Sedikit Cerita tentang Asep Sambodja

Pada 22 Maret 2011, buku Asep Sambodja Menulis Tentang Sastra Indonesia dan Pengarang Lekra diluncurkan di FIB UI dengan pembicara Putu Oka Sukanta, Hilmar Farid, dan Maria Josephine K. Mantik sedang saya ditugaskan menjadi moderator. Pascaacara tersebut, Mbak Yuni (istri Kang Asep) memberitahukan ada undangan dari Bu Tuti untuk ngobrol di rumahnya. Pak Putu Oka Sukanta pun memberitahukan adanya acara TEMU KANGEN dan mengajak saya untuk menghadiri acara tersebut agar “mengenal lebih dalam dunia yang hampir ditenggelamkan”. Ajakkan itu, tak bisa saya tolak. Rasa penasaran membuat saya nekat menerima permintaan untuk berbagi cerita tentang “Asep Sambodja Menulis”.
Asep Sambodja Menulis
Saya mengenal Kang Asep karena kami satu angkatan (2008) di program Magister Susastra FIB UI. Kang Asep tampak sehat dan segar. Tak pernah terpikir bahwa ia akan “pergi dengan cepat”. Kepergian yang tidak hanya menimbulkan duka bagi orang-orang terdekatnya, tapi juga meninggalkan kado spesial. Tiga buah buku yang ditulisnya ketika sakit, Historiografi Sastra Indonesia 1960-an (2010), Berhala Obama dan Sepatu Buat Bush (2010), dan Asep Sambodja Menulis Tentang Sastra Indonesia dan Pengarang Lekra (2011).

Sejak awal perkuliahan, Kang Asep sudah mempelihatkan minatnya untuk meneliti karya sastra penulis-penulis Lekra atau jika bukan soal Lekra, ia kerap membicarakan tentang korban-korban tragedi seperti ‘65 dan ’98, dan mereka yang terpinggirkan. Maka tak mengherankan jika karya-karya yang dihasilkan erat kaitannya dengan ketiga hal tersebut.
Buku Historiografi Sastra Indonesia 1960-an ditulis Kang Asep setelah ia menjalani operasi tumor pertamanya dipertengahan tahun 2009. Cuti satu semester untuk menjalani pemulihan, lahirlah buku ini. Bahan yang sebenarnya disiapkan untuk tesisnya. Kembali ke bangku kuliah, Kang Asep semakin aktif menulis. Berbagai puisi yang mengkritisi kebijakan pemerintah, mengomentari situasi sosial politik dalam dan luar negeri serta menjadi gosip yang beredar di masyarakat, lahir menghiasi dinding facebook-nya. Puisi-puisi itu kemudian dibukukkan oleh Utimus dan diberi judul Berhala Obama dan Sepatu Buat Bush.

Beberapa bulan setelah buku puisi tersebut lahir, Kang Asep berpulang ke rumah abadiNya, lewat perjalanan yang cukup panjang, Depok-Yogyakarta-Bandung[1]. Untuk mengenang 100 harinya, terbitlah buku Asep Sambodja Menulis Tentang Sastra Indonesia dan Pengarang Lekra. Buku yang berisi tulisan-tulisan Kang Asep di blog pribadinya http://asepsambodja.blogspot.com/ ataupun diambil dari catatan (note) di facebook-nya. Beberapa tulisan dibuat dan didiskusikan Kang Asep di kelas, berbagai komentar pun muncul, mulai dari yang mengkritik karena penggunaan kata-kata yang terlalu boombastis[2] sehingga terkesan subjektif dan emotif, sampai yang mendukung karena rasa ingin tahu. Wajar saja, karena tiap kali menyampaikan tulisannya, Kang Asep selalu bersemangat, bahkan kadang berapi-api. Menariknya walaupun selalu membicarakan “masalah yang sama”, dia selalu punya bahan baru yang membuat kami tidak bosan mendengar hasil temuannya. Di antara kami (teman-teman kuliahnya), Kang Aseplah yang paling rajin meneliti, membaca, memetakan, dan menuliskan kembali apa yang dipikirkannya.

