FILM FIKSI: Pemahaman terhadap Genre Drama-Crime Thriller

Erwan, Maria Ulfa, Novi Diah & Yoyok W.S.
Tugas Mata kuliah Pendekatan dan Teori Sinema
2009

Pendahuluan
Pemahaman mengenai genre film dapat dilihat melalui FIKSI (2008) dengan tokoh utama perempuan sebagai pelaku beberapa aksi pembunuhan. Film FIKSI merupakan film Indonesia karya sutradara Mouldy Surya.[1] Film ini lebih banyak menceritakan kehidupan, perasaan dan tindakan tokoh utama yang bernama Alisha. Alisha merupakan gadis yang tenang, pendiam, tertutup, “dingin” dan juga kejam karena pembunuhan yang dilakukannya. Dengan kata lain Alisha dapat juga disebut psikopat, seperti yang dilabelkan oleh film ini dalam posternya (lihat poster ke-2). Sikap psikopat Alisha ini dapat dilihat dari sikap dan tindakannya yang muncul dalam beberapa adegan dalam film ini terutama terkait dengan pembunuhan yang dilakukannya. Pada akhirnya setelah ia melakukan “misi” pembunuhannya “atas nama cinta”, ia bunuh diri dengan melompat dari lantai sembilan rumah susun.


