Nilai-Nilai Keislaman dalam Forum Lingkar Pena (Bag.2)


Nilai-nilai Keislaman dalam Forum Lingkar Pena
            Komunitas sastra Indonesia ada sejak awal tahun 1970 ketika Persada Studi Klub (PSK) pimpinan Umbu Landu Paranggi memulai proses kreatifnya di kawasan Malioboro. Hanya saja, istilah komunitas sastra baru popoler sejak Komunitas Sastra Indonesia (KSI) lahir pada 1996 (Herfanda, 2008).
            Herfanda mengungkapkan, komunitas-komunitas yang lahir pada tahun 90-an seperti KSI dan Revitalisasi Sastra Pedalaman (RSP), menjadi gerakan ‘sastra perlawanan’ terhadap hegemoni pusat-pusat di Jakarta. Hal ini membuat komunitas-komunitas tersebut kurang memberikan pembinaan terhadap kualitas karya para anggotanya. Tak heran jika RSP lebih dulu bubar tanpa melahirkan karya besar, sedang KSI menjadi komunitas yang cukup popular karena para penulis ‘sudah jadi’ yang bergabung menjadi anggotanya.[1] Namun, tidak semua komunitas muncul untuk melawan hegemoni pusat tersebut. Salah satunya adalah Forum Lingkar Pena yang sejak awal bertujuan untuk membina dan meningkatkan kualitas menulis para anggotanya.
Forum Lingkar Pena (FLP), lahir dari kegiatan kumpul-kumpul yang kerap dilakukan di masjid Ukhuwah Islamiyah, Universitas Indonesia. Bukan sekadar kumpul, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Muthmainnah, dan beberapa kawan lainnya kerap melakukan sharing seputar kegiatan tulis menulis. Banyaknya anak muda yang ingin berkiprah di bidang kepenulisan serta minimnya pembinaan terhadap peningkatan kualitas tulisan dan wadah sebagai penampung kreativitas, menjadi latar belakang proses terbentuknya FLP.
Kehadiran FLP, menjadi alternatif bagi siapapun yang ingin mengasah kemampuan menulisnya. Hal tersebut terlihat dari beragamnya profesi para anggota FLP, mulai dari siswa, mahasiswa, ibu rumah tangga, pekerja kantoran (swasta), PNS, sampai para TKW.[2]  Asas kebersamaan, ketulusan, dan egaliter, menimbulkan rasa persaudaraan antara anggota FLP. Salah satunya terlihat dari anotologi-antologi[3] yang kerap diterbitkan untuk menggalang dana. 
Selain lewat pertemuan rutin, untuk mempercepat proses belajar para anggotanya, pengurus FLP juga menyusun materi ajar (modul), yang digunakan sebagai pegangan dan panduan (arahan) dalam menulis. Terakhir, pembinaan kemampuan menulis anggota FLP dilakukan melalui penerbitan karya-karyanya.
            Salah satu cara untuk melihat Islam sebagai roh dalam berorganisasi dengan mengupas modul FLP. Modul FLP merupakan salah satu bagian pembinaan (kaderisasi) yang bertujuan memberi panduan atau arahan bagi para anggotanya. Saat ini, FLP pusat telah memiliki modul penulisan fiksi dan modul organisasi. Modul penulisan fiksi yang dibuat, baru tahap awal.[4] Namun, beberapa wilayah/cabang/ranting FLP telah memiliki modul yang disusun sesuai dengan kebutuhannya masing-masing, diantaranya FLP Jakarta.
            FLP Jakarta berdiri pada 11 September 2000.[5] Dibandingkan dengan cabang lainnya, keanggotaan FLP Jakarta sangatlah beragam,[6] tingginya minat untuk bergabung dengan FLP membuat recuitment anggota baru dilakukan tiap enam bulan sekali. Setidaknya, FLP Jakarta menerima 50 pendaftar ditiap semester. Menjadi unik karena walaupun telah berdiri selama hampir sembilan tahun, FLP Jakarta tidak memiliki sekertariat yang tetap. Pertemuan rutin anggota tiap minggu, dilakukan diberbagai tempat seperti teras Masjid Pusat Dakwah Muhamadiyah di kawasan Menteng Jakarta Pusat, ataupun saat ini di Masjid Amir Hamzah, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat.
