Armijn Pane dan Jerat Romantisisme*

 oleh Novi Diah Haryanti
Romantisme ala Armijn Pane
Seorang hamba seni yang sejati adalah hamba sukmanya. Selalu gelisah, tidak pernah tetap. Seperti alam yang selalu berganti. Alam adalah rahasia, selubung yang terbuka sedikit demi sedikit tapi akan memperlihatkan lapisan selubung yang lain. Ini adalah salah satu konsep pemikiran yang diusung oleh Armijn Pane tentang apa itu aliran romantisme yang menurutnya tak akan pernah mati.
Pujangga (penyair), adalah gambaran dari masyarakat yang ada. Segala macam perubahan yang terjadi di dalamnya akan terlihat dari sajak atau karangannya. Lain masyarakat lain pula seni yang berkembang. Begitu juga dengan waktu, lain waktu lain pula seni yang dihasilkan. Apalagi penduduk negeri ini hidup dalam masyarakat dualistik, yaitu pertemuan peradaban barat dan timur yang berlainan jenisnya. Maka terdapat kebimbangan terhadap karya sastra yang tercipta. Kebimbangan dalam bentuk, ritme dan pemilihan katra-kata.
Seorang pujangga yang sejati, adalah yang menulis sesuai dengan nuraninya.  Menuliskan kebimbangan, perjuangan dan keprihatinan terhadap bangsanya sekarang. Garamatika dan bahasa yang digunakan, tidak lagi berguna karena penulis lebih memilih bahasa yang sesuai dengan hatinya, bahasanya sendiri.
Pujangga baru dalam zaman perasaan ini, lebih mengutamakan lyrick dengan tidak sengaja. Bukan abdi seni yang mengutamakan seni untuk seni semata, tetapi abdi seni sebagai salah satu alat masyarakat yang mengabdikan diri kepada masyarakat. Perasaan dan pikiran yang keluar dari dalam pujangga itu akan membentuk dirinya sendiri.




Pengarang yang Suka Mematikan.  
            Emosi dan hasrat cinta yang tak terkendali nampaknya membuat para pengarang bernafsu untuk membunuh para tokoh pada yang terdapat dalam karangannya. Sebut saja Siti Nurbaya (Marah Roesli), Salah Asuhan (Abdoel Moeis), Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (HAMKA), Layar Terkembang (St. Takdir Alisjahbana) dan banyak cerita lain pada zamannya, yang masih berhubungan dengan konsep Romantisme.
            Semangat semua pengarang itu tidak ada bedanya dengan semangat romantik di eropa pada penutup abad ke 18 yang terus berpengaruh sampai abad ke 19.  Kesusastraan zaman baru sebagai kesusastraan zaman romantik ditimbulkan oleh semangat baru yang tidak suka akan kebiasaan yang kaku dan baku serta tidak dihidupkan oleh perasaan lagi.  Satu yang menjadi sifat semangat romantik itu adalah membesarkan pengaruh perasaan dan angan-angan. Dengan menimbulkan perasan itu, mereka hendak menghidupkan kesadaran dalam hati pembacanya. Bahwa yang berhubungan dengan adat, perkawinan paksa, perkawinan dengan orang dari daerah lain yang sering di munculkan dalam roman, patut di berantas karena menahan kemajuan bangsanya. Kesadaran itu dapat di timbulkan sehebat-hebatnya karena adanya perasaan sedih dan perasaan sedih itu dapat timbul dengan jalan mematikan orang yang baik hati, baik budi, dan tinggi cita-citanya dalam roman itu.        

Perkembangan Romantisme
            Popularitas romantisme berkembang seiring dengan kegemaran masyarakat membaca novel-novel gothic, novel yang berisi tetang citra seorang pejuang kemerdekaan atau kebebasan melawan segala konvensi dan otoritas yang mapan. Sastra yang merupakan produk awal dari produksi masal ini dipastikan mampu menjangkau kalangan luas. Pada saat itu definisi sastra yang berkembang adalah warisan dari romantisme yaitu menempatkan sastra sebagai karya imajiner, simbolik, dan perlawanan terhadap kebudayaan moderen yang sekuler yang prosaik.
            Romantisme di Indonesia sendiri, tumbuh subur pada masa pujangga baru, tahun 1933-1942. Penerimaan terhadap paham ini beiringan dengan Rasioanlisme, Naturalisme dan Realisme (sosialis). Berbagai pemikiran muncul karenanya, apalagi ketika Sjahrir mengemukakan teori postromantik dan menawarkan bahan realisme sosial yang bekerja dengan dinamika pikiran sebagai alternatif bagi romantisme pujangga baru yang masih berpegang pada perasaan. Chairil Anwar yang menolak konsep Romatisme, seniman Lekra menawarkan realisme sosialis,  atau Sutardji Calzoum Bachri yang memerdekakan kata dari jajahan makna adalah contoh contoh bagaimana romantisme coba ditepis. Tapi tetap mereka tidak bisa keluar dari jerat Romantisme secara menyeluruh, karena pada dasarnya Romantisme adalah paham Idealistis yang melihat dunia, kehidupan nyata manusia dan segala sesuatu yang berada dalam kesatuan yang seimbang dan harmonis. Romantisme juga menawarka bahasa yang menuju dirinya sendiri, yang non refensial, sebagai ganti bahasa denotatif yang instrumental dan refensial.  

