Obrolan Pagi dengan Mentari


“Dalam hidup sesungguhnya hanya adal tiga waktu. Kemarin sudah berlalu. Lenyap bersama segala sesuatu yang pernah ada di dalam-nya. Hari esok, kita tidak pernah tahu, apakah kita masih bisa menikmatinya atau ajal akan menjemput kita sebelum esok tiba? Hanya hari inilah yang kita miliki. Sekarang. Saat ini. Maka bekerjalah, berkaryalah, beramallah sebanyak-banyaknya hari ini. Jangan pikirkan lagi hari kemarin. Jangan khawatir pada hari esok. Hari ini saja. Hanya itu. Betapa sederhanya sebenarnya kewajiban kita sebagai manusia. Betapa rumitnya pengertian kita mengenai kehidupan...” (Samsara, hlm:11)

Pagi ini, setelah membaca blog milik Perempuan Hujan saya tergoda untuk berbincang dengan Mei. “Aku baru baca blogmu, mantan pacar nikah?” Tanya saya ingin tahu, “iyaaa” jawabnya singkat. Maka, di pagi yang baru pukul 7 ini kami berbicang tentang dia dan bagimana perasaan leganya setelah si mantan yang superaneh itu pergi.

Sebenarnya, saya yakin ada perasaan kaget ketika Mei mengetahui bahwa mantannya itu menikah ketika baru putus 3 bulan dengannya. Lah wong saya saja yang hanya berteman dengannya kaget, masa iya dia tidak. Tapi tampaknya Mei, mampu mengontrol perasaanya dengan baik. Entah karena hubungan mereka yg dulunya “aneh” (buat saya aneh karena Mei yang sangat hobi membaca dan menulis bisa berpacaran dengan laki-laki yang tidak suka toko buku) atau karena dia sekarang sedang kasmaran yang jelas dia baik-baik saja. Dalam blognya http://perempuanbulanmei.blogspot.com/2011/06/hey-im-fine.html dia menulis:

“Soal jodoh saya sangat percaya dengan ungkapan "jodoh ditangan Tuhan" atau pun "tak kan lari jodoh dikejar." Berapa lama kalian menjalin hubungan dengan seseorang, berapa jauh rencana kalian, kalau memang bukan jodohnya saya percaya pasti ada saja cara Tuhan untuk menjauhkannya, begitu pula sebaliknya. Jadi, teman-temanku, jangan kirim bbm pada saya lagi hanya untuk bertanya apakah saya sedih atau tidak. Buat apa pula saya sedih, saya juga sudah punya pacar baru. :D”

Tiba-tiba saya jadi geli sendiri, teringat bagaimana kami cukup sering mempunyai cerita yang hampir sama. Saya dan Mentari Meida, dua perempuan yang biasa saja, bisa tertawa, sedih, gila, dan menjadi luar biasa karena kebiasaan kami. Kutipan Samsara karya Zara Zetira di atas, selalu menyadarkan saya bahwa hidup ialah saat ini, “Jangan pikirkan lagi hari kemarin. Jangan khawatir pada hari esok. Hari ini saja. Hanya itu. Betapa sederhanya sebenarnya kewajiban kita sebagai manusia. Betapa rumitnya pengertian kita mengenai kehidupan...”

Something happen for reason, segala sesuatu pasti ada tujuan. Jangan khawatir pada hari esok, kita pasti akan tertawa mengingat betapa konyolnya kita, betapa noraknya dia, dan betapa bahagianya kita saat ini ^_^

Ngopi yuks Mei, kali ini saya yang teraktir hehehe




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis Dongeng

Lindungi Hak Kami sebagai Konsumen dan Nasabah Bank! (Mempertanyakan SOP transaksi perbankan di Indomaret)

"Yang Fana adalah Waktu, Kita Abadi"