Renjana*

Kutitipkan rindu pada rintik hujan yang turun di kotamu, ku titipkan rasaku pada sinar yang melesap lewat celah-celah aksia yang tumbuh subur di tamanku. Ku titipkan semua yang ada padaku padamu, Renjana.

            Kata orang aku cantik. Ya, tentu saja aku cantik. Tuhan mengukir wajah ini dengan semparna. Mata yang mampu menenggelamkan siapapun yang memandangnya, bibir yang membuat setiap lelaki berharap bisa mencobanya, juga hidung yang indah, membuat banyak perempuan merasa iri dan tersaingi bila berada di dekatku.  Selain itu, aku punya tubuh yang mampu membuat lelaki berfantasi, kata orang gitar Spanyol pun kalah dengan keindahan tubuhku, dengan tubuh menjulang bak model, jarang sekali rasanya ada lelaki yang berani menggapaiku.
            Orang memanggilku Rana. Nama yang rasanya ingin sekali ku ganti. Nama yang seakan mengingatkanku bahwa aku adalah gadis yang merana. Satu nama yang membuatku muak karena Bara kasihku mengucapkannya dengan sangat indah, hingga akhirnya aku merana.
            Batara Kala, atau ku panggil ia Bara. Seperti namanya dia adalah dewa yang memberiku semangat tiap paginya. Dialah dewa matahariku. Dia hadir tak terduga dalam hidupku, tanpa banyak kata ia mengetuk pintu hati dan memaksa masuk ke dalam. Sedang aku hanya mampu terdiam, terpesona dengan indah yang ia berikan. Aku memujanya, terus menunggu untuk dapat bersatu dengannya.
                                                            ****
            “Rana, tidak ada yang lebih baik dari hubungan kita sekarang. Sampai kapanpun kita tak akan bisa bersatu”
            “Tapi bukankah katamu rasa itu begitu sempurna untukku?”
            “Tentu saja, kamu adalah hidup, hingga aku mampu bertahan”
            “Lalu kenapa kau biarkan aku menunggumu tanpa batas?”
            “Kita ini beda, tidak mungkin rasanya kita menghilangkan semua itu dengan satu kata, cinta”
            Aku terdiam, sering kali kasihku menjadikan perbedaan kami sebagai alasanya. Kita memang berbeda, perbedaan yang sangat jelas adanya. Aku mencintainya, bahkan melebihi cintaku pada-Mu, hingga ku putuskan untuk menghilangkan perbedaan itu dan menembus batas logikaku untuk satu kata bernama, Cinta. Tolong Tuhan, jangan hukum aku karena terlalu menginginkannya..
            Akhirnya tak ada lagi beda yang tersisa antara kita, tentu saja selain kegemaranmu minum kopi yang kutau pasti sangat tak baik buat kesehatanmu. Hanya itu, sekarang aku mulai shalat sama seperti mu, mulai mengaji, mulai mempelajari sesuatu yang sebenarnya ku tak tau pasti. Ku jalani semua itu dengan iklas, tanpa tanda tanya aku mengikuti ke mana pun kasihku pergi. Kamu, rokok dan kopi hitam kental kesukaanmu, yang kuharap dapat menjadi bagian utuh hidupku.
             Kata orang dulu kami tak bisa bersatu karena beda, karena setiap jumat dia harus ke masjid sedang setiap minggu ku harus pergi ke gereja. Perbedaan yang sudah kutebus dengan seluruh jiwaku. Tapi kini orang, lagi-lagi berbisik di belakangku, katanya aku perempuan tak tau malu. Aku adalah perempuan iblis yang menggoda laki-laki dengan kecantikanku. Aku adalah kusta yang harus dijauhi. Tidak taukah mereka kalau aku adalah Rana, aku ini perempuan yang selalu merana. Aku hanya perempuan, yang sedang jatuh cinta. Perempuan yang rela melakukan apa saja untuk dapat bersatu dengan Bara kasihku.
            Ku biarkan mulut-mulut itu mengejekku, ku biarkan setiap mata yang memandangku sinis, ku biarkan cibiran itu datang pada setiap langkahku. Aku sungguh tak peduli yang ku tau suatu saat nanti aku akan bahagia bersama kasihku.
                                                   Malam ini Bara tidak datang, kemanakah gerangan kasihku menghilang? Ponselnya pun mati. Sungguh malam ini aku sangat kesepian. Hujan yang turun perlahan membuatku semakin ingin berada dalam pelukan kasihku seorang. Aku kangen Bara, aku ingin ia berada di sini sekarang. Aku ingin menikmati setiap sentuhannya. Merasakan nafas kami yang ikut berpacu bersama nafsu yang siap menbuncah. Tapi di manakah kasihku itu? Apa ia merasakan rindu yang sama dengan yang aku rasakan sekarang?
