JIKA SENJA NANTI KAU KEMBALI

Rasa itu mengucur deras. Seperti sumur zam-zam yang tak akan habisnya. Cinta, luka, semua kau bungkus dalam paket yang paling menawan. Hingga aku terdiam. Larut dalam kisah terindah juga menyakitkan yang kita mainkan.    

            Aku menunggumu pada deretan bangku panjang di stasiun Jatinegara yang kumuh itu. Katamu senja ini kau akan kembali. Membawa berjuta-juta rindu yang kau tabung untukku. Kau akan memelukku erat. Memberikan ciuman paling panjang dalam sejarah kita. Kau juga bilang, senja ini setelah kau kembali, kau tak akan meninggalkanku lagi. Karena katamu, aku adalah separuh jiwamu. Kanan atas kirimu. Hingga tanpa ku, kau tak akan mampu bertahan.
Senja ini, aku menunggumu di stasiun Jatinegara yang kumuh itu. Berharap-harap cemas, setiap kereta berhenti dihadapanku. Mencari sosokmu yang kutahu pasti, akan mudah kukenali. Kau sengaja tak memberitahuku kereta yang kau naiki. Katamu itu kejutan untukku. Hingga setiap kereta berhenti senja itu, aku pasti akan berdiri. Mencari sosokmu di kerumunan orang yang lelah setelah pergi seharian. Tapi tak juga kutemui sosokmu di sana. Maka aku terus menunggumu. Pada satu senja di stasiun Jatinegara yang kumuh itu kasihku.  
            Senja itu menjadi senja terpanjang buatku. Warna indah jingganya tak lagi mampu kunikmanti diantara bau pesing dan berisik bunyi kereta di stasiun ini. Tapi aku tetap bertahan. Duduk dideretan bangku panjang stasiun ini. Sama seperti yang lain. Menunggu kedatangan kereta, bersiap pergi atau sekedar menjemput orang terkasih ataupun kerabat dekat.
          Waktu terasa berputar sangat lambat. Hingga aku dapat menghitung, berapa kali pedagang minuman itu lalu lalang dihadapanku. Dan kau masih juga belum tampak dihadapanku kasihku. Sedang wajahku mulai kuyu. Pakaian yang melekat pas di tubuhku, mulai terlihat lusuh. Senja itu, aku menunggumu sampai malam menjemputku. Membawaku kembali hingga sunyi lagi-lagi menemani.
*****
            “Aku harus pergi. Di kota ini, aku tak bisa menghidupi diriku. Apalagi nanti untuk menghidupi kamu Ka.” Suara mu yang berat, mengalun halus di telingaku.
            “Apa kamu sudah yakin? Apa di sana nanti kau pasti mendapatkan uang yang banyak Mas”
            “Paling tidak aku bisa mencari ringgit demi ringgit yang lebih bernilai dari rupiah yang makin tak berarti”
            “Tapi bagaimana nanti kalau ada petugas imigrasi.”
            “Aku akan hati-hati. Doakan saja, aku pasti akan kembali untukmu”
            Begitulah, kamu akhirnya memutuskan untuk menjadi perantau keluar dari pulau ini. Kamu lebih memilih mengais rejeki di seberang. Dari pada susah di negeri sendiri. Kamu membuatku bingung, limbung. Katamu selepas kau kembali, kita akan menikah. Mengikat janji sehidup semati.
            Dalam surat-suratmu, kau selalu mengatakan betapa kau sangat merindukan hadirku. Apalagi saat bulan suci. Kerinduan yang kau tabung untukku, semakin berbunga banyak. Kartu ucapan dan kiriman uang darimu datang seiring berlalunya bulan suci.
            Surat darimu kuterima siang itu. Dalam suratmu yang hanya satu halaman, kau katakan bahwa ku akan kembali pada satu senja. Lewat Stasiun Jatinegara, kau memintaku menunggu. Kau bilang, kau akan naik kapal laut menuju Surabaya singgah sebentar di rumah kerabatmu. Baru kemudian melanjutkan perjalanan ke Jakarta, naik kereta yang akan tiba saat senja di Stasiun Jatinegara.
            Saat itu hatiku melayang terbang. Suratmu kudekap dan kuciumi berkali-kali. Aku menari-nari dihadapan cermin panjang di kamarku. Menyanyikan lagu nolstagia kita. Ya... aku seperti mendapat lotre yang mampu merubah hidupku. Padahal yang kuterima hanya surat singkatmu. Surat yang tak lebih dari satu halaman yang mengabarkan bahwa kau akan kembali senja itu.
            Dan beberapa hari setelahnya, pakaian-pakaianmu tiba di rumahku. Juga beberapa barang lainnya. Paket dan pesan singkat yang mengingatkanku untuk menunggumu senja itu di stasiun Jatinegara.  
            Aku bersiap untuk menemui. Mandi dan luluran berjam-jam hanya untuk bertemu kamu kasihku. Memakai pakaian terbaik dan lipstik yang baru kubeli di pasar siang itu. Aku yakin, hari ini aku sudah berdandan paling cantik untukmu. Bukakah katamu setelah kau kembali, kau akan meminangku, memintaku menjadi pasangan hidupmu?
            Aku pun berangkat dengan rasa yang tak seperti biasa. Debar di dadaku semakin keras saja kurasa. Perjalanan dengan metromini kali ini jadi terasa sangat lama. Penuh dan panasnya, tak juga membuat sinar di wajahku meredup. Tapi saat tempat pertemuan kita terlihat, aku semakin yakin bahwa kau tak akan kembali.
