuat Alisha mengupayakan berbagai macam cara untuk mendapatkan Bari yang ia tahu sedang berusaha menyelesaikan ceritanya. Diam-diam, Alisha membantu Bari menyelesaikan ceritanya, menamatkan satu persatu para tokoh yang ditulis Bari. Hingga Alisha mendapati bahwa kisah ke-empat yang ditulis Bari adalah kisahnya sendiri yang terlibat cinta segitiga dengan seorang psikopat.

Film didesain untuk memberikan efek kepada penonton. Sebagai film thriller, Fiksi diharapkan mampu menghadirkan rasa cemas, penasaran, tegang bahkan takut pada diri penonton. Untuk memunculkan ketegangan tersebut, sutradara menampilkannya lewat aspek mise en scene seperti setting, konstum, make up, pencahayaan, dan staging. Aspek sinematografi, sonor, dan editing memegang peranan sangat penting untuk memberikan efek tertentu kepada penonton.

Tulisan ini akan membahas mengenai setting pada film Fiksi. Dalam menganalisis setting, saya membagi menjadi dua bagian. Kejadian lima menit pertama sebagai contoh yang mewakili kehidupan nyata (nonfiksi) tokoh Alisha, yaitu rumah mewah tempat Alisha hidup sejak kecil. Serta, menit ke 42 s/d menit 47 yang menampilkan rumah susun sebagai dunia fiksi Alisha, tempat ia mengejar cinta.

Setting adalah tempat terjadinya film (Phillips, 1999). Setting dalam film harus dapat memberikan informasi lengkap tentang peristiwa-peristiwa yang sedang disaksikan penonton. Pertama, setting menunjukan tentang waktu atau masa berlangsungnya cerita. Kedua, tempat terjadinya peristiwa. Sebagai tempat terjadinya film, setting dibagi menjadi dua, set yaitu tempat yang dibangun untuk keperluan film dan location tempat yang sudah ada ‘real place’. 

Setting I: Rumah Mewah Alisha (5 menit pertama)

Film Fiksi dimulai dengan suara denting piano yang lambat dan semakin cepat hingga menampilkan close up deretan boneka full color sebagai dekor dan sebuah tangan yang mengambil salah satu boneka. Pada adegan pembuka ini, sengaja tidak diperlihatkan wajah si pengambil boneka, melainkan membuat penonton, fokus pada salah satu boneka yang diambil kamera secara close up. Kemudian tampak sebuah pintu besar yang diambil secara long shot dan suara langkah kaki yang semakin lama semakin jelas sebagai tanda datangnya tokoh, yang kemudian berjalan keluar pintu (membelakangi penonton) menuju teras. Setelah itu, kamera bergerak ke arah wajah dingin tokoh Alisha (close up), yang sedang melihat kedatangan mobil-mobil mewah memasuki halaman rumahnya sebelum akhirnya ia masuk kembali ke rumah dan berjalan menaiki tangga dengan posisi kamera dari atas ke bawah (bird eye) hingga makin memperlihatkan ruang yang cukup luas bahkan untuk sekadar tangga rumah.

Lewat title scene berdurasi 1 menit 14 detik tersebut, sutradara mencoba memperkenalkan tokoh Alisha yang ‘dingin’ dan kesepian lewat setting dan sonor. Setting yang dipilih adalah rumah mewah yang ditampilkan lewat ukuran pintu dan jendela rumah yang besar, dan sepi hingga untuk beberapa saat Mouly menghadirkan keheningan yang menguatkan kesan sepinya rumah dan sepinya kehidupan Alisha. Selain keheningan, suara langkah kaki, deru mobil yang datang, dan denting piano menjadi bunyi-bunyian yang berfungsi untuk menguatkan latar tempat dan suasana hati Alisha.

Pada 5 menit pertama, sengaja ditampakkan shot-shot yang memperlihatkan kehidupan mewah Alisha. Rumahnya yang mewah dengan pintu dan jendela yang sangat besar, mobil mahal yang dimiliki keluarganya, serta kamar Alisha yang sangat luas namun tampak kosong karena Mouly hanya mengambil sudut-sudut tertentu di kamarnya. Salah satu sudut kesayangan Alisha adalah tempatnya bermain cello yang hanya berisi dua buah lemari kecil dan di atasnya terdapat pajangan kelinci putih, lampu antik sebagai dekorasi yang diletakan di antara lemari, sebuah kursi yang ia duduki pada saat bermain cello, meja kaca kecil, dan tempat (tutup) cello yang tampak besar dibandingkan barang lainnya karena posisinya yang berada tepat di depan kamera (foreground).

