Relasi Antar Tokoh dalam "Malam Jahanam" Karya Motinggo Busye

 Oleh Novi Diah Haryanti

Malam Jahanam merupakan drama satu babak Motinggo Busye yang pertama kali diterbitkan pada 1961. Drama tersebut bercerita mengenai kehidupan Mat Kontan, Paijah, Soleman, Utai, dan tukang pijat yang tinggal di perkampungan nelayan yang miskin. Kemiskinan itulah yang membuat Paijah sakit hati karena suaminya Mat Kontan, lebih mementingkan nasib burung beonya yang hilang dibanding anaknya yang sedang sakit. Hilangnya burung beo kesayangan Mat Kontan, menjadi kunci terbuka satu demi satu rahasia hidup Mat Kontan, Paijah, dan Soleman. Keinginan Paijah memiliki anak membuatnya berhubungan dengan sahabat baik suaminya sendiri, Soleman. Sikap sombong Mat Kontan dan perhatiannya yang tercurah pada kematian burung beonya serta melupakan anaknya yang sedang sakit, membuat Paijah dan Soleman kesal. Hingga semua rahasia terbongkar, Soleman yang memotong leher burung beo sekaligus bapak dari anak Paijah. Tanpa ragu, Mat Kontan mengambil goloknya dan bersama Utai mengejar Soleman. Soleman berhasil lolos, sedangkan Utai mati karena patah batang lehernya disepak Soleman. Cerita ditutup dengan kematian si Kontan Kecil. Tak hanya bicara soal kemiskinan, Malam Jahanam juga mengangkat isu perselingkuhan. Keinginan menjadi ibu dan kesadaran bahwa suaminya tidak dapat memberikan keturunan membuat Paijah berselingkuh dengan Soleman. 
Dalam tulisan singkat ini, saya akan mencoba melihat relasi antara Paijah dan Mat Kontan yang terikat dalam satu institusi perkawinan, serta relasi antara Paijah dan Soleman yang merupakan selingkuhannya. Pendekatan feminisme digunakan untuk melihat bagaimana tokoh perempuan ditampilkan atau melihat bagaimana suatu teks membahas relasi jender.
Allen dalam Hellwig (2003: 9) mengungkapkan bahwa “dalam sistem jender/jenis kelamin, perbedaan biologis antar jenis kelamin memilki makna tertentu dan menjadi perbedaan jender disebabkan kondisi-kondisi budaya, sosial, dan ekonomi.” Lebih lanjut Hellwig mengungkapkan bahwa mereka yang memandang maskulinitas sebagai norma, pria bertindak atas nama perempuan, mengklaim universalitas, obyektivitas, serta netralitas hingga menghilangkan peran perempuan. Selain itu, “mereka menciptakan “perempuan” sebagai suatu konstruk ideologis, sebagai objek hasrat dan fantasi laki-laki” (Hellwig, 2003: 7). 

a. Relasi antara Paijah dan Mat Kontan
            Paijah adalah bini (istri) Mat Kontan. Sejak awal Paijah sudah digambarkan sebagai perempuan yang latah, tidak bertutur kata halus karena latar belakang sosialnya yang berasal dari kelas bawah sehingga Paijah kerap mengeluarkan kata-kata kasar seperti, setan, edan, atau kurang ajar. Namun, di sisi lain Paijah adalah seorang ibu yang sayang pada anak semata wayangnya Mat Kontan Kecil sedang sakit.  
            Berbeda dengan Paijah, Mat Kontan suaminya justru selalu asyik dengan burung-burung peliharaannya. Hal tersebut tampak dari percakapan antara Paijah dan Soleman berikut ini:

Paijah     : Si Kecil sakit. Kontan belum pulang. Panas saja badannya seharian ini!
    Soleman: Enggak dibawa ke dukun?
Paijah     : Dukun? Dan punya laki yang asyik dengan perkutut, kepala haji, beo
    dan kutilang? Mana bisa jadi!
Soleman: Tiap hari kau mengumpat begitu. (Busye, 1995: 18)

Dari kutipan tersebut tampak ada kesal dalam diri Paijah karena merasa suaminya lebih mementingkan burung-burung peliharaannya dibandingkan dengan keluarganya. Sikap tak acuh dari Mat Kontan juga tampak lewat percakapannya dengan Soleman yang memberitahu bahwa bahwa si kecil sakit.

