Multikulturalisme dalam Novel Rojak

Novi Diah Haryanti
Paper singkat "Sastra dan Multikulturalisme"

Campur-campur ini saya,
Merayakan hari raya Melayu dan Cina,
Rupa-rupa campuran budaya ada,
Bersatu padu di Singapura.  (Basuki, 2004: 82)

Aneka Rasa Rojak ala Fira         
            Novel sebagai karya sastra, memberikan gambaran kepada kita tentang kompleksitas kehidupan manusia. Didalamnya, tokoh-tokoh saling berinteraksi, tokoh-tokoh saling bercerita, dan membangun kehidupannya sendiri dalam novel. Apa yang terjadi dalam novel ini tidak lantas menjadi dunia fiksi semata, namun karya tersebut merupakan representasi dari individu-individu dan masyarakat yang diceritakannya.  
            Melani Budianta (2007) melihat multikulturalisme sebagai upaya untuk menekankan pentingnya mengakui dan menghargai keragaman budaya. Selama ini, wacana publik tentang multikulturalisme sering kali melihat perbedaan ketimbang persamaan. Hal inilah yang kerap dipakai untuk memperuncing politik identitas dengan otentisitas (keaslian) etnis atau ras. Lebih lanjut Melani melihat hampir tidak ada satu wilayah pun yang terisolasi dari wilayah yang lain. Saling pengaruh, pinjam meminjam unsur budaya menjadi suatu proses yang hakiki dalam proses pembentukan budaya. Interaksi antar budaya inilah yang terlihat dalam novel Rojak (2004) karangan Fira Basuki. 

Novel Rojak memberikan gambaran tentang kompleksitas kehidupan kawin campur Jawa-Cina peranakan yang berlatar Singapura. Sebenarnya ini bukanlah kali pertama Fira membuat novel berlatar Singapura lengkap dengan kawin campurnya. Sudah ada Jendela-jendela (2001) yang menampilkan tokoh perempuan Jawa bernama June Larasati dengan laki-laki Tibet bernama Jigme Tshering. Novel Jendela merupakan bagian pertama dari trilogi Jendela-jendela (2001), Pintu (2002) dan Atap (2002) yang menampilkan gaya hidup moderen dan laku kehidupan Jawa para tokohnya.
Jika Jendela-jendela hanya bercerita tentang karakter manusia dari berbagai suku bangsa dan latarnya, rasa Rojak ini menjadi berbeda karena Fira mulai memasuki wilayah identitas dan melihatnya sebagai sebuah persoalan yang kompleks. Peliknya persoalan identitas itulah yang tidak diceritakan Fira dalam Jendela-jendela dan ditampilkannya dalam Rojak sejak bagian awal novel yang terlihat dalam kutipan berikut. 
     Lihatlah kami. Aku sungguh-sungguh Cina Singapura dan ia sungguh-sungguh Jawa Indonesia, sejawa-jawanya….
     Sabar Jan, Sabar! Cong rong bu po!  (Basuki, 2004: 11)

            Aku adalah Janice (Jan), sosok perempuan Cina Singapura yang menikah dengan Setyo Hadiningrat (Mas Set) yang tidak hanya Jawa tapi juga keturunan darah biru. Lebih jelas tentang asal-usul Janice, digambarkan lewat tokoh Ma, berikut ini.
    “Kamu adalah new blood, peranakan. Hasil hibrida. Keluarga Pa datang dari daerah selatan Sungai Min di Provinsi Fujian, Cina, tapi Ma peranakan Malaka dan kamu lahir serta dibesarkan di Singapura. Kamu lancar berbahasa Inggris, apalagi Singlish, tapi bisa mengerti bahasa Melayu dan tidak terlalu mengerti Hokkien. Tidak perduli 12 hari pesta pernikahan, karena kamu adalah orang modern yang mencari-cari akar dan jati diri. Tidak heran kamu tertarik pada suamimu yang tradisional karena dalam hati kamu ingin mengeluarkan ketradisionalanmu….” (Basuki, 2004: 30)