Selain, setting ruang yang tampak luas dan lapang dengan warna cat putih, potongan gambar boneka perempuan berambut hitam panjangan dengan baju merah menyala, serta mainan penganting yang berputar (berdansa) diiringi musik dengan salju berjatuhan, beberapa kali hadir dalam film. Kedua hal tersebut memiliki makna yang cukup penting. Boneka tersebut merepresentasikan sosok Alisha yang manis serta kerap memakai pakaian dan riasan wajah yang berwarna namun tetap menimbulkan kesan menyeramkan lewat tatapan matanya. Tidak hanya itu, boneka tersebut merupakan bagian dari kenangan traumatis masa lalu Alishnya yang dengan setia dibawanya kemanapun ia pergi (termasuk ketika ia pindah ke rumah susun). Sedangkan, mainan pengantin yang di close up tepat sebelum Alisha melihat Bari, seakan pertanda, bahwa Barilah pasangan yang dicari Alisha.

Dari sudut-sudut di kamar tidur Alisha, setting tempat beralih ke ruang makan. Kedatangan sang ayah dan hubungan yang tidak harmonis antara ayah dan anak diperlihatkan lewat adegan di ruang makan. Karena diambil dengan jarak yang jauh (long shot), penonton dapat melihat detail dekor yang dipilih untuk menghadirkan kemewahan ke ruang tersebut, seperti lukisan, kristal-kristal di meja, lampu gantung, sebuah meja makan yang sangat panjang yang dibelakangnya terdapat dua buah pintu besar, dan di depannya terdapat dua buah pohon yang ditanam dalam pot keramik besar lalu diletakkan di sisi kanan-kiri dekat dua buah tiang besar, serta lantai marmer yang bersih mengkilat. 
Gambar 1. Alisha dan Bapaknya di ruang makan yang memperlihatkan kemewahan rumah Alisha
 Ketegangan antara bapak dan anak di tengah kemewahan ruang makan Alisha, dibangun oleh sonor berupa dialog, keheningan, serta suara garpu, pisau, dan piring yang beradu. Berikut adalah kutipan dialog antara Alisha dan bapak (menit ke 3:29 s/d 4:18).

Alisha: saya mau cari kerja
Bapak: kamu perlu uang tambahan, berapa? (terdengar suara pisau dan garpu yang beradu/mengiris makanan)
Alisha: saya cuma ingin cari kesibukan, kalau cuma di rumah saja nunggu bapak datang sekali-kali, saya bisa mati bosan. Atau izinin saya keluar ikut dengan bapak dong.
Bapak: saya ini kan kerja (terdengar suara pisau dan garpu yang beradu)
Alisha: kan saya bisa di hotel, atau jalan-jalan sendiri. Kecuali memang perempuan itu sudah minta ikut duluan.
Hening
Alisha: saya cuma bercanda nggak perlu jadi drama.

Pada saat dialog berlangsung, kamera bergerak meng-close up siapa yang berbicara, sehingga tampak ekspresi kedua tokoh yang berjarak. Namun, keheningan yang terjadi setelah Alisha menyinggung soal “perempuan itu”, menjadi puncak ketegangan antara bapak dan anak. Keheningan yang ditampilkan dengan jarak kamera long shot, membuat kita tahu bahwa kedua tokoh saling berpandangan dan terdiam beberapa saat sebelum Alisha memecahkan keheningan tersebut dengan kalimat “saya cuma bercanda nggak perlu jadi drama”.

Setelah adegan ruang makan, maka setting berpindah lagi ke sudut rahasia di kamar Alisha. Di sudut kamar rahasia tersebut, set yang ditampilkan cukup sederhana. Dua buah lemari kayu setinggi Alisha, satu buah meja di antara keduanya yang dipenuhi boneka, dan dua buah bingkai foto yang salah satunya memajang foto masa kecil Alisha yang dibelakangnya terdapat gambar sang bapak yang penuh coretan. 
Gambar 2
sudut kamar rahasia Alisha, tempat ia melepas amarah pada bapaknya.

