Pembantu Rumah Tangga dalam Sastra: Konstruksi Budaya Kelas Menengah

Diringkas dari tulisan Melani Budianta dengan judul yang sama

            Tulisan Melani Budianta bertajuk Pembantu Rumah Tangga dalam Sastra: Konstruksi Budaya Kelas Menengah yang dimuat dalam jurnal Srint!l No.8 tahun 2005, mencoba melihat kateogori sosial pembantu rumah tangga (PRT) yang didefinisikan, dipertanyakan, dipermasalahkan dan terus-menerus dikonstruksikan. PRT adalah suatu kategori sosial yang menyangkut masalah gender dan pembagian kerja, hubungan kekuasaan yang hierakis antara majikan-bawahan, dan dimensi budaya karena profesi ini terkait dengan tatanan sosial budaya tertentu.
            Sosok PRT dalam karya sastra lahir di Inggris pada 1740 lewat tulisan Richardson berjudul Familiar Letters yang juga melahirkan genre baru dalam kesusastraan Inggris yakni novel berbentuk surat. Sebagian besar surat tersebut ditulis oleh PRT bernama Pamela kepada ayahnya yang menceritakan usaha kerasnya dalam menghadapi rayuan sang majikan hingga pada akhirnya ia disunting sebagai istri. Novel ini meledak menjadi bacaan laris dikalangan perempuan dan membuat pola alur yang terdapat dalam novel Samuel Richardson yaitu pola rayuan ditiru oleh novel-novel yang muncul kemudian. Sejumlah kritikus menamai genre yang dipelopori oleh Pamela sebagai genre novel rayuan (novel of seduction), atau novel pornografi tersamar karena ketegangannya dibangkitkan oleh alur berpola “perkosaan yang selalu ditunda”.
            
Status sosial PRT dari jaman ke jaman merupakan posisi rawan pelecehan, ia selalu berada dalam pihak yang lemah, melayani keperluan majikan, dan “terlanjur” ditampilkan sebagai objek seksual. Steorotip PRT yang terdapat dalam novel terutama masih muda, baru datang dari desa, gadis yang lugu, naif, segar, dan masih perawan, yang tak kalah penting adalah mitos Cinderella, ada anggapan bahwa sang pembantu sendiri ingin untuk dirayu karena impian atau harapannya dipersunting menjadi istri majikan.
            Dalam sastra Indonesia modern, pola tersebut berlaku dengan variasi dan warna yang beda dalam setiap karya, menggariskan “nasib” yang berbeda untuk PRT perempuan. Dalam pengamatan Melani, umumnya mereka mengalami perkosaan (yang diterima dengan “lega-lila” atau dengan perlawanan mati-matian), nasib mengalami pelecehan sudah termuat dalam judul-judul seperti, “Inem Pelayan Seksi”, dan pengambaran yang terdapat dalam media masa. Nama-nama panggilan desa seperti Inem, Inah, mempunyai acuan pada perempuan Jawa dari kalangan wong cilik. Adapula nama yang berkaitan dengan mitos (kepercayaan), sikap hidp yang pasrah, sap mengabdi, seperti Trimah, yang terdapat dalam Selamat Tinggal Jeanette.
            Cerita yang lahir pada 1970-1990, umumnya menunjukan pola alur yang mirip dengan novel Pamela. Namun, ada pula pola lain yang menampilkan petualangan gadis dari kalangan menengah yang menyamar. Kedua pola ini yang terlihat dalam empat buah novel Titie Said, Selamat Tinggal Jeanette, Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG, Inconigto karya Naniheroe, dan karya Liestyo Suwito, Iyem Cantik, Iyem Manis.
            Dalam Pengakuan Pariyem (PP) dan Selamat Tinggal Jeanette (STJ), status PRT dirayakan, diratapi atau diprotes. Kedua teks ini memiliki sikap saling bertentangan. PP menuturkan kosmologi budaya Jawa dari perspektif seorang PRT, sedangkan STJ menyorot perkawinan antar bangsa dengan segala kerumitannya, dan sikap cemburu seorang PRT yang kasmaran pada tuannya. Pariyem adalah penutur tunggal, sedangkan Trimah adalah penutur pendamping yang memiliki peran cukup penting. Berbeda dengan pariyem yang gembira, Trimah meratapi nasibnya sebagai pembantu. Walaupun Trimah pada akhirnya menjadi ‘nyonya’ dan Pariyem menjadi selir, pada akhirnya posisi keduanya hampir sama karena Trimah yang terangkat statusnya tapi tetap di mata suaminya hanya sebagai pembantu.
            Pola alur samaran terdapat dalam novel Inconigto dan Iyem Cantik, Iyem Manis, dalam dua cerita tersebut, PRT adalah gadis kelas menengah atas yang menyamar menjadi pembantu untuk tujuan tertentu atau sekadar berpetualang. Cerita yang terjadi umumnya adalah si gadis ini jatuh cinta (atau dicintai) oleh majikannya, cinta tidak bertepuk sebelah tangan, dan diakhiri dengan pertemuan kembali dua insan tersebut saat si gadis telah kembali dalam status aslinya. Berbeda dengan PRT asli, para PRT samaran ini menjadi sangat ‘lain’ dalam bersikap, berpikir, bahkan memiliki gaya dan selera yang ‘beda’. Hal ini semakin mengukuhkan perbedaan antara lapisan bawah yang tidak berpendidikan dengan lapisan yang memiliki selera dan prilaku ‘berbudaya’.
            Menurut Melani, kesamaan sejumlah konvensi formal antara novel-novel Indonesia yang menampilkan PRT dengan yang ditulis Richardson disebabkan orientasi nilai kelas menengah para pengarangnya. Hanya saja, perbedaan tema dan nadanya menunjukan bahwa novel-novel Indonesia, berbeda dengan novel-novel Inggris, tidak ditujukan kepada “kelas pembantu”, yang pada jaman Richardson masih diperhitungkan. Sebaliknya, repersentasi PRT dalam karya sastra Indonesia lebih bersifat menunjang “status quo” kelas dengan menggarisbawahi unsur-unsur pembeda antara citarasa, prilaku dan wawasan priyayi dan wong cilik. Sosok pembantu, di sini dijadikan lelucon atau dikasihani bagi konsumsi pembaca kelas menengah, hal ini terjadi karena hubungan erat antara bisnis penerbitan dan pembaca yang dijadikan sasaran.      

Novi Diah Haryanti

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis Dongeng

Lindungi Hak Kami sebagai Konsumen dan Nasabah Bank! (Mempertanyakan SOP transaksi perbankan di Indomaret)

"Yang Fana adalah Waktu, Kita Abadi"