Hibriditas mengacu pada indentitas rasial etnik yang muncul dari perkawinan campur, atau produk budaya (karya seni, gaya hidup, busana, bahasa), yang menunjukan campuran genre atau unsur budaya yang berbeda (Budianta, 2007). Bahwa tidak ada suatu kebudayaan pun yang sepenuhnya asli dan murni coba disampaikan Fira lewat sosok Ma yang dengan bijak melihat identitas diri dan keluarganya.
Ma sendiri adalah  sosok hibrid yang berasal dari nenek Melayu dan kakek Cina, lewat perkataan Jun, kita dapat mengetahi bahwa sebenarnya Ma sedang mencari identitas (asal diri) peranakanya. Hal itulah yang membuat Ma tidak mempermasalahkan saat Jan memutuskan menikah dengan Mas Set. Sikap Ma terhadap kawin campur Jun, terlihat dari kutipan berikut.
     “We all rojak what? I rojak, you rojak, Singapore rojak. Mix-mix, Malay, China, Ang Mor, India. Aiya… never mind lah. As Long as you happy what? Not happy, can be roja also? What to do?” (kita semua seperti makan rojak, tercampur-campur bukan? Saya rojak, kamu rojak, seluruh negara Singapura hasil perpaduan budaya. Terjadi percampuran budaya Melayu, Cina, kulit putih, India. Sudah tidak apa-apa. Yang penting kamu bahagia bukan? Jika tidak bahagia akan menjadi rojak, kacau balau? Kalau sudah begitu bagaimana) (Basuki, 2004: 17).

Gambaran tentang masyarakat Singapuran pada tahun 1990-an diungkapkan Temney via Hefner (2004), yang melihat masyakarat Singapura saat itu didominasi oleh orang-orang keturunan Cina (77%), Melayu (14,1%) dan India (7,1%). Keragaman kultur di Singapura tersebut menurut Chua (2004), sudah terjadi sejak Singapura menjadi pos perdagangan pada 1819. Negara kecil ini telah memikat para pedagang dari berbagai belahan Asia. Populasi yang sudah sejak awal multienis atau multiras, kerap disebut plural furnivallian. Ada pembagian ekomoni yang mengikuti garis dan kesamaan fisik ras dan secara spasial komunitas-komunitas etnis ini hidup terisolir satu sama lain dalam kantong-kantong mereka sendiri. Pertumbuhan ekomoni di Singapura pada akhirnya memunculkan masyarakat yang terkotak-kotak secara sosial, ekonomi, kultural, dan individualisme.
Berbeda dengan sosok Ma yang multikultur, ibu mertua Jan adalah perempuan Jawa yang menganggap penting persoalan identitas, siapa dan darimana (dari kelas mana) kamu berasal. Hal tersebut membuat hubungan antara mertua dan menantu ini kerap bermasalah. Sunami adalah ibu mertua Jan yang awalnya seorang model, kepriyayianya didapat setelah menikah dengan Dhimas Hadiningrat. Maka, jadilah Nami perempuan priyayi, ‘raja kecil’ yang hidup dalam kemewahan dan kerap memerintah pada pembantu-pembantunya. Sikapnya ini bahkan tidak berubah saat keluarga Hadiningrat, bangkrut pascakematian suaminya yang ternyata, mewarisi banyak hutang.   
Untuk mempertajam perbedaan tokoh ibu dan Jan, Fira sengaja memperlihatkan kebiasaan keseharian ibu mertua ang memakai jarik, berbicara dalam bahasa Jawa, hanya mau makan-makanan yang biasa dimakannya –menjadi cukup lucu ketika sang mertua tak mau makan kangkung karena menurutnya kangkung adalah makanan kambing- , dan sikapnya yang terbiasa dilayani seperti saat dirinya masih menjadi priyayi dengan harta kekayaannya. Tentu saja, ciri ‘keturunan cina’ pun diperlihatkan Fira lewat, kebiasaan makan Jan dengan sumpit, memasang foto keluarga yang telah meninggal, memiliki toko yang menjual benda-benda peranakan, memegang falsafah Yin dan Yang, serta kegemaran mereka dalam berpantun dan bernyanyi dengan bahasa cina. Kedua-duanya saling menunjukan identitas budanya masing-masing. Sedangkan dalam hal berumahtangga, Nami terus saja mengkritik dan menasehati Jan bagaimana ‘seharusnya’ menjadi istri. Pandangan Nami tersebut terlihat dari kutipan berikut.
     “wis to beda. Nek wong Jawa Wedhok, urip matine kanggo bojone, anake, ngangkat derajat bojo lan keluargane, utamane bekti karo wong tuwa” (sudah pasti beda. Perempuan Jawa hidup-matinya cuma untuk suami, anak, menjunjung tinggi nama suami dan keluarganya, terutama berbakti kepada orang tua), (Basuki, 2004: 13).