Soleman           : Percaya sih percaya. Tapi anakmu, si Kecil, sakit’kan?
Mat Kontan      : (terlanjut) Persetan si Kecil! (sadar), O, Anakku! Maksudku tadi
 persetan penyakit. Mudah-mudahan ia lekas sembuh!
Soleman           : Kalau sembuh. Kalau tidak sembuh bagaimana?
Mat Kontan      : Ha? Maksdumu..... Mati?   (Busye, 1995: 20)

            Lewat percakapan dua lelaki tersebut tampak sikap tidak bertanggung jawab Mat Kontan sebagai seorang bapak. Di satu sisi ia tidak memerdulikan anaknya yang sedang sakit tapi di sisi lain ia khawatir anaknya benar-benar mati karena anak itulah satu-satunya kebanggaan Mat Kontan agar tidak dihujat mandul. Dengan memiliki anak, Mat Kontan merasa sebagai lelaki sejati terlebih memiliki istri yang cantik seperti Paijah. Lengkaplah kebanggaan Mat Kontan sebagai laki-laki. Hal tersebut tampak dari kutipan berikut.

Mat Kontan      : Saya akan mengatakan bahwa saya tadi ke Kota Agung. Dan
bertemu dengan kawan-kawan lama. Lalu saya ceritakan bahwa kau sudah punya anak sekarang.
Paijah               : Tapi sesudah itu kau lantas cari burung.
Mat Kontan      : (salah kira) Ha, ya!
Paijah               : Tanda memikirkan kami.
Mat Kontan      : Hah? Ah, masuklah kau! Tidak mengerti urusan lelaki. Masuklah!
 Kami mau ngobrol.
 Paijah masuk
 Biniku memang manis
 Soleman hanya mengangguk.
 Kautau apa yang terjadi sesudah saya bilang bahwa saya sekarang  sudah punya anak? (diam sebentar berpikir disambut dengan tawa melagak). Mereka yang dulu sering mengejak saya sebagai lelaki mandul jadi konyol. (Busye, 1995: 23)
                                   
Bagi Mat Kontan, Paijah dan si Kecil diperlukan untuk membuktikan dan mempertegas kelaki-lakiannya. Ada kebanggaan dalam diri Mat Kontan melihat orang lain mengakui bahwa istrinya cantik, seksi, dan menggairahkan. Karena dalam pandangan Mat Kontan, orang lelaki yang belum punya istri tandanya belum jadi lelaki (hlm.29). Dalam hal ini, Mat Kontan menjadikan Paijah sebagai objek hasrat dan fantasi laki-laki serta pelengkap kelaki-lakiannya. Itulah yang membuat Mat Kontan memaafkan perselingkuhan Paijah dan Soleman, bahkan tidak memperkarakan si Kecil anak siapa. Dengan baik, Mat Kontan mencoba menutupi perselingkuhan tersebut, bahkan ketika Utai mati Mat Konta merasa tidak terganggu karena itu berarti rahasia keluarganya tetap terjaga aman. Karena jika masyarakat tau bahwa Paijah berselingkuh dengan Soleman dan anak yang dilahirkan Paijah adalah anak Soleman maka hancur sudah harga dirinya sebagai laki-laki.