Sebelum Alisha melakukan sejumlah aksi pembunuhan tersebut, film ini dimulai dengan gambaran Alisha sebagai seorang gadis berusia 20an yang tinggal di rumah besar dan mewah bersama dengan pengurus rumah tangga dan supir sekaligus pengawalnya. Ayahnya merupakan orang kaya yang menikah lagi setelah istrinya yang pertama—yang merupakan ibu kandung Alisha—meninggal. Ayahnya jarang berada bersama Alisha karena ia sibuk dengan pekerjaannya dan dengan istri barunya. Alisha sebagai anak tunggal memiliki masalah dengan keluarga dan masa lalunya sehingga ia hidup dalam kesepian, kesendirian dan kebencian terhadap ayahnya. Ayahnya adalah sebagai orang kaya sangat mengekang (over protected) Alisha. Sebelum kematian istrinya, ayah Alisha selingkuh dengan perempuan lain. Sedangkan ibunya meninggal sejak Alisha masih kecil ketika ia sedang hamil dan telah mengetahui perselingkuhan suaminya.
Kehidupan Alisha yang “sunyi, sepi dan sendiri” kemudian berubah ketika ia mengenal Bari. Bari merupakan seorang penulis fiksi yang juga kerja ‘serabutan’. Ia pernah bekerja di rumah Alisha sebagai pembersih kolam renang untuk beberapa hari. Bari juga digambarkan sebagai seorang pemuda bertubuh gagah dan suka mengambil pajangan beberapa kelinci milik Alisha. Dirumahnya Alisha melihat Bari dan mulai menyukainya. Perasaan suka dan penasarannya terhadap Bari membawanya pada petualangan baru dalam hidupnya yaitu: pencarian keberadaan Bari dan pilihannya untuk kabur meninggalkan rumahnya, kemudian tinggal di rumah susun bersebelahan dengan dengan kamar Bari. Di rumah susun inilah kisah cinta Alisha terhadap Bari berkembang. Walaupun Alisha tahu bahwa Bari sudah memiliki kekasih, ia tetap berusaha mendapatkan perhatian dan merebut cinta Bari dengan berbagai cara. Kemudian terjadilah tiga pembunuhan yang dilakukan Alisha.
Secara keseluruhan dari narasi film tersebut, film FIKSI dapat di kategorikan ke dalam satu atau beberapa jenis film (genre) tertentu. Oleh karena itu, melalui tulisan ini penulis menganalisis film FIKSI dengan tinjauan genre. Hal ini untuk menjelaskan genre dan sub-genre film FIKSI berdasarkan plot dan narasi film secara keseluruhan, dan khususnya pada beberapa adegan yang mendukung analisis. 
Pemahaman Genre Film
            Film FIKSI seperti halnya film lain dapat diklasifikasikan ke dalam jenis atau tipe film tertentu yang di sebut genre. Kata ‘genre’ yang berasal dari bahsa Perancis berarti ‘jenis’ (kind) atau ‘tipe’ (type) (Bordwell dan Thomson, 2008: 318). Wellek dan Warren dalam pembahasannya mengenai teori kesusastraan menjelaskan pendekatan genre ini dalam suatu karya atau di sebut juga teori genre. Teori genre, menurutnya yang mengutip dari A. Thibaudet (Pshysiologie de la critique, 1930), adalah “suatu prinsip keteraturan: sastra dan sejarah sastra diklasifikasikan tidak berdasarkan waktu atau tempat (periode atau pembagian sastra nasional), tetapi berdasarkan tipe struktur atau susunan sastra tertentu (Wellek dan Warren, 1990: 299). Dengan kata lain, dalam konteks film, genre diklasifikasikan berdasarkan tipe struktur atau susunan film. 
Bordwell dan Thomson juga menjelaskan bahwa dalam konteks film, genre merupakan suatu cara mudah dalam mengkategorikan suatu film. Pengkategorian genre ini digunakan untuk menggambarkan dan menganalisis film, tapi bukan untuk mengevalusi film. Menurut mereka ada sejumlah cara dalam mengklasifikasikan genre suatu film, diantaranya yaitu dengan melihat subjek, tema, musik, pola alur (plot pattern), efek emosi (emotional effect), dan teknik film (2008: 319). Dengan demikian, dalam menganalisis suatu film tidak bisa dilepaskan dari tinjauan genre film tersebut. Dan dalam menganalisis film FIKSI, tema dan efek emosi (emotional effect) digunakan untuk menjelaskan genre film tersebut, seperti pembahasan di bawah ini.
Pemahaman Genre Crime-Thriller terhadap Film FIKSI
Genre yang memayungi film FIKSI secara keseluruhan adalah thriller atau lebih khususnya crime-thriller. Menurut Bordwell dan Thomson, genre crime-thriller yaitu cerita tentang pembunuhan yang terletak di tengah alur narasi thriller dan biasanya melibatkan tiga tokoh yaitu pelanggar hukum, penegak hukum dan korban. Dan biasanya narasi fokus pada salah satu tokoh ini (2008: 322). Genre ini biasanya bertujuan menggetar (thrill), memberikan kejutan, menggonjang, dan menakutkan. Aspek yang mendomiasi genre ini yaitu ketegangan (suspense) dan kejutan (surprise). Selain itu, efeknya bergantung pada tokoh-tokoh yang terlibat dalam alur (plot) dan narasi (2008: 323). Dengan demikian, berdasarkan cara mengklasifikasikan genre melalui tema dan definisi crime-thriller, maka pengklasifikasian genre crime-thriller pada film FIKSI ini karena beberapa aspek.
Pertama, salah satu tema utama film ini yaitu mengenai pembunuhan yang dilakukan oleh Alisha. Tiga pembunuhan terhadap tiga korban dilakukannya seorang diri di rumah susun. Alisha dalam hal ini telah melakukan pelanggaran hukum yaitu membunuh baik secara langsung maupun tidak langsung atau mengakibatkan terjadinya konflik pada para korban yang berujung pada pembunuhan. Sebagai pelanggar hukum ia menjadi fokus utama plot dan narasi film ini. Dan fokus lainnya yaitu korban pembunuhan yaitu tiga orang yang dibunuh yang merupakan penghuni rumah susun dengan beragam masalah dalam hidupnya. Tiga korban pembunuhan ini adalah objek tulisan Bari yang dijadikan tokoh-tokoh dalam ceritanya.