            Selain tempat yang kerap berpindah, keunikan lain FLP Jakarta terletak dari jenjang keanggotannya. Jika dalam AD/ART FLP, terdapat tiga jenjang keanggotaan, muda, madya, andal, maka di FLP Jakarta calon anggota –berada pada jenjang pramuda –harus terlebih dulu mengikuti pelatihan penulisan selama enam bulan. Di akhir pelatihan, digelar inaugurasi untuk mengevaluasi hasil pelatihan dan mengukuhkan calon anggota FLP Jakarta memasuki jenjang muda dan menjadi anggota FLP yang resmi.
            Hingga kini, FLP Jakarta telah memiliki 13 angkatan. Setidaknya 70 orang anggota, aktif berkumpul tiap minggunya.[7] Banyak karya yang telah dihasilkan FLP Jakarta seperti, From Batavia With Love (antologi FLP Jakarta, Syaamil, 2003), Hari ini Aku Cantik Sekali (Azimah Rahayu, Syaamil, 2003), Kantin Love Story (Zaeral Radar T, LPPH, 2004). Di Selubung Malam (Novia Syahidah, DAR! Mizan, 2004), Putri Surat Cinta (Antologi FLP Jakarta, LPPH, 2005), Mahligai Kedua (Taufan E. Prast, LPPH, 2005), Jejak-jejak Cinta (Beni Jusuf, MU3 Books, 2005), Gue Bukan Bintang di Langit (Billy Antoro, LPPH, 2005), Bidadari (Asa Mulchias, MU3 books), Muslimah Nggak Gitu, Deh! (Andi Tenri Dala F. dkk., LPPH, 2007).
            Jumlah anggota, pluralitas, dan produktivitas tersebut yang membuat saya memilih untuk meneliti Materi Kelompok Pramuda Forum Lingkar Pena Jakarta yang dibuat pada 2008. Materi kelompok pramuda ini penting karena menjadi acuan (arahan) bagi anggota baru untuk mengenal organisasi Forum Lingkar Pena, memahami wawasan keislaman versi FLP, dan melatih kemampuan menulis untuk mencapai jenjang kelompok muda. Hal itulah yang membuat modul 104 halaman ini, dibagi menjadi tiga bagian; 1) KE-FLP-AN (Pengetahuan Dasar tentang Forum Lingkatr Pena), 2) Wawasan Keislaman, dan 3) Kepenulisan.
            Tulisan Helvy Tiana Rosa berjudul FLP, Penulis dari 100 Kota menjadi pembuka bagian KE-FLP-AN. Lewat tulisan tersebut, Rosa menuliskan sejarah berdirinya lingkar pena, visi, misi, dan FLP versus ‘Sastra Sekuler’. Dengan mengutip artikel berjudul Apakah Forum Lingkar Pena itu? Sebuah ‘Pabrik Penulis Cerita’ (Koran Tempo), dan kutipan dari Taufiq Islamil FLP adalah hadiah Tuhan untuk, Rosa, mencoba memotivasi anggota yang baru bergabung dengan FLP.
            Rosa mencatat ada dua kelemahan FLP. Pertama, kualitas karya sebagian besar anggota FLP masih dianggap oleh para kritikus sastra sebagai ‘pemula’ yang terus bermetamorfosis. Kedua adalah perdebatan yang terdapat di mailing list [email protected] mengenai anggapan bahwa penulis yang mendirikan komunitas penulisan adalah mereka yang tidak pecaya dan takut untuk tampil sendirian. Sedangkan, sisi positif FLP diantaranya: pertama, kehadiran FLP yang bercorak Islami dianggap menjadi pesaing bagi eksistensi ‘sastra sekuler’. Kedua, di antara banyaknya kritik terhadap kualitas karya FLP, ada pula karya-karya yang mendapat perhatian dan penghargaan dari peminat sastra seperti Asma Nadia yang menulis 10 buku setahun dan Izzatul Jannah menulis setidaknya 30 cerita anak.