b. Relasi antara Paijah dan Soleman
            Soleman adalah sahabat Mat Kontan yang tinggal tepat dihadapan rumahnya. Ia mengalami trauma atas kegagalan rumah tangga orangtuanya dan memutuskan untuk tidak menikah. Namun, ia tetap membutuhkan perempuan untuk mengusir rasa sepinya. Soleman tertarik pada Paijah yang cantik dan seksi. Paijah membutuhkan Soleman agar ia dapat menjadi seorang ibu karena suaminya yang sombong ternyata mandul. Hal tersebut membuat hubungan diantara keduanya menjadi hubungan yang saling membutuhkan.
            Paijah tidak dapat mengusir rasa takut dan cemas akan terbongkarnya perselingkuhan antara dirinya dan Soleman. Akan tetapi keinginan yang besar menjadi seorang ibu, membuat Paijah mau melakukan apapun. Hal tersebut tampak dari kutipan berikut.
Paijah: Menyesal karena begini jadinya. Nanti akan terbuka juga rahasia kita. Tapi
tak apa! Saya kepingin punya anak, dan anak itu telah saya dapatkan.
(Busye, 1995: 45)

            Arivia (2006) mengungkapkan bahwa identitas ibu memiliki posisi dan status yang penting dalam masyarakat manapun, hal tersebut terjadi karena dengan menjadi seoarng ibu, perempuan dianggap telah menunaikan kewajibannya sebagai “perempuan sejati”. Itulah yang dirasakan Paijah, keinginan untuk menjadi perempuan sejati. Maka, ketika Mat Kontan membongkar perselingkuhan antara dirinya dan Soleman yang terpikir adalah menyelematkan si Kontan Kecil.
            Soleman sendiri mulai kesal dengan kesombongan Mat Kontan, itulah yang membuat ia kerap malas jika Mat Kontan sudah berbicara mengenai si Kontan Kecil dengannya. Maka, ketika perselingkuhan terbongkar Soleman berusaha untuk merebut Paijah yang diam-diam dicintainya, pun dengan Kontan Kecil. Dalam hal ini dua ego laki-laki, Soleman dan Mat Kontan sama-sama bertarung keduanya ingin menguasai Paijah dan Kontan Kecil untuk membuktikan siapa yang benar-benar laki-laki. Maka, kembali paijah menjadi “barang” yang diperebutkan. Dia tidak berhak memutuskan ingin hidup bersama siapa, siapa yang menang dalam pertarungan antara dua laki-laki itulah yang akan mendapatkannya. Sehingga tak ada pilihan lain, ketika Soleman kabur melihat golok yang dibawa Mat Kontan, suka tidak suka Paijah harus kembali kepada istrinya.      

Simpulan
            Lewat analisis singkat tersebut tampak bahwa relasi yang terjadi antara Paijah dan Mat Kontan adalah relasi yang tidak seimbang, Mat Kontan mendominasi dan menindas Paijah lewat lembaga perkawinan. Pernikahan hanya menjadi alat pembuktian kelaki-lakian Mat Kontan yang merasa hebat kerena berhasil menikahi perempian cantik dan seksi. Sedangkan Paijah, merasa tidak bahagia karena hidup dengan laki-laki yang hanya bisa mengurus burung dan tidak dapat memberinya anak. Sehingga ia berselingkuh dengan sahabat suaminya agar dapat merasakan menjadi seorang ibu yang sesungguhnya.
            Relasi antara Paijah dan Soleman adalah relasi yang saling membutuhkan, kedua-duanya hidup dalam banyang-banyang “pernikahan” dan “trauma masa silam”. Walau demikian, posisi Paijah dalam naskah drama ini adalah objek yang tak bisa menentukan sendiri dengan siapa ia ingin hidup. Paijah tidak diberikan pilihan. Dengan siapa ia akan hidup ditentukan oleh duel dua laki-laki (Soleman dan Mat Kontan) yang menang yang mendapatkannya. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis Dongeng

Lindungi Hak Kami sebagai Konsumen dan Nasabah Bank! (Mempertanyakan SOP transaksi perbankan di Indomaret)

"Yang Fana adalah Waktu, Kita Abadi"