Pengantar Bermain Drama

Judul Buku                         : Pengantar Bermain Drama
Pengarang                          : A. Adjib Hamzah 
Penerbit                              : CV ROSDA, Bandung – 1985
Jumlah Halaman                : 418 Halaman


            Buku Pengantar Bermain Drama karya A. Adjib Hamzah ini terdri dari XXIII Bab, yang mengungkapkan apa-apa saja yang terkait dengan bermain drama, seperti: Langkah Awal dalam bermain drama, Panggung, Movement,  Blocking, Pantomim, Akting, Suara dan Ucapan, Penafsiran, Struktur Skenario, Sutradara, dan Jenis-jenis drama.

Langkah Awal Bermain Drama
            Banyak pemain amatir yang bersedia mengeluarkan biaya besar agar dapat bermain drama di panggung atau televisi. Malah kadang-kadang, karena amat berambisi, mendorongnya merangkap banyak tugas. Dari segi permainan kita akan cepat mengetahui bahwa pemain amatir yang memborong tugas pementasan itu sebenarnya bukan digerakkan oleh hasrat mengejar mutu. Tapi hanya sekedar pelampiasan keinginan bermain tanpa mengikat diri dalam batas-batas kemampuan yang dimilikinya.
Pada hakikatnya, apa saja yang sedang terjadi di pentas adalah suatu demonstrasi psikologis. Peristiwa ataupun permainan di atas panggung merupakan gejala kejiwaan. Orang tidak akan begitu saja membuat skenario. Juga tidak begitu saja bermain drama.
Ditilik secara ilmiah, oleh Henning Nelms drama  disebut sebagai satu cabang psikologi. Di masa dahulu, orang yang bermain drama harus selalu menghadap kepada penonton secara frontal. Hukum tersebut harus dipatuhi. Tapi sementara itu hukum terus berkembang. Dalam proses perkembangannya yang panjang, ia mengalami perubahan-perubahan. Hal yang semula dianggap wajar mendadak dirasa timpang. Dan seperti kita lihat, dewasa ini banyak aktor yang bermain dengan sekali waktu membelakangi penonton.
Panggung
            Panggung perlu juga diketahui calon aktor yang tidak boleh tidak pada saatnya nanti bakal berhubungan dengan sang sutradara. Banyak pemain drama atau seniman film yang tidak puas hanya jadi pemain. Mereka mempunyai ambisi untuk mengekspresikan konsepnya tentang akting. Karena itu pemain-pemain ini juga tampil sebagai sutradara. Misalnya Orson Welles, W.S. Rendra.
1. Arah dalam panggung
            Menunjuk arah pentas dilakukan dengan menjadikan seorang pemain yang berdiri menghadap pada penonton sebagai patokan. Arah tangan kanan pemain yang menghadap pada penonton disebut kanan dan arah tangan kiri disebut bagian kiri. Di bagian belakangnya disebut atas, sedangkan di bagian depan disebut bawah.
            Daerah panggung yang terlihat oleh penonton disebut ruang permainan, playing space.
2. Wilayah panggung
            Henning Nelms membagi panggung menjadi enam bagian. Tiap wilayah, daerah, atau petak dalam pentas mempunyai kualitas tertentu. Pengambilan posisi seorang pemain pada suatu petak, juga blocking, pengelompokan atau grouping beberapa pemain pada kotak tertentu, akan mengungkapkan kandungan perasaan yang berbeda, sesuai dengan watak petak. Berbeda dengan Helming, Oscar membagi pentas menjadi 15 bagian. Pembagian sebanyak itu hanya cocok untuk gedung teater Amerika dan Eropa.
3. Watak Petak
            Tiap petak mempunyai kualitas tersendiri. Caon aktor harus menghafal benar petak-petak ini hingga tidak perlu mengingat setiap akan melakukan pepindahan tempat.  

Ada bermacam pentas (dalam buku ini disebutkan dua macam). Kedua bentuk teater itu adalah, pertma teater arena. Ditinjau dari segi pembiayaan, bentuk begini lebih murah. Teater arena tidak memerlukan setting. Teater arena sering disebut circus theater, ring theater, dan round theater. Penonton teater arena, mengitari tempat bermain yang ada di tengah-tengah.
            Playing space boleh berbentuk bundar atau segi empat. Keluar masuk para pemain ke arena lewat jalan atau lorong yang dibuat antara kursi para penonton. Hairlamp, yaitu lampu untuk menerangi pentas, ada di atas seperti panggung. Tetapi penempatannya berbeda. Oleh karena dalam teater arena  tidak ada layar, maka lampu yang ada di pentas difungsikan sebagai pengganti layar.
            Jika kurang menguntungkan menggunakan teater arena, dapat juga digunakan teater tapal kuda. Di sebut demikian karena tempat duduk penonton berjajar membentuk gambar tapal kuda.