Alasan pembunuhannya dapat dibilang “aneh” karena ia melakukan hal tersebut bukan karena dendam pribadi atau karena terlibat konflik dengan para korban. Tetapi karena, Alisha mengetahui bahwa mereka adalah objek tulisan Bari yang belum selesai. Karena rasa cintanya pada Bari, ia ingin mewujudkan impian Bari sebagai penulis dengan “membantu” menyelesaikan kisah tiga orang tersebut dalam kehidupan nyata. Hal ini dilakukannya dengan membunuh mereka. Ia melakukan ini semua tanpa sepengetahuan Bari maupun orang lain. Dengan membunuh mereka, menurut Alisha, Bari dapat dengan cepat menyelesaikan “akhir cerita” tulisannya. Pembunuhan itu juga dilakukannya dengan ekspresi tenang, tidak gugup, dan tidak ada perasaan berasalah. Ekspresi ini dapat dilihat misalnya ketika ia merencanakan, membuat alibi, dan melakukan pembunuhan. Hal ini juga ditunjukannya ketika Bari bertanya pada Alisha mengenai pembunuhan karena Bari mulai mencurigai keterlibatan Alisha.
Selain membunuh, tindak kejahatan yang lain yaitu menyiksa dan menyekap kekasih Bari bernama Renta. Renta diikat tangan dan mulutnya di sebuah ruangan di lantai sembilan rumah susun yang tidak berpenghuni selama beberapa hari. Sebelumnya ia dipukul oleh Alisha hingga pingsan. Kejahatan yang lain yaitu ia merekayasa kepergian Renta dengan membohongi Bari sehingga bari menduga Renta pergi meninggalkannya. Sebelumnya Renta telah mengetahui perbuatan Bari yang tidur dengan Alisha. Inilah beberapa caranya untuk merebut cinta Bari dari Renta. Dengan demikian, dari tinjauan genre crime-thriller, film FIKSI tidak hanya menonjolkan tema pembunuhan dan kejahatan yang dilakukan Alisha, tetapi juga sosok dan kehidupan Alisha sebagai pembunuh dan para korbannya.
Kedua, emotional effect  yang mendominasi film ini yaitu penyajian tokoh utama dan narasi mengenai pembunuhan yang dilakukan oleh Alisha sebagai psikopat memberikan efek thrill atau menggetarkan, memberikan kejutan, menakutkan dan rasa cemas. Selain itu efek yang lain adalah dari kesatuan plot dan narasi film ini adalah keingintahuan atas apa yang akan terjadi (curiosity) dan ketegangan atas apa yang terjadi (suspense). Efek-efek ini muncul karena rangkaian tindak kejahatan yaitu perencanaan pembunuhan, tindakan pembunuhan dan penyiksaan serta penyekapan yang dilakukan oleh Alisha seorang diri sebagai seorang gadis kaya, cantik dan manis.
Ketegangan, kejutan, keingintahuan, rasa cemas dan takut bercampur dan mencapai klimaks terutama ketika Alisha merencanakan dan melakukan pembunuhan satu persatu terhadap korbannya. Alisa mengetahui kehidupan dan masalah para korban dari draft tulisan Bari tentang mereka. Cara Alisha dalam merencanakan dan membunuh para korbannya bervariasi disesuaikan dengan kondisi dan masalah para korban. Korban pertama yaitu seorang laki-laki meninggal dibunuh oleh istrinya karena ia diberitahu oleh Alisha tentang hubungan homoseksual antara anaknya dan suaminya. Korban kedua yaitu seorang lelaki tua meninggal karena di dorong oleh Alisha dari balkon di lantai tujuh rumah susun. Dan korban yang terakhir bunuh diri karena kucing-kucing peliharaannya—yang dianggapnya sebagai bagian dari keluarganya—di buang oleh Alisha ketempat sampah hingga mati. Cara-cara membunuhnya ini yang juga dilakukan dengan “santai dan dingin tanpa ekspresi” mendukung suasana tegang.  
Ketakukan dan kejutan dari narasi film itu ditampilkan bukan hanya dari aksi pembunuhan sebagai salah satu cara dalam “mengekspresikan cinta” Alisha kepada Bari, tetapi juga dari sosok gadis muda belia yang manis ditampilkan sebagai sosok pembunuh tanpa perasaan bersalah. Selain itu, kejutan lain terlihat ketika Alisha melakukan bunuh diri dengan melompat dari lantai sembilan rumah susun.
Secara singkat, rangkaian adegan yang menunjukan tindak kejahatan Alisha dan dari sikap Alisha yang “dingin”, tanpa ekspresi, dan tanpa rasa bersalah rasa membangun emotional effects penonton khusnya keingintahuan, ketegangan, kejutan, kecemasan,  dan ketakutan. dengan demikian, dengan analisis di atas maka genre crime-thriller patut dilekatkan pada film FIKSI.
Sub-Genre Film FIKSI
            Genre utama film FIKSI yaitu crime-thriller dalam film ini juga bercampur dengan genre lain. Berdasarkan plot dan narasi film tersebut, genre lain yang  dapat diklasifikasikan ke dalam film ini yaitu drama. Hal ini karena narasi filmnya serius maksudnya serius dalam membangun serta menggambarkan emosi para tokoh sesuai dengan perannya. Walaupun lebih fokus pada Alisha sebagai tokoh utama, film ini juga bercerita tentang sejumlah tokoh yang berhubungan dengan Alisha. Tokoh-tokoh ini berinteraksi baik dengan Alisha maupun dengan tokoh lain. Mereka juga berkembang maksudnya ada perubahan yang terjadi pada tokoh-tokoh. Misalnya ada yang meninggal karena di bunuh atau bunuh diri, ada perasaan cinta yang tumbuh misalnya rasa cinta Alisha pada Bari, ada hubungan yang berjalan maju di akhir cerita seperti hubungan Bari dan Renta. Film ini juga menggambarkan setting tempat yang spesifik yaitu di rumah susun dengan kisah kehidupan sejumlah penghuni rumah susun. Selain itu, fokus film ini utamanya yaitu pada narasi tokoh utama dan tidak fokus pada special-effects, comedy, atau action. Sehingga genre drama dapat dikategorikan sebagai salah satu sub-genre film ini.
            Aspek lain yang dapat dilekatkan pada pembahasan genre film ini yaitu dari segi isi narasi itu sendiri yaitu tema pembunuhan yang dilakukan oleh psikopat dengan motif dan cara pembunuhan yang “aneh”. Berdasarkan dari penyajian film terhadap tokoh Alisha dengan permasalahan keluarga dan masa lalunya dan analisis tokoh Alisha khususnya pada rasa cintanya pada seorang lelaki dan sikap dan tindakan membunuhnya, maka film ini juga dapat dikatakan sebagai film psikologis. Dengan demikian analisis psikoanalisis dapat digunakan dapat melihat film ini lebih lanjut.

