MARXISME DAN KRITIK SASTRA

Novi Diah Haryanti 

Judul Buku: Marxisme dan Kritik Sastra
Jumlah Halaman : 152
Penulis: Terry Eagleton
Penerbit : Desantara
Tahun Terbit : 2002

 /I/
            Kritik sastra marxis, lebih dari sekadar “sosiologi sastra” yang memusatkan perhatiannya pada alat-alat produksi sastra, ditribusi, dan pertukarannya dalam masyarakat. Secara keseluruhan sosiologi sastra membentuk salah satu aspek kritik sastra marxis yang memusatkan perhatian pada bentuk, gaya, dan maknanya sebagai produk dari sejarah tertentu. Pemahaman yang revolusioner terhadap sejarah tersebutlah yang menjadi kekhasan kritik sastra marxis.
Dalam bukunya The German Ideology (1845) Marx dan Engels mengungkapkan bahwa “model produksi kehidupan material mengkondisikan proses kehidupan sosial, politik, dan intelektual pada umumnya. Bukan kesadaran manusia yang menentukan kehidupan mereka tapi kehidupan sosial merekalah yang menentukan kesadaran mereka” (hlm 11). Dengan kta lain, hubungan sosial antar manusia terkait dengan cara mereka berproduksi dalam kehidupan material.
Marxisme dan Kritik Sastra
Dimulai dengan hubungan sosial antara budak dan majikan yang dikenal dengan feodalisme, pada tahap selanjutnya terdapat model baru produksi yang melibatkan kelas kapitalis yang menguasai alat produksi dengan kaum proletar yang tenaganya diperas guna mendapat keuntungan. Hubungan tersebut oleh kalangan marxis disebut ‘basis ekonomi’ atau ‘infrastruktur’ yang merupakan struktur ekonomi masyarakat.  Dari basis ekonomi, muncullah superstuktur yaitu bentuk-bentuk hukum dan politik, bentuk negara yang berfungsi melegitimasi kekuasaan kelas sosial yang memiliki alat-alat produksi ekonomi. Tidak hanya itu supersutruktur juga merupakan kesadaran sosial yang bersifat politis, religius, etis, estetis, yang disebut ideologi yang berfungsi untuk melegitimasi kekuasaan kelas yang berkuasa dalam masyarakat (hlm.12). Sehingga, pandangan yang dominan  dalam masyarakat merupakan pandangan dari kelas yang berkuasa.
Seni bagi marxisme merupakan bagian dari “superstruktur” masyarakat yang menjamin situasi penguasaan satu kelas sosial atas kelas sosial lainnya yang dilihat sebagai sesuatu yang “natural” atau bahkan tidak terlihat sama sekali. Memahami kesusastraan berarti memahami keseluruhan proses sosial dimana kesusastraan itu sendiri menjadi bagian darinya. Walau merupakan bagian dari superstruktur, kesusastraan tidak sekadar cerminan pasif dari basis ekonomi.
Eagleton memperlihatkan contoh analisis Marx mengenai hubungan antara seni, basis dan superstruktur. Kata Marx, Masyarakat Yunani mampu memproduksi seni yang unggul lebih dikarenakan keadaan masyarakatnya yang belum maju. Ketertarikan masyarakat modern terhadap semisal ‘Spartacus’ dikarenakan mengingatkan kita pada masyarakat kuno yang dalam masyarakat tersebut terlihat hubungan antara manusia dan alam yang telah dihancurkan masyarakat kapitalis dan yang dapat diproduksi kembali oleh masyarakat sosialis pada level yang lebih tinggi.     
            Lebih jauh, Engels menjelaskan bahwa seni tidak semata-mata bersifat ideologi. Ideologi yang dimaksud bukan hanya sekumpulan doktrin, tapi juga menggambarkan bagaimana manusia memainkan perannya dalam masyarakat kelas, nilai-nilai, dalam ide dan citra yang mengikat mereka pada fungsi sosial dan mencengah mereka dari pengetahuan yang benar tentang masyarakat sebagai suatu keseluruhan (2002: 31). Engels melihat dua posisi ekstrem dan berlawanan terkait hubungan antara seni dan ideologi. Pertama, kesusastraan adalah ideologi dalam bentuk artistik tertentu, tidak sekadar ekspresi ideologis dari masanya. Kedua, berpegang pada banyaknya karya sastra yang berlawanan dengan ideologi dan menjadikannya sebagai definisi karya seni itu sendiri. Sedangkan Eagleton, lebih menyukai pandangan Louis Althusser yang mengatakan bahwa seni tidak dapat direduksi hanya pada ideologi, melainkan memiliki hubungan yang khas dengan ideologi.
