Curhatan Makan Siang

Sayang,
Siang itu kita berbincang, tanpa kopi apalagi cemilan
Kamu bertanya tentang apa mimpiku, aku bilang ingin memiliki pasangan hidup yang mau berbagi beban dengan ku.
Menyiapkan sarapan,
Merapihkan rumah yang berantakan,
Memijitku kalau kelahan,
dan membantuku membesarkan anak-anak kita nanti.

Lalu kamu katakan, kamu lelaki.
Tugasmu menafkahi, menjadi tuan, raja, di keluargamu.
Aku terdiam, sebelum akhirnya tertawa mendengar jawabanmu.
Bukankah kita sama bekerja, mengelurkan keringat, dan menikmati uang itu bersama?
Tidak bolehkah aku menikmati sedikit saja rasanya menjadi laki-laki?

Sebagai perempuan Jawa aku selalu diajarkan mengabdi,
Istri pada suami, surga nunut, neraka katut.
Tapi maaf aku tidak ingin ikut ke ”nerakamu”
Bukan aku tak setia, tapi kenapa harus ikut dalam derita?

Sayang,
Mungkin aku tidak akan sempat merapihkan pakaianmu
Menyiapkan sarapan,
Apalagi merapihkan rumah yang berantakan karena si kecil sibuk membongkar semua mainannya.
Tapi sebagai gantinya,
Aku akan menemanimu seumur hidupku,
Walau nantinya kamu tua, pikun, gendut, dan mungkin saja menyusahkan
Bukankah itu juga pengabdian?

Sayang,
Kamu suka perempuan konvesional ya?
Konvensionalmu seperti apa sih?
Kamu suka perempuan Jawa ya?
Perempuan Jawa yang seperti apa sih?
Kalau hanya karena inginku, kau bilang aku tak pantas mengatakan diriku perempuan Jawa.
Tak apa.
Tidak menjadi orang Jawa juga bukan masalah bagiku.
Toh, aku tidak bisa berbahasa Jawa.

Sayang,
makan yuk
Obrolannya kita lanjutkan nanti malam.
Itupun kalau kamu mau,
Kita bisa duduk berpelukan sambil menegosiasikan keinginan.
Inginku dan inginmu,
harus imbang.
Dengan begitu kita bisa bersatu,
tanpa ragu.

(Catatan iseng dari status pesbuk jelang siang)
Vie
10 Maret 2011

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis Dongeng

"Yang Fana adalah Waktu, Kita Abadi"

Lindungi Hak Kami sebagai Konsumen dan Nasabah Bank! (Mempertanyakan SOP transaksi perbankan di Indomaret)