Simpulan
Film FIKSI yang merupakan film tentang seorang gadis psikopat yang membunuh tiga orang berdasarkan “rasa cinta” kepada seorang laki-laki, dikemas dalam genre yang bercampur. Genre utama film ini yaitu thriller sebagai genre yang memayungi plot dan narasi film secara keseluruhan. Sedangkan crime-thriller atau drama-crime thriller dengan nuansa psikologis merupakan sub-genre dari genre thriller itu sendiri. Dengan demikian, sebuah film dapat memiliki lebih dari satu genre yang saling bercampur dan mendukung.
Seperti disebutkan sebelumnya, pembahasan suatu film tidak bisa dilepaskan dengan pembahasan mengenai genre. Hal ini diantaranya juga karena genre menentukan audiens (penonton) film. Dalam hal ini dari genre tersebut, audiens film FIKSI dapat ditentukan atau diketahui yaitu penonton dewasa. Hal ini karena adanya adegan-adegan kejahatan dan pembunuhan dan juga karena film bernuansa psikologis ini mungkin kurang dapat dinikmati oleh kalangan anak-anak. (***)



[1] Film FIKSI tayang pertama kali di bioskop di Indonesia pada tahun 2008. Skenario film ditulis oleh Mouly Surya dan Joko Anwar. Para pemainnya yaitu Ladya Cheryl (Alisha), Donny Alamsyah (Bari), Kinaryosih (Renta), Ibu Tuti (Rina Hasyim).  Film ini masuk 10 nominasi dari 12 nominasi dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2008. Empat nominasi mendapat empat penghargaan (piala Citra) yaitu dengan kategori: Sutradara Terbaik, Film Cerita Bioskop Terbaik, Skenario Cerita Asli Terbaik/ Penulis Skenario Terbaik, dan Tata Musik Terbaik/ Penata Musik Terbaik.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis Dongeng

"Yang Fana adalah Waktu, Kita Abadi"

Lindungi Hak Kami sebagai Konsumen dan Nasabah Bank! (Mempertanyakan SOP transaksi perbankan di Indomaret)