Dari Dulu Sampai Sekarang...
            Mematikan tokoh dalam cerita, nampaknya sudah menjadi virus yang mewabah, kebiasaan ini tidak hanya dilakukan oleh pengarang beraliran romantisme saja. Bahkan  seorang realis seperti Pramoednya pun merasa perlu mematikan tokoh dalam Tetraloginya (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca). Kesadaran yang ingin ditimbulkan di hati pembacanya dengan cara membuat kesedihan yang sehebat-hebatnya, membuat pengarang menjadi malaikat maut atas tokoh yang dibuatnya. Misalnya saja Y.B. Mangunwijaya (Burung-burung Manyar, 1983) dan Umar Kayam (Para Priyai, 1991), kedua novel tersebut memiliki akhir yang sama dengan apa yang Armijn Pane pikirkan: si tokoh mati, tetapi mereka meninggalkan anak yang nantinya akan meneruskan cita-cita mereka.
Burung-burung Manyar, novel ini mengajak kita bermain dengan pola pikir kebangsaan yang membuat pelipis kepala kita berdenyut agak cepat. Kita pun disuguhkan dengan kisah cinta romantis antara Teto yang bangga menjadi KNIL dan Atik yang sangat nasionalis. Semuanya serba rumit sampai pada saat-saat terakhir pengarang menyatukan mereka dalam bayang suatu perselingkuhan. Tapi toh ternyata pengarang tetap berpegang pada norma sosial di masyarakat hingga mengembalikan Atik pada suaminya dan menyudahi kisah ini dengan kematian Atik dan suaminya dalam perjalanan menuju mekah-madinah. Teto dengan keikhlasan penuh, memutuskan untuk merawat anak-anak Atik yang hadir sebagai kenangan indah dan yang memberi kekuatan tiada tara.
Romantisme pun sangat terasa pada novel Para Priyai (PP). Kontoversialnya  novel PP karena bagi mereka yang katanya cinta demokrasi, novel ini lebih mendahulukan gengsi ketimbang prestasi, jauh dari mentalitas modern yang efektif dan efisien sehingga terus saja menjadi bulan-bulanan (Darmanto Jatman: Umar Kayam Kuasa Budaya yang Fenomental). Tapi dibalik kontroversi tersebut kita dapat menempatkan novel ini sebagai karya yang menyimpan fakta sejarah dan dibungkus rapih dengan kata-kata sehingga menjadi suatu cerita. Alam adalah rahasia, citra seorang pejuang kemerdekaan atau kebebasan melawan segala konvensi, serta kematian salah satu tokonya pun terdapat dalam novel ini. Bagaimana ketika pohon nangka di pojok halaman roboh, seperti wangsit yang memberitahukan Embah kakung Sastrowardoyo akan seda. Lalu  tokoh-tokoh seperti Lantip, Sastrodarsono, Hardojo, Noegroho, Harimurti, serta para istri, masing-masing bergelut dengan berbagai masalah yang berbeda, dan meneruskan apa yang dijaga dan dicita-citakan embah kakung mereka.
Ada yang meninggal, ada pula yang mewariskan cita-cita perjuangan hingga tokoh yang dibuat mampu mengendap diingatan, nampaknya tidak hanya terjadi pada zaman para pujangga baru. Saat ini pun gejala tersebut masih ada. Serumit apapun kisah tersebut disajikan tapi tetap kisah cinta selalu sebagai menu tambahan. Dan kematian seakan menjadi jalan bagi pengarang untuk mengendapkan cerita di kepala kita, agar kita selalu terkenang dengan apa yang kita baca. Seperti sudah disampaikan sebelumnya bahwa tidak ada yang mampu keluar dari jerat romantisme secara menyeluru, karena imajinasi, simbol dan mitos adalah sesuatu yang melekat dengan konstruksi pikiran pengarang. Sehingga virus romantisme masih bisa berkembang, walau kini sudah tidak mewabah lagi. Dan jika kita ibaratkan karya sastra sebagai makanan, maka kematian seakan menjadi desert hingga hidangan yang disajikan lengkap sudah.

*Tugas kuliah semester 3 (2004). Kalau tidak salah tulisan ini dibuat dari salah satu artikel yang diberi oleh dosen saya. Sayangnya saya lupa judul artikel dan diambil darimana artikel tersebut* 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis Dongeng

Lindungi Hak Kami sebagai Konsumen dan Nasabah Bank! (Mempertanyakan SOP transaksi perbankan di Indomaret)

"Yang Fana adalah Waktu, Kita Abadi"