NEW HISTORICISM DALAM PERKEMBANGAN KRITIK SASTRA

oleh Novi Diah Haryanti

Judul     : New Historicism dalam Perkembangan Kritik Sastra
Penulis  : Melani Budianta
Terbit   : Jurnal Susastra, Vol. 2 no 3 tahun 2006 

Tulisan Melani Budianta dalam jurnal Susastra, Vol. 2 no 3 tahun 2006 mencoba melihat kontribusi New Historicism (NH) dalam sejarah kritik sastra di Barat dan apa yang ditawarkannya bagi kritik sastra Indonesia. Ada tiga pertanyaan yang coba dijawabnya dalam tulisan terkait kritik yang berkembang dalam dua dekade terakhir abad ke-20, 1) pembaharuan apa yang disumbangkan NH? Apakah NH menawarkan kemungkinan-kemungkinan baru bagi kajian sastra di Indonesia? Dan apa keterbatasananya? Dengan kata lain ontologis atau “barang apa” yang diteliti dalam paper Melani Budianta adalah New Histocism  
Budianta memulai tulisannya dengan subjudul “Yang Baru dalam NH”. Sesuai dengan subjudul yang dipilihnya, penelurusan mengenai kapan dan oleh siapa istilah NH pertama dipakai terjawab dalam paragraf pertama. Istilah NH pertama kali digunakan Stephen Greenblattt pada 1982 yang mencoba melihat keterkaitan teks sastra dengan berbagai kekuatan sosial, ekonomi, dan politik yang melingkupinya. Ia mendobrak kecendrungan kajian tekstual yang ahistoris, otonom, dan dipisahkan dari aspek yang berada di luar karya. Tidak hanya menggugat formalisme, menurut Greenblatttt karya sastra ikut membangun, mereproduksi konvensi, norma, dan nilai budaya melalui tindak verbal dan imajinasinya.  Revisi NH terhadap pendekatan formalis maupun sejarah disimpulkan oleh Louis A. Montrose dengan istilah “kesejarahan sastra dan kesastraan sejarah” yang berarti membaca sastra = membaca sejarah dan membaca sejarah = membaca sastra.
            Selanjutnya, lewat subjudul “Yang bukan baru: kesinambungan dan perbedaan teoritis” Melani Budianta mencoba membandingkan NH dengan beberapa teori yang sudah ada sebelumnya. Pertama Budianta membandingkan dengan Cultural Materialism yang dipelopori Raymond Williams pada tahun 60-an. Cultural Materialism yang dipengaruhi oleh neo-Marxis  melihat pentingnya memberi pemaknaan dengan menempatkannya pada kondisi material masanya. Selanjutnya Budianta juga melihat bahwa NH tidak dapat dilepaskan dari teori-teori postrukturalis seperti teori Dekonstruksi Jaques Derrida atau keterkaitan antara tanda dan ideologi yang diungkapkan oleh Rland Barthes. Hanya saja, jika dekonstruksi yang cenderung berpusat pada teks, NH mengutamakan hubungan teks dengan hukum, ekonomi, politik sehingga NH dengan kritik poskolonial, feminis, atau cultural studies yang menekankan dimensi politis-ideologis produk-produk budaya.
             Setelah memaparkan yang baru dan bukan baru dalam kritik NH, pada bagian selanjutnya Budianta membicarakan “Teori dan Metode: Foucault dan Geertz”. NH banyak bertumpu pada konsep kekuasaan Michel Foucault yaitu keniscayaan yang selalu hadir dalam setiap interaksi manusia, termasuk bahasa. Karena relasi kuasa bersirkulasi terus menerus tanpa henti mendorong kreativitas dan produktivitas, maka karya sastra dengan sendirinya menghadirkan relasi kuasa itu melalui bahasa yan dipakainya. Tidak hanya itu pengaruh Foucault tampak dari definisi Greenblattt tentang kebudayaan yaitu ruang tempat tarik menarik antara “kendala” dan “mobilitas”. Kritik NH umumnya menempatkan “subjek” dalam suatu tegangan antara menjadi agen yang mempunyai kesadaran akan pilihan, tindakan, kemauan, dan pihak yang ditaklukan atau mengalami subjektivikasi oleh idelogi atau nilai-nilai yang dominan. Pengaruh Clifford Greertz tampak pada metode “thick description” yaitu metode etnografi untuk memahami suatu produk budaya lain dengan rinci mengupas lapisan makna yang kompleks dalam kode-kode budaya yang mendasarinya. Sebagai penutup, Budianta menegaskan berbeda dengan pendekatan sejarah yang memakai teks dan produk budaya yang menonjol atau penting pada zamannya, NH menggunakan hal-hal yang tampak remeh-temen dan tersisihkan dari sejarah dan menyadingkannya dengan teks sastra yang dimaknai untuk menunjukan bagaimana ideologi beroperasi.