Alisha yang memendam rasa amarahnya kemudian pergi ke sudut kamar rahasianya, lalu menurunkan foto masa kecilnya, hingga tampak gambar sang bapak yang penuh coretan, lalu close up tangan Alisha yang menuliskan kata “Monyet” pada gambar sang bapak. Adegan tersebut, menegaskan kebencian Alisha yang tampak pada wajahnya. Selesai menuliskan kata ‘monyet’ Alisha mengambil kembali fotonya untuk menutup gambar tersebut, lalu kamera seakan bergerak mundur, dan mengambil jarak medium shot untuk kembali memperlihatkan ruang rahasia tersebut secara utuh.

Setting ruang kamar, ruang makan, dan sudut kamar rahasia adalah latar tempat yang muncul pada 5 menit pertama. Ruang-ruang tersebut, cukup mewakili kehidupan mewah namun sepi yang dijalani Alisha. Ekspresi wajah yang tampak suram, dingin, dan datar serta kebiasaannya memainkan lagu-lagu sedih dari cello kesayangannya, menunjukan bahwa Alisha tidak bahagia di tengah harta. Ia seperti boneka yang hanya menjadi pelengkap (pajangan) bagi sang bapak di rumahnya yang mewah.

Setting II: Rumah Susun (menit ke 42 s/d menit 47)

Selain rumah mewah, film Fiksi juga mengambil setting rumah susun yang berlokasi di daerah Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Berbeda dengan setting rumah mewah di lima menit awal yang menampilkan dekor dengan cukup detail, gambaran rumah susun yang ditampilkan tampak kering karena kurangnya detail. Hal tersebut tampak pada saat Bari memberikan free tour pada Alisha yang sejak kedatangannya belum pernah melihat keadaan dan kehidupan di rumah susun.

Jika film Mengejar Matahari (2004) garapan Rudi Soedjarwo dibuka dengan gambar rumah susun berwarna kelabu, dengan jendela kecil, atap rumah yang penuh antena televisi, serta jemuran yang menjadi ciri khas rumah susun dan ditampilkan dengan sudut kamera high angle dan bird eye, dari atas ke bawah sehingga seluruh penampang horizontal rumah susun terlihat jelas, Bari memulai free tour rumah susunnya dengan kamera pada posisi low angle dan gerak kamera dari bawah ke atas, perlahan menyoroti sudut-sudut rumah susun. Selain tidak menampakkan keseluruhan rumah susun, sudut-sudut rumah susun yang dipilih tampak bersih (tanpa antena, tanpa kabel-kabel, bahkan tanpa jemuran), sehingga ‘cita rasa’ rumah susun tersebut menjadi kurang.
Gambar 3. Posisi kamera yang low angle hanya menampilkan sudut-sudut tertentu di rumah susun

 Lewat penjelasan Bari kepada Alisha, penonton dapat mengetahui karakteristik penguhi dan gambaran mengenai rumah susun tersebut. Misalnya lantai satu adalah pusat bisnis dari rumah susun, mendengar kalimat tersebut tentu kita akan membayangkan ramai dan hiruk pikuknya lantai satu. Sayangnya, keberagaman bisnis tersebut kurang tampak karena yang diperlihatkan hanya seorang bapak yang sedang memasak makanan (warung makan). Sedang bisnis lainnya, hanya ditampaknya lewat papan-papan nama usaha yang tidak terbaca, kecuali penjual dvd dan vcd bajakan dan mainan. Selain itu, suasana ramai yang seharusnya terasa di sebuah pusat bisnis, tampak hambar karena hanya diwakili oleh beberapa figuran yang lalu lalang.

“Lantai dua dihuni sama keluarga biasa, paling ribut tuh lantai dua karena banyak anak-anak di sini” (menit ke 42:24). Lalu terlihat gambar di tangga, Bari dan Alisha bertemu dengan seorang ibu yang menggendong anaknya menuruni tangga. Untuk memberikan kesan ‘ribut’ terlihat dua orang anak yang sedang bermain bola di dekat tangga yang dilalui Bari dan Alisha. Gambaran mengenai keluarga biasa tidak tampak (selain ibu dan anak yang bermain bola), yang terlihat hanya sebuah kamar (dengan pintu tertutup) yang memelihara tanaman hingga lantai tersebut tampak lebih terawat dan lebih bersih dari lantai sebelumnya.