***
/II/       
Georg Lukacs dalam bukunya The Evolution of Modern Drama (1909), menulis bahwa elemen sosial sejati dalam kesusastraan adalah bentuk. Hal ini jelas bertentangan dengan kritik sastra aliran marxis yang menolak semua jenis formalisme dan memberi perhatian berlebih pada masalah teknis yang menghilangkan sifat historis kesusastraan dan mereduksinya lebih dari sekarang permainan estetis. Selain itu, kritik sastra Marxis kurang memberi perhatian pada persoalan bentuk artistik dan lebih memusatkan pada persoalan isi politis kesusastraan.
Marx sendiri memiliki keyakinan estetik, bahwa bentuk tidak akan bernilai kecuali merupakan bentuk dari isinya. Marx berpegang pada tradisi Hegelian, bahwa setiap isi menghasilkan bentuk yang cocok dengannya. Tidak hanya itu, seni menunjukan tahap yang berbeda dalam perkembangan ”the world spirit”, ide, atau ”yang absolut”. Isi seni yang terus menerus mewujudkan dirinya dalam bentuk artistik yang cocok. Baik Marx ataupun Hegel setuju bentuk artistik bukan hanya soal kebiasaan kreativitas seniman. Bentuk, secara historis ditentukan oleh “isi” yang harus diwujudkan, ia berubah, berganti, rusak dan menjadi lebih revolusioner bersamaan dengan berubahnya isi. ”isi” dalam pengertian tersebut mendahului ”bentuk”. Perubahan “isi” material masyarakat, model produksinya, menentukan, bentuk-bentuk suprastruktur masyarakat tersebut. Pada akhirnya kritik sastra marxis menegaskan bahwa isi lebih menentukan bentuk.
Konsepsi bentuk-isi tersebut berbeda dengan dua konsepsi lain yang saling berlawan. Pertama menyerang kaum formalis yang menganggap isi hanya fungsi dari bentuk-bentuk. Kedua, mengritik gagasan kaum marxis vulgar yang mengatakan bentuk artistik hanyalah sesuatu yang artifisial dan dipaksakan dari luar pada isi sejarah itu sendiri.
Perkembangan penting dalam bentuk sastra dihasilkan dari perubahan dalam ideologi. Perubahan tersebut mewujudkan cara baru dalam melihat kenyataan sosial dan mewujudkan hubungan baru antara seniman dan audiens. Hal tersebut tampak dari kemunculan novel di abad ke-18 yang menurut Ian Watt, dari segi bentuknya mengungkapkan serangkaian kepentingan ideologis yang berubah. Apapun isi yang terkandung dalam sebuah novel tertentu dari suatu masa, mempunya struktur formal yang mirip karya lain sejenisnya.
Dalam pandangan Eagleton, bentuk merupakan kesatuan yang kompleks dari tiga elemen: 1) sebagian dibentuk oleh ‘otonomi relatif’ sejarah bentuk sastra, 2) juga ditentukan oleh struktur ideologi yang dominan, 3) hubungan antara pengarang dan audiens. Kesatuan tiga elemen ini yang dianalisis oleh kritik sastra marxis. Dengan demikian, dalam memilih suatu bentuk, pengarang akan menemkukan bahwa pilihannya secara ideologis telah dibatasi.
Masalah bentuk juga mendapat perhatian serius dalam karya George Lukacs. Sebelum menjadi Marxis, Lukacs melihat novel sebagai “epik borjois”. Setelah menjadi Marxis, ia menganggap seniman yang besar adalah mereka yang dapat menangkap dan menciptakan kembali totalitas harmonis kehidupan manusia. Konsep utama Lukacs adalah “totalitas”, “kekhasan” (typicality), dan dunia-historis yang lebih mirip konsep hegelian dibanding Marxis.
Lucien Goldmann, berusaha mengulas struktur sebuah teks sastra dengan tujuan mengetahui sampai sejauh mana teks itu mewujudkan struktur pemikiran (atau “visi dunia”, world vision) dari kelompok atau kelas sosial dari mana pengarang berasal. Bagi Goldmann, karya sastra tidak dilihat sebagai ciptaan individu, melainkan ciptaan dari apa yang ia sebut “struktur mental trans-individual” dari kelompok sosial. Metode kritik sastra Goldmann tersebut disebut sebagai kritik sastra “strukturalisme genetik”.
