Perbandingan Alur Antara Novel dengan Film CA-BAU-KAN (Hanya Sebuah Dosa)

CA-BAU-KAN (Hanya Sebuah Dosa) merupakan salah satu Novel yang ditulis Remy Sylado yang mempunyai nama asli Yapi Tambayong. Novel yang pernah dipublikasikan di harian Republika ini akhirnya diangkat ke layar lebar oleh sineas muda kita Nia Dinata dengan rumah produksinnya Kalyana Shira Film. Alih wahana dari novel ke film tentu saja membuat terjadinya perubahan-perubahan khususnya terkait cerita dan penceritaan. Berikut analisis singkat novel dan film Ca-Bau-Kan

CA-BAU-KAN dalam Novel Remy Silado
Tema  
Novel ini menceritakan tentang kehidupan masyarakat keturunan Tionghoa, dengan tokoh utamanya yang bernama Tan Peng Liang. Tema novel ini adalah perjuangan. Perjuangan pertama dilakukan Tan Peng Liang dalam melawan penjajah dengan merusak fondasi ekonominya yaitu menciptakan uang palsu untuk dibagikan. Kedua perjuangan Tinung yang dengan keluguan dan "kebodohannya" mencoba bertahan hidup.
Novel CA-BAU-KAN
Penokohan
            Remy mampu menggambarkan penokohan dengan sangat hidup, baik itu melalui penggambaran langsung atau dengan dialog antar tokohnya. Berikut ini adalah penokohan dalam novel CA-BAU-KAN:
a)      Tan Peng Liang dari Semarang: dia keras terhadap lawannya, licik, malah terkadang sadis juga kejam. Tapi dibalik itu dia sangat lembut dan menghargai perempuan. Hal tersebut dapat kita lihat dari caranya memperlakukan Tinung juga dari pesan yang ia tinggalkan untuk anaknya. Tan Peng Liang juga sangat perhitungan dalam bisnis, prinsipnya tegas dalam hal yang satu ini. Yang paling tidak disangka adalah ternyata ia pun mampu bersikap nasionalis, mau berkorban untuk negeri ini bahkan berani ambil resiko.     
b)      Tinung: cantik, dia itu lugu, polos dan bodoh. Tinung terlalu pasrah, nurut bahkan ketika ia dipaksa untuk menjadi Cabo di Kali Jodo dia pun mau. Di balik kepolosan dan kebodohannya sering terlontar kata-kata yang mampu membuat orang yang memikirkan perkataanya. Dia juga wanita sangat tegar menghadapi semua yang dialaminya. Dia mudah terayu, tapi cintanya pada Tan Peng Liang dari Semarang sangat besar. Tinung menjadi pemacu semangat hingga Tan Peng Liang selalu ingin kembali ke Batavia. 
c)      Tan Peng Liang asal Gang Tamin Bandung: seorang lintah darat, rentenir, sangat kejam, sering menyuruh centengnya untuk membunuh orang tapi takut pada istri. Darinya Tinung mempunyai anak bernama Giok Lan yang akhirnya meninggal.
d)      Saodah: suka mengambil keuntungan dari Tinung, dia yang terus membujuk Tinung menjadi Ca-Bau-Kan, suaranya enak didengar, dia genit tapi sebetulnya baik.
e)      Tan Soen Bie: sangat nurut pada Tan Peng liang (a), yang sudah dianggap seperti ayahnya sendiri. Dia keras, cepat naik darah serta mudah dihasut orang. Dia sangat setia pada Tan Peng Liang dan menjadi orang kepercayaannya.
f)        Tjia Wan Sen: seorang pendekar yang mencintai Tinung, baik, berani dan menerima kehidupannya. Dia orang yang membunuh hanya karena terpaksa.
g)      Max Awuy: wartawan yang idealis, bukan wartawan amplop. Cerdas dan cerdik, nasionalis.
h)      Soetardjo Rahardjo: banyak menolong Tan Peng Liang(a), baik, nasionalis. Bersama Max Awuy berperan dalam kemerdekaan Indonesia.
i)        Thio Boen Hiap: jahat, licik, sangat dendam pada Tan Peng Liang (a) akhirnya dia tembak kepalanya oleh Tan Peng Liang karena sudah sangat kesal.
j)        Oey Eng Goan: dialah orang yang menjadi saksi kehidupan Tan Peng Liang dan sangat dendam padanya, kejam, jahat, dia yang menyuruh Jeng Tut membunuh Tan Peng liang.
k)      Jeng Tut: otak bisnis, misterius, dibalik pembawaanya yang tenang ternyata licik
l)        Saya, Giok Lan anak Tan Peng Liang: sangat ingin mengetahui sejarah hidupnya. Dia juga pemaaf, tidak mudah emosi, sabar serta tenang.
m)    Ginandjar L Sutan: cepat emosi dan mudah marah. Ramah dan sangat menurut pada pesan ayahnya.
n)      Tan Kim San dan Tan Kim Hok: sangat memusuhi Tinung, nurut pada ayahnya Tan Peng Liang 

