Surat Cinta Kepada Tuhan

Dear Tuhan yang baik, Maha Pemberi dan Pemilik Hati...

Beri tahu aku bagaimana cara menyikapi rasa. Agar aku tak binasa oleh cinta semu semata.
Sungguh kepadaMu lah, seharusnya cinta sejatiku ada. Tapi mengapa pula, kuterus mencari sampai jauh sekali. Tuhan... ajari aku bagaimana mencintaiMu dengan tulus. Sebagaimana sabdaMu, “Inalillahi wa inalillahi ra’jiun”....

Tuhan, apa dia laki-laki yang baik untukku? Laki-laki yang akan jadi imamku, teman hidup, patner kerja, dan diskusiku. Kepadanyalah nanti kubagi hidup, hati, otak, dan dompetku. Atau dia hanya laki-laki selewatku? Yang hanya ingin mencicipi bagaimana tubuhku, membelai hingga aku melupakanMu.  Laki-laki tolol yang bahkan tidak bisa mengerti untuk apa dia dan aku ada. Hidup dalam bayang kesuperioritasannya sebagai pria, merasa diri sebagai pangeran yang akan membangunkan Aurora dari tidur panjangnya dengan sebuah ciuman mesra.

Tuhan, apa kamu sedang menggodaku...
Menguji seberapa besar cintaku padaMu, seberapa setiaku padaMu.
Sungguh, kepadaMulah hamba berpasrah, walau kerap kali hamba gelisah.

Tuhan, atas nama cinta kau buat aku ada.
Itulah mengapa Kau turunkan Hawa untuk melengkapi dan menggoda Adam hingga dia memperkosannya. Tentu saja perkosaan atas nama cinta, atau ternyata hanya nafsu semata? Bukankah sulit membedakan antara cinta dan nafsu saat dua orang jatuh cinta bersama? Bahkan Adampun kehilangan akal sehatnya, memetik buah quldi untuk diserahkan pada kekasihnya, Hawa.  Hingga mereka Kau usir dari surga.

Tuhan,  tolong tanyakan pada Adam dan Hawa, menyesalkan mereka menghianatimu? Atau sebagaimana takdir, semua adalah ketentuanMu. Tak ada yang salah, karena kesalahan adalah milikMu, sebagaimana juga kebenaranMu. Bukankah segalaNya adalah milikMu.

Tuhan, satu lagi, tanyakan pada hawa, apakah dia menyesal menerima cinta Adam? Apakah mereka bahagia? Apakah Adam mengekangnya sebagaimana yang kerap dilakukan pria sekarang? Jika ada laki-laki selain Adam, apakah ia akan tetap memilihnya?  Atau Jika saja kau kirimkan Khadijah diantara mereka, mungkinkah Hawa jatuh cinta padanya?  Ya ya ya, hamba tau jika itu terjadi, tentu akan lain ceritanya. Misalnya saja, FPI tak akan mengusik mereka yang asyik nonton dan mencoba menghargai cinta sesama, jeruk makan jeruk. Begitu istilahnya.

Tuhan, sudah ya, itu dulu.
Atas nama cintaMu, tolong berikan jawaban padaku segera.
Tak harus lewat pos, email, chatting, sms, atau telp boleh juga.
Aku tunggu ya Tuhan.
Maaf menggangguMu pagi-pagi, semoga surat ini sampai padaMu.
Terima kasih Tuhan...

Peluk dan Cium dari hambaMu yang gelisah
-Bukan Aurora-
1 Oktober 2010 (Vie)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis Dongeng

Lindungi Hak Kami sebagai Konsumen dan Nasabah Bank! (Mempertanyakan SOP transaksi perbankan di Indomaret)

"Yang Fana adalah Waktu, Kita Abadi"