Movement
            Movement adalah gerakan atau perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. movement terjadi bila seorang pemain ingin mengungkapkan perasaan dalam hubungannya dengan suatu alasan hingga melahirkan satu suasana baru.
            Movement harus memperlihatkan kekuatan dari motif yang mendorongnya berbuat. Motivasi yang tidak kuat akan membuat orang menghindar dari langkah singkat. Biasanya mereka melakukan movement dari motivasi yang tidak kuat dengan gerakan lengkung. Gerakan ini disebut curve movement.
            Terdapat dua curve movement. 1. upstage curve movement, gerakan lengkung ke atas; 2. downstage curve movement. Keduanya memiliki watak yang sama, yakni satu gerakan dari motivasiu yang kurang kuat. Dibandingkan dengan straight movement, curve lebih lentur dan luwes.
            Suatu movement yang cukup panjang untuk membuat satu perubahan sungguh-sungguh disebut sebagai crossing, persilangan. Satu persilangan normal umumnya harus berisi tiga langkah. Akhir dari sebuah movement mempunyai lebih banyak efek pada tekanan dan kekuatan daripada yang dimiliki oleh movement itu sendiri.

Blocking
Secara teknis, blocking harus memudahkan setiap pemain untuk melakukan action. Blocking dilakukan karena suasana adegan menuntut demikian. Blocking terpaksa dilakukan agar tercapai dinamika serta memudahkan penonton mengikuti jalan cerita.
            Di dalam melakukan blocking kita akan dituntut untuk berhadapan dengan komposisi, yakni susunan para pemain di dalam menempati ruang, kaitan seorang pemain dengan pemain yang lain, dll. komposisi yang baik tidak hanya menyuguhkan nilai estetis, tetapi juga menjadi suatu sarana untuk mengkomunikasikan apa yang terkandung dalam drama. Komposisi juga dimanfaatkan untuk mencapai sasaran-sasaran emosional, untuk menciptakan nilai dramatis.

Pantomim
            Nama pantomim diberikan oleh orang-orang Yunani kuno dan Romawi, yakni untuk pertunujkan drama yang berisi tari dan gesture. Menurut American College Dictinary, pantomim adalah suatu pertunjukan di mana para pemain mengekspresikan dirinya mealalui isyarat. Suatu pantomim sering dianggap sebagai suatu improvisasi. Begitu pula sebaliknya.
            Improvisasi adalah dialog atau gerakan-gerakan yang tidak dipersiapkan sebelumnya. Ia merupakan satu spontanitas, improvisasi tidak hanya dalam dialog, tetapi juga terjadi dalam movement. Lenong, ludruk, ketoprak, adalah juga bentuk drama improvisasi.
            Berbeda dengan improvisasi, pantomim adalah bahasa isyarat, tanpa kata. Suatu pantomim dapat berulangkali dipertujukan, yang secara garis besar dapat sama dengan yang sudah ditampilkan sebelumnya.
            Paantomim merupakan dasar perwatakan. Sebelum berkata orang mengekspresikan dirinya lewat reaksi badan. Oleh karena itu wajar saja apabila langkah awal untuk memperdalam akting ditempuh melalui belajar menciptakan kepribadian-kepribadian tanpa bantuan kata-kata. Seorang pemain pantomim terkenal  adalah Marcel Marceu dari Prancis.

Akting
            Ommanney merumuskan akting dengan “kelarasan yang sempurna antara suara dan tubuh untuk menciptakan satu tokoh”. Menurut Ommanney, tujuan akting adalah untuk menampilkan orang sebagaimana adanya. Tentang the art of acting Usmar Ismail berkata, “Seni berperan adalah seni menafsirkan, bukan seni mencipta.”
            Akting adalah peragaan, penampilan satu peran yang menyebabkan penonton dapat tersangkut pada ilusi yang dibangun oleh aktor. Sarana untuk menghasilkan acting termasuk movement, gesture, interpretasi naskah, improvisasi, business, kepekaan, dan daya persepsi.
Akting merupakan perluasan tingkah manusia sehari-hari. Dalam hidupnya di tengah masyarakat setiap orang berbicara, bergerak, berinteraksi dengan orang lain. Hal semacam itu juga dilakukan aktor dalam menghadapi perwatakan yang hendak dibawakannya, meskipun dalam skala yang lebih diperjelas.
Namun kemampuan berekspresi di pentas sangatlah lain dengan ekspresi seseorang dalam suatu jamuan pesta yang kemudian beralih pada suasana pertengkaran di rumah. Agar pengucapan jiwanya di panggung dapat meyakinkan, seorang aktor dituntut mengembangkan latihan dan praktek yang berkesinambungan.