Selain itu ada pula tokoh-tokoh yang ikut berperan diantaranya: uking ayah Tinung serta istrinya Mpok Jane, Mpok Enjun, Njoo Tek Hong, istri pertama Tan Peng Liang (TPL), bapak-ibunya TPL, Lie Kok Pien, J.P Verdoorn, Richard Nicholson dsb.

Alur   
            Secara keseluruhan novel ini terdiri dari tiga bagian yaitu: prolog, isi dan epilog. Bagian isi terdiri dari 35 bab yang memuat alur utama cerita tersebut. Rentetan peristiwa yang terjadi dalam novel CA-BAU-KAN:
  • Prolog: novel ini dibuka dengan datangnya tokoh saya, ke Jakarta mencari tahu tentang cerita asli keluarganya, Ibunya yang CA-BAU-KAN dan bapaknya Tan Peng Liang walau dia tak tahu persis Tan Peng Liang yang mana yang bapaknya.
  •  Isi:
o       Bab I, Tokoh saya mulai bercerita tentang ibunya yang bernama Siti Nurhayati. Dengan kalinat pembuka, cerita ini saya mulai…
Untuk bab-bab selanjutnya Saya menghilang dari cerita sampai nanti di Epilog.
o       Bab I sampai X menceritakan tentang Tinung, awal mula dia menikah, suaminya meninggal lalu keguguran hingga menjadi CA-BAU-KAN. Bab-bab ini juga mengisahkan Tinung bertemu dengan 2 orang Tan Peng Liang yang kedua-duanya sangat berperan dalam kehidupan Tinung.
o       Bab XI sampai XXI, memperlihatkan bagaimana sayangnya Tan Peng Liang(a) pada Tinung, juga kelicikan dan strategi Tan Peng Liang dalam menghadapi musuh-musuhnya. Dia punya berbagaimacam cara, ide untuk menjatuhkan musuhnya, muslihatnya banyak, bahkan ia sampai rela masuk bui. Pada bab ini peta konflik mulai terbuka.
o       Bab XXII sampai XXV Tinung yang kesusahan setelah Tan Peng Liang (TPL) masuk penjara. Dia diusir sehingga terpaksa, menjadi cabo lagi. Kedua anak Tinung diadopsi ke negeri Belanda. Pada bab ini kita dapat melihat betapa cerdiknya TPL hingga bisa kabur dari penjara. Dan menyuruh mengumumkan berita kematiannya
o       Bab XXVI sampai XXX masa paling berat untuk Tinung, terjadi perubahan kekuasaan dari Belanda ke Jepang. Tinung dijadikan Jugun Ianfu, TPL berhasil kembali ke Indonesia, dia sangat merindukan Tinung. Setelah habis-habisan mencari akhirnya bertemu juga.
o       Bab XXXI sampai XXXV puncak konflik dan akhir dari cerita, TPL yang belum mati membuat cemas para musuhnya, begitu juga dengan beberapa tokoh yang seakan bangkit dari kubur untuk balas dendam.  Thio Boen Hiap akhirnya dibunuh oleh TPL setelah membuat dia sangat kesal. Bab XXXV yang merupakan penutup sudah tak ada dendam, ketika para tokohnya sudah hidup tenang. TPL ditemukan mati kaku di dalam kamar mandi tanpa ada yang tahu penyebabnya.
o       Epilog, sebuah penutup, Sayalah Giok Lan….
Akhir yang membawa tokoh saya pada Oey Eng Goan, lalu dia menceritakan tentang TPL, kenapa ia tiba-tiba mati, dalam epilog ini terlihat bagaimana sikap Saya yang sangat pemaaf, yang coba melakukan pembelaan bukan hanya pembetulan atas profesi ibunya sebagi CA-BAU-KAN yang sering dianggap tidak bermoral.