            Aku duduk pada bangku panjang di stasiun Jatinegara yang kumuh itu. Menunggu kedatanganmu dalam deru kereta yang datang dan berlalu. Hari masih hampir senja saat bangku itu menjadi teman setia ku. Ada debar dan firasat aneh. Sebagai perempuan Jawa, aku sangat percaya akan pertanda. Percaya akan firasat. Hingga banyak yang mengatakan kalau aku mempunyai waskita. Ada apa denganmu kasihku...
            Hingga senja akhirnya tiba. Semilir angin dan daun-daun yang bergoyang, juga warna langit yang mulai kemerahan, adalah pertanda bahwa hari telah senja. Tapi kereta yang akan membawamu, tak juga tiba. Padahal aku mulai bosan menunggumu. Apalagi kau tak menyebutkan naik kereta apa saat menuju kemari. Kejutan, sebagai alasan tentu saja.
            Sampai malam datang dan mempersilakan senja untuk pulang. Bulan pun mulai malu-malu keluar. Mencoba lari dari awan yang mengejarnya perlahan. Begitulah, senja itu kau tak datang. Begitupun dengan kabar darimu. Senja itu di bangku panjang stasiun Jatinegera yang kumuh itu, aku menunggumu kasihku.
*****
            Itu senja tiga tahun yang lalu. Sampai sekarang kita tak juga bertemu. Sedang aku masih terus menunggumu. Berharap akan ada senja lain yang akan mengantar kedatanganmu. Tak ada perubahan yang berarti. Bangku di stasiun ini masih tetap panjang. Kamar mandinya pun masih kotor dan pesing. Juga dengan kereta yang datang. Bobrok dan penuh coret-coretan.   
            Aku pun menjadi akrab dengan tempat ini. Dengan bangku panjang dan para pedagang yang lalu lalang. Kabar darimu memang tak juga datang. Padahal baju dan barang yang kau kirimkan, belum juga kubongkar dari kardus yang mulai digerogoti tikus itu.
            Tiga tahun sudah aku menunggumu kasihku. Setiap senja di stasiun kereta Jatinegara. Wajahku tak lagi cantik kurasa. Pakaian yang kupakai sudah lusuh dan bau apak. Juga rambutku, lama juga rasanya kubiarkan rambut ini kusut masai karena tak pernah tersentuh sisir dan shampo.
            Tapi aku tak perduli. Aku akan terus menunggumu sampai batas usiaku. Biar saja orang-orang memandang kasihan kepadaku. Ataupun mereka menjauh saat tubuh kurusku menghampiri mereka.  
            “Lihat, kau tahu wanita itu? Sudah tiga tahun ia berada di stasiun ini. Diam dan selalu berdiri saat kereta datang”
            “Akh.. masa?”
            “Iya, kau kan baru disini. Setiap senja ia akan merapikan bajunya. Tersenyum pada setiap kereta yang lewat.”
            “Kau tahu kenapa?”
            “Katanya kekasihnya pergi dan menjanjikan kembali pada satu senja”
            “Jadi ini karena cinta? Gila”
            “Cinta memang dapat membuat orang gila. Sedeng. Nggak waras”
            “Hush.. kalo ngomong”
            “Lihat saja senja nanti. Kau pasti akan melihat dia merapikan pakaianya lalu tersenyum pada setiap kereta yang lewat”
            Gila. Aku tahu kedua poter itu menganggapku gila. Aku tidak gila. Tak ada yang gila karena cinta. Aku hanya sedang menunggu kasihku. Aku tahu ia akan kembali pada satu senja. Mungkin saja senja ini, ataupun lusa. Dasar! Aku tak akan gila karena Cinta.
*****
            Senja tiga tahun lalu di Surabaya. Kresna dengan rindu yang membara duduk pada bangku panjang di stasiun Pasar Turi. Khayalnya terbang pada gadisnya di Jakarta. Dalam diamnya, dalam pikirannya yang kosong. Pisau tajam, tertancap di lambungnya. Akh... nyeri, hanya itu yang bisa ia rasai. Darahnya mengucur deras. Ia dengar orang-orang berteriak disekelilingnya. Semua berputar. Pandangannya kabur. Kresna ingat gadisnya yang menunggu di Jakarta. Pandangannya kabur, lalu pekat.

 Headline koran senja, di kota setempat.
Kresna (25) Didapati tergeletak tak bernyawa di stasiun kereta Pasar Turi. Menurut saksi mata, ia menjadi korban perampokan yang akhir-akhir ini sangat meresahkan para pengguna kereta. Polisi yang datang masih belum dapat menangkap pelaku. Diduga, pelaku merupakan anggota sindikat besar perampok di Surabaya....       

Novi Diah Haryanti
8 Oktober 2005
Di publikasikan dalam antologi cerpen "Lebih Baik Aku Tak Masuk Surga" (2006)
                                                                                                 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis Dongeng

Lindungi Hak Kami sebagai Konsumen dan Nasabah Bank! (Mempertanyakan SOP transaksi perbankan di Indomaret)

"Yang Fana adalah Waktu, Kita Abadi"