Setelah buku Asep Sambodja Menulis diluncurkan pertama kali di Bandung pada 18 Maret 2011, berbagai tulisan terkait diskusi buku itupun singgah di dinding FB saya. Semisal tulisan “Peringatan 100 Hari Wafatnya Asep Sambodja” Oleh Prof. C.W.Watson[3]. Dalam tulisan tersebut Watson mengungkapkan ada empat hal menonjol dilakukan Asep ketika menulis, yaitu “Pertama, usaha Sdr. Asep untuk mempertimbangkan polemik-polemik yang acap terdapat dalam sastra Indonesia dari dulu sampai sekarang dengan cara yang tidak berpihak dan netral; kedua ialah ikhtiarnya mencari keterangan yang diperlukan untuk membahas seluk-beluk satu polemik atau penulisan sejarah sastra; ketiga memberi tempat yang selayaknya pada penulis LEKRA; keempat kesungguhan Sdr. Asep dalam menyatakan bahwa sastra dan politik bukan dua hal yang dapat dipisahk”. Sedangkan dalam tulisan berjudul “Asep Sambodja: Wawasan Sejarah untuk Sastra Indonesia” Hawe Setiawan mengungkapkan “Ia (Asep) mencoba bersikap adil dalam upaya memandang duduk perkara di antara kiri dan kanan. Ia berupaya menyimak kedua belah pihak, seringkali seraya mengajukan pertanyaan bahkan rasa sangsi. Ia pun berupaya menaruh simpati kepada kaum yang jadi korban atau dizalimi”

Catatan kecil Putu Oka Sukanta: MENGHARGAI DAN MENGHORMATI ASEP SAMBOJA, juga singgah di dinding FB saya setelah diskusi panjang di Depok. Selain puisi “Perginya Sahabat Mudaku, Asep Sambodja”, Putu Oka Sukanta mengungkapkan Asep “menunaikan fungsinya sebagai  seorang intelektual  yaitu  melakukan penggalian, menganalisa, memaparkan temuannya  secara terbuka dan memberikan arti sesuai dengan prinsip  dan sikap hidupnya walaupun berlawanan atau tidak sejalan dengan arus utama kekuasaan. Justru di situ letak salah satu kekuatan Asep.”

Tulisan terakhir diambil dari bedah buku yang diselenggarakan Geladak Sastra di Jombang berjudul Mengurai dan Merajut Politik Sastra oleh Suyitno Ethex mengungkapkan “dalam bukunya Asep Sambodja Menulis, kalau kita baca secara keseluruhan secara tidak langsung akan bisa mengambil kesimpulan, bahwa apa yang dilakukan Asep Sambodja tersebut untuk memberikan pembelajaran bagi kita, bahwa perseteruan yang terjadi merupakan sejarah sastra itu sendiri”.

Lepas dari berbagai pendapat orang terkait buku Asep Sambodja Menulis bagi saya pribadi, Kang Asep ialah guru, sahabat, kakak, sekaligus “musuh” yang selalu mengajarkan saya banyak hal. Beda usia kami yang terpaut jauh tidak membuatnya bersikap menggurui saya apalagi ia memang orang yang santun. Kang Asep dalam keterbatasannya tetap menunjukkan semangatnya yang pantang menyerah, pekerja keras, rendah hati, dan konsisten, merupakan pelajaran yang saya dapat selama 2 tahun bersahabat dengannya. Semoga saja, “kado terakhir” darinya semakin membuka penelitian-penelitian baru terkait sejarah sastra Indonesia yang selama ini kerap menampilkan satu sisi saja.

 Catatan Kaki
     [1] Asep Shalahudin Sambodja, wafat 9 Desember 2010 pada usia 43 tahun

     [2] Misalnya saja pada tulisan awal Boemipoetra versus Goenawan Mohamad dan TUK (Bagian 1,2,3,4 dan 5) yang merupakan tugas salah satu matakuliah, sang dosen kerap menyindir Kang Asep kerena menggunakan kata-kata yang boombastis.

     [3] Disebarluaskan pada acara Peluncuran dan Diskusi buku "ASEP SAMBODJA MENULIS: Tentang Sastra Indonesia dan Pengarang-Pengarang Lekra" (Penerbit Buku ULTIMUS : 2011), dalam rangka memperingati 100 hari meninggal-nya penyair dan esais Asep Sambodja, Jumat, 18 Maret 2011, di Gedung Indonesia Menggugat (GIM) Bandung dengan pembicara: 1. Prof. C.W. Watson (University of Kent) dan 2. Hawe Setiawan (penulis), dan dimoderatori: Setiaji Purnasatmoko, yang diselenggarakan Penerbit Buku ULTIMUS bekerja sama dengan Majelis Sastra Bandung (MSB), Gedung Indonesia Menggugat (GIM), dan bandungjurnal.com.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis Dongeng

"Yang Fana adalah Waktu, Kita Abadi"

Lindungi Hak Kami sebagai Konsumen dan Nasabah Bank! (Mempertanyakan SOP transaksi perbankan di Indomaret)