Kamera beralih pada adegan Bari dan Alisha yang berdiri tepat di depan sebuah kamar yang pintunya terbuka dengan kamera yang terfokus pada seorang waria yang sedang berdandan (Bari dan Alisha sebagai background dan waria sebagai foreground). “Lantai tiga dihuni sama banci-banci, senin sampai kamis mereka laki-laki, weekend mereka jadi perempuan mereka tinggal satu kamar rame-rame....” (menit 42:50). Untuk memperlihatkan “tinggal rame-rame”, kamera menyorot dua waria lainnya yang sedang merapihkan diri. Set kamar ditampilkan simpel, hanya meja yang penuh dengan alat rias, kaca besar yang di kanan, kiri, dan bawahnya terdapat lampu untuk memudahkan mereka melihat apakah riasan yang digunakan sudah rapih, serta rumbai-rumbai yang biasanya diasosiasikan dengan waria, tergantung di samping kaca. 
Gambar 4. Lantai 3 tempat hidup banci-banci
Lewat penjelasan Bari kepada Alisha, penonton dapat mengetahui karakteristik penguhi dan gambaran mengenai rumah susun tersebut. Misalnya lantai satu adalah pusat bisnis dari rumah susun, mendengar kalimat tersebut tentu kita akan membayangkan ramai dan hiruk pikuknya lantai satu. Sayangnya, keberagaman bisnis tersebut kurang tampak karena yang diperlihatkan hanya seorang bapak yang sedang memasak makanan (warung makan). Sedang bisnis lainnya, hanya ditampaknya lewat papan-papan nama usaha yang tidak terbaca, kecuali penjual dvd dan vcd bajakan dan mainan. Selain itu, suasana ramai yang seharusnya terasa di sebuah pusat bisnis, tampak hambar karena hanya diwakili oleh beberapa figuran yang lalu lalang.

“Lantai dua dihuni sama keluarga biasa, paling ribut tuh lantai dua karena banyak anak-anak di sini” (menit ke 42:24). Lalu terlihat gambar di tangga, Bari dan Alisha bertemu dengan seorang ibu yang menggendong anaknya menuruni tangga. Untuk memberikan kesan ‘ribut’ terlihat dua orang anak yang sedang bermain bola di dekat tangga yang dilalui Bari dan Alisha. Gambaran mengenai keluarga biasa tidak tampak (selain ibu dan anak yang bermain bola), yang terlihat hanya sebuah kamar (dengan pintu tertutup) yang memelihara tanaman hingga lantai tersebut tampak lebih terawat dan lebih bersih dari lantai sebelumnya.

Kamera beralih pada adegan Bari dan Alisha yang berdiri tepat di depan sebuah kamar yang pintunya terbuka dengan kamera yang terfokus pada seorang waria yang sedang berdandan (Bari dan Alisha sebagai background dan waria sebagai foreground). “Lantai tiga dihuni sama banci-banci, senin sampai kamis mereka laki-laki, weekend mereka jadi perempuan mereka tinggal satu kamar rame-rame....” (menit 42:50). Untuk memperlihatkan “tinggal rame-rame”, kamera menyorot dua waria lainnya yang sedang merapihkan diri. Set kamar ditampilkan simpel, hanya meja yang penuh dengan alat rias, kaca besar yang di kanan, kiri, dan bawahnya terdapat lampu untuk memudahkan mereka melihat apakah riasan yang digunakan sudah rapih, serta rumbai-rumbai yang biasanya diasosiasikan dengan waria, tergantung di samping kaca.