            Tidak hanya bertarung di simbol keseharian, bahasa sebagai medium kekuasaan, menjadi wilayah yang coba dimasuki oleh ibu (Nami). Bahasa Jawa yang diajarkan nenek pada cucunya lewat tembang Jawa agar cucunya lebih Jawa ketimbang Cina, membuat Jan ikut-ikutan mencekoki Boy dan Mei-Mei dengan lagu-lagu berbahasa Cina, untuk menyeimbangi proses Jawanisasi tersebut. Tidak hanya lewat lagu, Nami pun memanggil cucunya dengan nama yang lebih terdengar Jawa ketimbang Cina, yaitu Bagus dan Meita (sedang Jan memanggil anaknya, Boy dan Mei-Mei).
Apa yang dilakukan oleh Jan dan mertunya membuktikan pendapat Hall, tentang identitas yang selalu berproses dan dibangun dalam – bukan representasi, serta merupakan suatu atribut identifikasi yang menunjukan bagaimana kita diposisiskan dan memposisikan diri dalam masyarakat. Proses ‘pembangunan’ identitas yang dilakukan Jan dan Mertuanya terhadap Mei-Mei terlihat dari kutipan berikut ini.
     Mei-Mei kuajari lagu-lagu Cina, agar ia menyadari tubnya dialiri darah ini pula. Sering kudengar Ibu menyanyikan dan mengajari Mei-Mei lagu-lagu Jawa. Aku berusaha mengimbangi aksinya. (Basuki, 2004: 68) 

Persoalan Multikulturalisme ala Fira
            Sebagai sebuah novel yang mencoba bercerita tentang isu-isu multikultural, Fira tidak hanya menampilkan individu priyayi Jawa dan Cina-Peranakan. Untuk menggambarkan Singapura yang merupakan tempat bertemunya berbagai kebudayaan, Fira membuat tokoh Suipah si pembantu yang berasal dari Cepu. Lalu ada pula Janice Wong dan keluarganya yang merupakan campuran Melayu-Cina, menggunakan bahasa Melayu, Singlish dengan dialek Hokkien dan sedikit Mandarin. Ada juga Eric Tan, pria Cina bertubuh tinggi, serta tokoh Raja yang berasal dari Tamil-India.  
Tokoh-tokoh itu hadir dengan permasalahannya sendiri, diskriminasi dalam dunia kerja, kekerasan terhadap pembantu rumah tangga, sampai isu perselingkuhan di dunia kerja. Tentu saja, persoalan identitas menjadi persoalan utama penggerak cerita yang oleh Fira dibalut dengan perselingkuhan yang dilakoni para tokohnya. 

     “We all rojak what? I rojak, you rojak, Singapore rojak. Mix-mix, Malay, China, Ang Mor, India….”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis Dongeng

Lindungi Hak Kami sebagai Konsumen dan Nasabah Bank! (Mempertanyakan SOP transaksi perbankan di Indomaret)

"Yang Fana adalah Waktu, Kita Abadi"