Suara dan Ucapan
            Vokal (suara) dan speech (ucapan) mempunyai peranan yang amat penting di dalam pementasan sebuah naskah drama. Apalagi untuk drama radio. Jika suara untuk melontarkan dialog itu tidak brfungsi sebagaimana mestinya, maka nilai-nilai sastra yang terkandung tak akan dapat dikomunikasikan kepada pendengar  atau penonton.
Menurut Maurice Zolotow, kata merupakan isyarat atau symbol. Ada kata-kata emosional untuk menyatakan perasaan dan ada kata-kata yang dapat dimanfaatkan sebagai senjata untuk mencapai kekuatan.
            Tentang speech menurut Henning Nelms perlu sekali dimengerti oleh para calon aktor. Menurutnya aktor menggunakan ucapan untuk : (1) menyalurkan kata-kata dari drama kepada penonton, (2) memberi arti-arti khusus pada kata-kata melalui modulasi suara, (3) memuat informasi tentang sifat dan perasaan peran, (4) mengendalikan perasaan penonton, (5) melengkapi variasi.
            Untuk menampilkan ucapan yang benar tentu saja menyangkut unsure pernapasan dan cara meletupkan suara. Ucapan, lafal, menentukan suara yang harus dipergunakan. Diksi lagu (gaya) berkata memberi kualitas suara dari sebuah kata yang diucapkan.
            Kata dapat diberi tekanan dengan merendahkan volume. Yang terpenting adalah bukannya bagaimana kita dapat berbicara dengan keras, tapi bagaimana dapat dengan jelas terdengar.

Aktor
Di antara semua pekerja panggung, aktor mempunyai hubungan paling dekat dengan penonton. Secara umum hanya para aktor yang langsung dapat ditatap publik. Juga, berbeda dari yang lain, aktor mempunyai posisi tersendiri.
            Alat ekspresi seorang aktor tidak dapat dicopot atau dipindah-pindah. Alat itu lekat pada dirinya. Sebab, alat-alat itu adalah tubuh dan suara yang dimilikinya. Berbeda dengan pekerja teater yang lain, sang pemain melahirkan karyanya lewat tubuh dan suara. Kedua hal ini merupakan cermin jiwa dan tingkat intelektualitasnya.
            Dalam berkomunikasi dengan penonton, tubuh, dan suaranya sebagai alat utama sang aktor haruslah fleksibel, disiplin, dan ekspresif. Keluwesan (flexibility) diperlukan sehingga tubuh dan suara sang aktor dapat mengekspresikan muatan emosi yang ingin ditularkannya kepada penonton.
            Dalam mempergunakannya secara efektif dalam sikap, emosi, ataupun suasana dengan ruang lingkup yang lebih luas, sang aktor harus dapat mengontrol keluwesannya. Menurut Oscar G. Brockett lebih jauh dikemukakan olehnya bahwa karena tubuh dan suara merupakan bagian-bagian  integral dari satu system yang total, akibatnya dipengaruhi dengan kuat oleh factor-faktor psikis. Karenanya adalah sulit untuk mencapai suasana rileks, bebas, dan ekspresif tanpa sangkut paut dengan proses kejiwaan yang menciptakan ketegangan. Untuk mengindarinya ditempuhlah upaya pengenalan diri. Salah satu upaya untuk iu adalah latihan improvisasi. Kegiatan ini mampu mengembangkan satu pengenalan serta kepercayaan diri.
Oscar Brockett juga mengatakan bahwa kemampuan imajinasi (daya khayal) dan observasi (pengamatan) sangat penting dimiliki oleh seorang aktor. Mungkin saja suatu saat seorang aktor diserahi tugas untuk memainkan peran yang masih asing bagi dirinya.
 