Lantai empat yang kebanyakan di huni oleh lonte, digambarkan dengan long shot camera, sehingga penonton dapat melihat wanita-wanita yang lalu lalang ( termasuk dengan lelaki) dan kasur-kasur yang sedang dijemur. Lantai lima, yang merupakan sarangnya bandar, diwakili oleh seseorang yang sedang berjalan santai menikmati cimeng (ganja). Lorong di lantai lima itupun tampak sepi dan bersih. Lantai enam, dihuni oleh orang kantor dan mahasiswa, sehingga menurut Bari wajar jika lebih bersih dan sepi dibandingkan dengan lantai yang lain. Sayangnya gambar tidak menampilkan lantai enam tempat Bari dan Alisha ini tinggal. Untuk menggambarkan lantai tujuh yang kebanyakan dihuni oleh homo, tepat di depan tangga lantai tujuh terdapat dua orang lelaki yang ngobrol dengan mesra. Sedangkan untuk menggambarkan lantai delapan yang dihuni oleh istri simpanan, kamera mengambil gambar sebuah kamar dengan lelaki paruh baya yang mengetuk pintu kemudian tampak dari dalam wanita muda yang menyambutnya manja. Gambar yang diambil dari celah dua buah tiang besar dengan kamera long shot tersebut, seakan-akan menunjukan bahwa gambar diambil secara diam-diam (mengintip). Hal itu sesuai dengan penjelasan Bari bahwa mereka tinggal di atas agar tidak dilewati oleh yang lain. Sedangkan lantai sembilan, tidak ditampakkan Mouly karena menurut Bari lantai tersebut tidak dihuni manusia melainkan orang yang mati gentayangan karena rumahnya dibakar dan tanahnya digunakan untuk membangun rumah susun. Latar persitiwa tersebut, menjadi penting karena salah satu kisah dalam novel Bari adalah seorang lelaki tua korban pembakaran rumah, yang diberi kompensasi sebuah ruang sepit di rumah susun hingga sebagai bentuk protes, selama lima tahun lelaki tersebut bertahan di depan rumahnya.
Gambar 5. Lantai 5 sarang bandar cimeng tampak bersih, rapih, dan sepi

Simpulan
Rumah susun dibangun pemerintah untuk mengatasi problem perumahan warga kota. Sejak orde baru berkuasa, Jakarta menyaksikan tumbuhnya pemukiman (perkampungan) dengan ciri padat, kumuh, jorok, tidak mengikuti aturan resmi dengan kelas sosial yang umumnya miskin. Untuk penduduk seperti inilah, orde baru membangun rumah susun, sehingga tidak heran jika wacana yang berkembang sejak awal, rumah susun adalah rumah orang miskin. Namun, menurut Darrundono (dikutip atas Kusuma), lebih dari 90% penghuni rumah susun ternyata golongan menengah. Kelas menengah itu pula yang ditampilkan pada film Fiksi, Alisha si anak jendral yang menyamar sebagai pencari kerja, Renta mahasiswa psikologi yang hobi baca buku, Bari yang mau bekerja apa saja dan sibuk berkutat dengan komputer untuk menyelesaikan novelnya, dan Dani mahasiswa desain produk.
Setting dalam film Fiksi dibagi menjadi dua, rumah mewah Alisha dan rumah susun. Pada lima menit pertama penonton dapat melihat tokoh Alisha yang terpenjara dalam rumah mewahnya lewat setting dan dekor yang dipenuhi barang khas kelas atas serta didukung oleh sonor sebagai penguat latar suasana sepi dan ‘dingin’nya keluarga Alisha yang tanpak kontras dengan kemewahan rumahnya. Di bagian ini, Mouly cukup sukses membangun setting dan membuat penonton semakin memahami narasi film.
Pada lima menit berikutnya ( menit ke-42 s/d. Menit ke-47), Mouly tidak lagi detail menampilkan dekor atau memakai bunyi-bunyian sebagai penguat latar (tempat dan suasana). Penonton seperti halnya Alisha hanya melihat gambaran rumah susun lewat free tour yang di pandu Bari. Karena terlalu asyik bercerita, Mouly lupa bahwa kekuatan sebuah film adalah gambar yang tampilkan kepada penonton. Gambar mampu bercerita lebih banyak dan lebih hidup dari kata-kata, itulah mengapa free tour yang dilakukan Alisha dan Bari menjadi ‘kering’ karena rumah susun yang ditampilkan Mouly jauh dari kenyataan; terlalu bersih, terlalu rapih, terlalu sepi dan tanpa interaksi. Dengan kata lain, setting yang ditampilkan dalam film Fiksi gagal menghadirkan rumah susun dan memperkuat narasi film. Mungkin, hal tersebut menjadi salah satu alasan yang membuat film Fiksi tidak memenangi penghargaan tata artistik terbaik ataupun sinematografis terbaik FFI 2008.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis Dongeng

"Yang Fana adalah Waktu, Kita Abadi"

Lindungi Hak Kami sebagai Konsumen dan Nasabah Bank! (Mempertanyakan SOP transaksi perbankan di Indomaret)