Film CA-BAU-KAN Garapan Nia Dinata
             Tidak mudah memang memindahkan novel ke dalam bentuk layar lebar. Keterbatasan durasi penayangan seakaan menjadi masalah ketika novel setebal 406 halaman ini coba divisualisasikan. Dari segi tema film ini tidak bebeda dengan novelnya hanya alurnya saja yang dibuat berbeda oleh sang sutradara. Sedangkan untuk penokohan Tinung terlihat lebih pendiam dalam film, walau masih lugu dan ketika berbicara membuat orang yang mendengar menjadi berfikir. Yang tidak sesuai menurut saya adalah tokoh Jeng Tut ketika divisualisasikan. Jeng Tut yang seharusnya misterius, cantik dan selalu mencolok dengan perhiasannya yang selalu sewarna tidak mampu digambarkan serta diperankan dengan baik.

Alur dalam Film
  • Film ini dimulai dengan Bab I dan bab II yang ada di novel. Bagaimana Tinung menikah sampai kemudian keguguran.
  • Kemudian dilanjutkan dengan Prolog setelah itu masuk settingan tempat dan waktu, Kali Jodo 1933 di mana saat itu Tinung sangat terkenal sebagai seorang CA-BAU-KAN.
  • Lalu urutan yang peristiwa yang terjadi sama seperti di Novel dari Bab II sampai paling tidak Bab XXI.
  • Jakarta 2000, kembali pada tokoh saya yang bertemu dengan Oey Eng Goan yang asyik bercerita tentang Tan Peng Liang. Dan rentetan peristiwa sesudahnya:
Bab XX III   -----   Bab XXII ------    Bab XXIII      -------   Bab XXIV 
  • Menurut saya terjadi pengaburan cerita di sini, karena adegan di Film mengisahkan bagaimana Tan Peng Liang datang mencari Tinung ke rumahnya dan melihat anak buahnya sudah pada mati. Tidak lama kemudian Tjia Wan Sen datang dan membunuhnya. Versi novelnya sendiri, Tjia Wan Sen datang ke rumah Tan Peng Liang yang sedang tidur dan membangunkannya. Terjadi perkelahian antara keduanya lalu TPL memanggil centengnya tapi akhirnya dia dapat dibunuh juga oleh Tjia Wan Sen.
  • Japanis Invention 1942, Bab XXV   ----    Bab XXV
  • Siam 1944, Bab XXVI -----  Bab XXVII
  • Kembali lagi ke Tokoh saya dan Oey Eng Goan yangs menceritakan kisahnya. Bab XXVIII   -----     Bab XXX ------    Bab XXVIII  -----  Bab XXX  -----  Bab XXXI
  • Tokoh saya dan Oey Eng Goan menceritakan Bab XXXIII dan Bab XXXIV
  • Tokoh saya dan Oey Eng Goan menceritakan Jakarta tahun 1960, Bab XXXV akhir hidup Tan Peng Liang di buat berbeda dengan yang ada di novel. Karena di Film Tinung menemukan TPL meninggal sedang duduk di teras rumahnya.
  • Ditutup dengan tokoh Saya yang datang ke makan kedua orangtuanya Tan Peng Liang dan Tinung.
 Ada beberapa cerita yang menurut saya penting tapi dilewati oleh sutradara, mungkin juga sengaja di potong pada saat pengeditan diantaranya:
Ø      Saat Tan Soen Bie diadu domba oleh Tan Peng Liang yang sudah seperti ayahnya. Sehingga pada saat di penjara mereka sempat bersitegang. 
Ø      Ketika Max Awuy disangka sudah mati tapi ternyata berada di rumah sakit yang sama dengan Tinung malah mereka sempat bertemu
Ø      Perjalanan Tan Peng Liang menuju Batavia, saat itu kapalnya sempat hancur lalu TPL dan beberapa orang kawannya naik skoci menyelamatkan diri. Sehingga ada beberapa tokoh yang tidak terdapat dalam film.  
Novi Diah Haryanti
2004
Film CA BAU KAN

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis Dongeng

Lindungi Hak Kami sebagai Konsumen dan Nasabah Bank! (Mempertanyakan SOP transaksi perbankan di Indomaret)

"Yang Fana adalah Waktu, Kita Abadi"