            Akhirnya Baraku datang, ku lihat wajahnya tampak lebih berat. Seperti biasa satu cangkir kopi hitam kental ku buatkan khusus untuknya. Ku biarkan kasihku itu tertidur lelap di pangkuanku. Ku usap perlahan wajah yang selalu menemani tiap malam-malamku. Wajah yang membuatku bertahan atas semua beban yang ku tanggung sekarang.         
            “Maaf jika lagi- lagi aku merepotkanmu” katanya pelan. Aku tak membiarkannya melanjutkan kalimat yang ia ucapkan, kututup bibir kasihku dengan jari yang kini ia kecup mesra.
            “Aku mencintaimu Rana, tolong tetaplah ada di sampingku, jangan pernah meninggalkanku”
            Mendengar kalimatnya, aku hanya mampu menarik panjang nafas ini panjang.
            “Rana?”
            “Kalau begitu kapan kau akan meminangku?”
            “Rana Please..”
            “Aku ini perempuan, mereka mulai menjauhiku seperti kusta. Kata mereka, aku wanita pengoda, aku perebut suami orang, aku ini perempuan laknat”
            Mendengar kalimatku Bara terduduk dalam diamnya, wajahnya tertunduk, tak mampu menatap mataku yang mencoba mencari kepastianya.
            “Rana please, beri aku waktu”
            “Waktu hampir habis menggerogotiku”
            “Katamu kau akan setia menungguku”
            “Katamu setelah semua yang membedakan kita hilang, kau akan segera melamarkan”
            “Tidak semudah itu, Rana kasihku”
            “Tapi dulu terdengar sangat mudah di telingaku”
            Bara terlihat enggan mendengar kalimatku, tapi aku tetap memojokkannya. Ku pikir sudah saatnya bersikap tegas. Ia harus mulai memutuskan jalan mana yang akan dipilihnya.
            “Bara... aku bosan menjadi kusta”
            “Aku tak kan membiarkan itu terjadi”
            “Tapi kau menguburku perlahan dan pasti”
            Sejenak ia menyeruput kopi kental yang kini beranjak dingin. Sempat pula ia menarik nafasnya panjang, membuat suasana di antara kami semakin tegang.
            “Apalagi yang kau risaukan sekarang? Katamu setelah aku mengikuti imanmu, kita bisa segera menghadap pada altar Tuhan. Bukankah di agamamu seorang laki-laki boleh memiliki lebih dari satu istri?”
            “Tidak seperti yang kau pikirkan Rana”
            “Sejak awal kau menjadikan semua ini sangat mudah untukku. Kau bilang pasti istrimu akan merelakan kau menikah lagi lantaran ia yang mandul”
            “Rana, tolong jangan sekasar itu pada Frea”
            “Ya... mereka memang benar, aku adalah kusta.”
            “Tidak kau adalah mutiara”
            “Seseorang tak kan mungkin membuang sebuah mutiara”
            “Aku tak pernah membuangmu”
            “Kau pun tidak memungutku”
            Bara beranjak dari tempatnya, perlahan dia berjalan mendekati pintu. “Aku pulang” katanya pelan tanpa menoleh sedikitpun ke arahku.
            “Ya... tentu saja kau harus pulang, istri tercintamu sudah menunggu untuk segera kau manjakan. “
            “Aku sedang tak ingin bertengkar”
            “Dasar bajingan, mulai sekarang jangan pernah kembali lagi padaku”
            Bara tetap berlalu, kini tinggal aku yang merenungi semuanya sendiri. Tak ada Bara kasihku, tak ada seorang pun di sampingku. Selalu saja begitu, setiap bertengkar, aku pasti akan mengatakan padanya jangan pernah kembali padaku. Tapi kata tinggal lah kata, saat dia kembali, aku pasti akan menerimanya. Membiarkanya terlelap lagi di pangkuanku. Akan ku lakukan apapun, untuk kasihku itu, walau akan menyakitiku.
Kata mereka, aku ini perempuan penggoda, aku adalah kusta yang harus dijauhi, aku adalah iblis berbentuk manusia. Semua itu kata mereka, tak ada yang bisa ku sangkal. Dan tak ada niatku untuk menyangkal. Aku mencintai Batara Kala, mencintainya sampai hati ini merenjana. Aku mencintai Bara, seorang laki-laki yang tak lain suami sahabatku, Frea. 

Novi Diah Haryanti
16 Des. 06, (12:04)
 
*Renjana: Rasa hati yang kuat

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis Dongeng

"Yang Fana adalah Waktu, Kita Abadi"

Lindungi Hak Kami sebagai Konsumen dan Nasabah Bank! (Mempertanyakan SOP transaksi perbankan di Indomaret)