Struktur Skenario
            Menurut Ommanney, skenario adalah suatu cerita tertulis untuk dipentaskan di panggung, layar, atau radio kepada penonton. Atau dapat juga dirumuskan bahwa scenario merupakan suatu karangan berbebtuk dialog dan pantomim untuk dimainkan di hadapan penonton. Karangan tersebut dapat berbentuk prosa atau puisi.  Atau: Skenario adalah karya tulis tentang serangkaian kejadian kehidupan yang menarik untuk di peragakan dihadapan penonton.
            Dalam struktur scenario harus memilki unsur-unsur penting plot, perwatakan, tema. Tiap scenario memiliki bagian awal, tengah, dan akhir. Bagian awal dikemukakan penjelasan suasana atau eksposisi.dalam eksposisi terdapat pertanyaan yang berkisar siapa pelakunya, di mana peristiwa terjadi, hingga kapandan bagaimana bisa terjadi.
             Apakah yang dicari oleh sutradara atau aktor ketika menghadapi sebuah naskah yang hendak dipentaskan? Pertama mereka harus menafsirkan. Menafsirkan sebuah naskah berarti menangkap seluruh kandungan isi naskah tersebut. Penafsiran atau interpretasi amat perlu dilakukan sedekat mungkin dengan apa yang dikehendaki scenario. Di samping mengeri isi cerita, pemain harus pula mengenal watak yang akan diperankannya.
Pada abad ke-19, tiap pemain menafsirkan perannya masing-masing. Maka sebagai akibatnya, dalam sebuah pementasan terjadi berbaga interpretasi sterhadap sebuah naskah.  Sekarang ini penafsiran dilakukan oleh sutradara. Suatu nilai penafsiran masih saja dapat bergeser atau sengaja digeser.  Untuk memperoleh penafsiran yang benar, kadang-kadang pengarang drama diminta untuk membeberkan apa saja yang berkenaan dengan naskahnya.
Menurut Henning Nelms etika menelaah sebuah naskah, yang perlu kita cari adalah “bahan dramatik”nya. Bahan dramatik adalah apa saja yang terapat dalam naskah, dan dengan bahan-bahan itu kita melontarkan nilai-nilai. Dalam sebuah scenario terdapat berbagai nilai. Selain nilai emosional, dalam drama juga terdapat nilai intelektual. Nilai inteektual ini misalnya berupa dictum, ucapan falsafi. Bedanya nilai emosional dan nilai intelektual ialah nilai intelektual di sampaian untuk dimengerti, sedangkan nilai emosional bukan untu dimengerti melainkan untuk dirasakan.
Gabungan nilai intelektual dan emosional akan menampilkan niai lain yangmenyebabkan drama tadi dapat membangkitkan kegembiraan lewat keindahan.nilai inilah yang disebut nilai abstrak. Selain dua nilai tersebut ada lagi nilai lain, yakni nilai dramatik. Nilai-nilai dramatik adalah hal-hal yang menimbulkan konflik
Tanpa bahan dramatik, sebuah repertoire tidak lagi berfungsi apa-apa selain sebagai seonggokan kata yang tidak bermakna. Bahan dramatik inilah yang memungkinkan terjadinya satu komunikasi antara pekerja teater dengan penonton.
Nilai-nilai tadi harus dapat kita temukan secara tepat dalam skenario yang akan dipentaskan.

Sutradara
Sutradara memerlukan ketajaman pandangan karena hasil penafsirannya harus dipindahkan ke dalam satu perwujudan visual dan auditif yang terencana hingga tercapai satu kesatuan kesan terhadap pementasan scenario yang ditangani.
Begitu mulai melatih, ia menempatkan dirinya sebagai kritikus. Sutradara harus memiliki ketajaman intuisi, dan iapun harus kaya akan imajinasi.

           Selain terdapat langkah bermain drama, di buku ini juga terdapat berbagai unsur yang terkait dengan drama, seperti sutradara, skenario, dll. dalam buku ini juga terdapat jenis-jenis drama seperti drama anak, drama remaja, drama televisi, drama radio, serta beberapa potongan naskah drama, yang dapat membantu kita untuk berlatih. Buu ini juga menggunakan tutur kata yang mudah dipahami dan dimengerti bagi pembacanya, selain itu buku ini juga dilengkapi oleh kamus kecil pada halaman belakangnya, kamus kecil tersebut berisi tentang istilah-stilah yang biasa digunakan dalam drama. Jadi, bagi orang awan yang ingin belajar dan mengetahui bagaimana cara bermain drama bacalah buku ini. Selamat membaca.

Novi Diah Haryanti
Kuliah Drama di Strata Satu 
2005


                       

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis Dongeng

"Yang Fana adalah Waktu, Kita Abadi"

Lindungi Hak Kami sebagai Konsumen dan Nasabah Bank! (Mempertanyakan SOP transaksi perbankan di Indomaret)