            Pada bagian “Dimensi Ekonomi: Puitika Pasar dalam Karya Sastra dan Kritik Sastra”, Budianta melihat dimensi ekonomi sangat kuat mewarnai pendekatan NH. Menurut Greenblattt interaksi budaya didasari oleh logika pertukaran. Kebudayaan dilihat sebagai jaringan negosiasi untuk pertukaran benda-benda material, gagasan, dan pertukaran manusia. Karena NH merupakan pendekatan yang lahir dalam tatanan masyarakat kapitalis, mau tak mau akan diwarnai oleh sistem yang membentuknya. Itulah yang membuat jargon seperti negosiasi, pertukaran, sirkulasi, merupakan metafor sistem ekonomi yang bertumpu pada sirkulasi uang dan modal.
            “Sumbangan dan Keterbatasan”, menurut Budianta fokus perhatian NH pada yang bersifat sinkronik dan mikro merupakan kekuatan dan keterbatasan. Salah satu sumbangan NH adalah mempelopori penjelajahan sejarah di bidang sastra dengan memakai wawasan dan konsep-konsep postruktural. NH juga menunjukan kekayaan yang ditawarkan oleh studi lintas disiplin, antara sejarah, sastra, ekonomi, politik.
            Terakhir pada “Pasar dalam Tjerita Boedjang Bingoeng: Melupakan dan Membingkai Teori” Melani Budianta mencoba menjawab pertanyaan apakah NH bermanfaat bagi kajian sastra di Indonesia. Sebelum memulai analisis, Budianta mengambil penelitian Tinneke Hellwig mengenai novel populer Fientje de Finiks. Dengan pendekatan feminis, Hellwig menunjukan bahwa baik novelnya maupun dokumen-dokumen sejarah tentang kejadian peristiwa yang sama , telah sama-sama membungkam subjek yang dibicarakannya, perempuan, melalui bias nilai patriarki yang media sastra, jurnalisme, dan sejarah kolonial. Hal tersebut menunjukan Hellwig telah melakukan penelitian sejarah dengan bingkai feminis dan memperlihatkan berbagai penelitian tidak muncul dari satu pendekatan tapi permasalahan yang kemudian menuntut jawaban dengan kerangka konseptual yang lintas pendekatan. Itulah yang membuat Budianta tidak memikirkan NH ketika menulis kajian tentang naskah Aman Datoek Madjoindo berjudul “Tjerita Boedjang Bingoeng”. Ia membuat penelitian diakronis mengenai “mengapa pasar dan uang begitu sentral dalam  Tjerita Boedjang Bingong?” dan mengaitkannya dengan Si Doel Anak Jakarta yang direproduksi menjadi dua film karya Sjuman Dajaja, dan sinteron produksi Rano Karno. Cara kerjanya, sebagai peneliti Melani Budianta tidak mulai dari teori atau pendekatan melainkan dari teks lalu melihat berbagai permasalahan yang ditawarkan oleh teks itu untuk diangkat sebagai penelitian. Pada saat yang sama, berbagai konsep, teori, model-model kajian yang pernah dibacanya telah terinterbalisasi sehingga memberinya “kacamata-kacamata” yang memungkinkannya menangkap permasalahan dalam teks (hlm.18). Sebagai penutup Melani Budianta mengajak pembaca untuk melakukan hal yang sama: membaca model-model kajian yang menerapkan berbagai konsep, teori, dan pendekatan, kemudian melupakannya ketika sedang menggeluti teks-teks sastra, sehingga dapat menemukan permasalahan-permasalahan yang kontekstual. 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis Dongeng

"Yang Fana adalah Waktu, Kita Abadi"

Lindungi Hak Kami sebagai Konsumen dan Nasabah Bank! (Mempertanyakan SOP transaksi perbankan di Indomaret)