Sedangkan Macherey melihat karya sastra terikat pada ideologi bukan pada apa yang dikatakannya melainkan apa yang tidak dikatakannya. Ia juga melihat karya sebagai sesuatu yang tak terpusat (decentered), tak ada makna atau struktur sentral yang ada hanya pertentangan dan perbedaan makna yang terus menerus hadir. ”Keterpecahan”, ”penyebaran”, ”keragaman”, dan ”ketidakteraturan” adalah istilah-istilah yang kerap digunakan Macherey.  
*****
/III/
            Kritik sastra Marxis, dibentuk oleh peristiwa sastra dari suatu masa yang dikenal sebagai stalinisme. Hal tersebut memuncak pada 1934 lewat kongres pengarang Soviet yang mengadopsi realisme sosialis Stalin dan Gorky yang mengajarkan bahwa tugas pengarang adalah menyajikan gambaran realitas yang jujur dan historis-konkret dalam perkembangannya yang revolusioner, serta mengulas ”problem transformasi ideologis dan pendidikan bagi para buruh dalam semangat sosialisme.” Kesusastraan haruslah melayani partai (partai minded) oportunistik dan heroik, harus mengandung romantisme revolusioner.  Sedangkan Lenin menyerukan kesusastraan haruslah memiliki keberpihakan kelas, menjadi roda penggerak dan sekrup dari mesin sosial yang demokratis. Hal tersebut karena netralitas dalam tulisan adalah sesuatu yang tidak mungkin.
            Engels dalam surat-suratnya mengungkapkan bahwa ia tidak menolak fiksi-fiksi dengan ”tendensi politik”, namun ia menolak pengarang yang secara terbuka menunjukan keberpihakannya karena tendesi politik harus muncul secara halus. Dengan cara yang tidak langsung inilah fiksi revolusioner bekerja secara efektif bagi pembacanya dalam membongkar kesadaran borjuis. 
Salah satu kecenderungan lain kritik sastra marxisme adalah mengasumsikan kesusastraan sebagai ‘refleksionisme’, ‘mencerminkan’, atau ‘mereproduksikan’realitas sosial secara langsung. Menariknya, baik Marx ataupun Engles tidak menggunakan istilah ‘pencerminan’ dalam hal karya sastra. Meskipun demikian refleksionisme menjadi salah satu cara untuk melawan teori-teori kaum formalis yang memenjarakan sastra pada satu ruang tertutup, terlepas dari sejarah.
/IV/  
            Pada bagian akhir bukunya, Pengarang sebagai Produsen, Eagleton mengungkapkan bahwa kesusastraan mungkin merupakan suatu artefak, produk kesadaran sosial, ataupun suatu visi dunia. Namun, bagi seorang marxis, kesusastraan juga merupakan komoditas yang diproduksi oleh penerbit-penerbit dan dijual ke pasar untuk mendapatkan keuntungan. Sehingga, seorang pengarang, menurut Marx dalam bukunya Theories of Surplus Value, merupakan pekerja bukan karena ia memproduksi gagasan, tetapi karena ia memperkaya penerbit, dan bekerja untuk mendapatkan upah. Seni, menurut Engels merupakan produk sosial yang paling kuat dihubungkan dengan basis ekonomi, namun ia juga bagian dari basis ekonomi –suatu jenis tindakan ekonomi, jenis produksi komoditi, diantara jenis-jenis tindakan dan produksi ekonomi lainnya. 
            Tidak hanya itu, bagi Brecht dan Benjamin pengarang pada dasarnya adalah produksen yang dapat disamakan dengan para pembuat produk sosial lainnya. Macherey juga menolak gagasan pengarang adalah kreator karena pada dasarnya pengarang adalah produsen ang mengolah bahan yang sudah tersedia menjadi sebuah produk baru. Sedang Marx melihat masyarakat kapitalis yang lebih mementingkan kuantitas daripada kualitas yang mengubah semua produk sosial menjadi komoditi pasar adalah masyarakat yang memusuhi seni. Sebagai pamungkas, Eagleton mengungkapkan bahwa kritik sastra Marxis adalah bagian dari upaya pembebasan dari penindasan sehingga berharga untuk didiskusikan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis Dongeng

Lindungi Hak Kami sebagai Konsumen dan Nasabah Bank! (Mempertanyakan SOP transaksi perbankan di Indomaret)

"Yang Fana adalah Waktu, Kita Abadi"