            Sebagai organisasi yang menjadi wadah bagi para penulis muda, persoalan minimnya kualitas karya sebagian besar anggota FLP membuat Irfan Hidayatullah membuka divisi kritik sastra pada masa kepengurusannya. Sehingga, anggota FLP tidak hanya belajar menulis tapi juga belajar melakukan kritik terhadap karya-karya FLP yang sudah diterbitkan dan termotivasi untuk menghasilkan karya yang lebih baik. Selain membuka divisi kritik, pengurus pusat FLP terus menyempurnakan modul yang digunakan sebagai acuan bagi cabang yang belum memiliki modul atau digunakan bagi cabang yang sedang menyusun modul sendiri dengan standar isi yang ditetapkan oleh FLP pusat. 
            FLP adalah organisasi kepenulisan berbasis Islam. Hal itu terlihat dari Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) yang terdapat pada bagian KE-FLP-AN. Terkait dengan asas keislaman tersebut, FLP  memiliki visi memberikan pencerahan kepada pembaca dan masyarakat melalui tulisan. Dengan visi tersebut, FLP memiliki empat misi utama yaitu:
a.       Meningkatkan mutu dan produktivitas karya anggota sebagai sumbangsih berarti bagi masyarakat.
b.      Membangun jaringan penulis yang menghasilkan karya-karya berkualitas dan mencerdaskan.
c.       Meningkatkan budaya membaca dan menulis di kalangan masyarakat.
d.      Memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi penulis.
            Anggota FLP terdiri dari anggota biasa (anggota) dan anggota kehormatan yang di-rekruit berdasarkan tiga sifat yaitu agama, kepenulisan, dan keorganisasian. Sedangkan dalam mengader anggotanya, ada tiga asas yang diterapkan sesuai dengan AD/ART. Pertama, asas kebersamaan, setiap anggota berupaya menggali potensi bersama, saling memberi, menerima dan mendukung, tanpa meninggalkan kompetensi yang sehat dalam berkarya. Kedua, asas kontinuitas yaitu setiap anggota memiliki kontinuitas dalam berkarya dan terlibat dalam proses pembinaan. Ketiga, asas kompetensi, setiap anggota menjaga dan meningkatkan kualitas karya dengan penuh keiklasan, kekuatan, tekad, dan memiliki kejelasan arah serta tujuan dalam mencerahkan umat.  
            Untuk memudahkan proses pembinaan kemampuan menulis, FLP membuat jenjang keanggotaan dimulai dari muda, madya, dan andal. Jenjang muda yaitu mereka yang memiliki keinginan, ketekunan untuk menulis namun belum memiliki pengalaman dan pengetahuan menulis. Kelompok diskusi muda diarahkan dan dibina oleh anggota madya dan andal. Madya, yaitu mereka yang telah menghasilkan karya di media massa lokal atau nasional atau pernah memenangkan sayembara penulisan tingkat daerah maupun nasional, namum belum cukup aktif. Kelompok diskusi madya diarahkan oleh anggota andal. Andal, yaitu mereka yang aktif menulis di berbagai media, telah membukukan karya-karyanya, pernah menjuarai sayembara penulisan tingkat nasional dan menjadi akademisi pada bidang sastra atau bidang jurnalistik, serta menjadi pembicara dalam berbagai acara yang berkaitan dengan kepenulisan. Kelompok diskusi andal saling mengarahkan, membina, dan bertukar posisi kepemimpinan. 
            Tulisan Azimah Rahayu berjudul Rumah Cahaya Penjaringan, menjadi materi penutup bagian dari KE-FLP-AN (Pengetahuan Dasar tentang Forum Lingkatr Pena). Rumah Cahaya yang merupakan kependekan dari Rumah baCa dan Hasilkan karYa,  adalah salah salah satu wujud dari visi FLP membangun Indonesia cinta membaca dan menulis yang diharapkan dapat dibangun diseluruh cabang FLP di wilayah Indonesia.
            Bagian kedua Materi Kelompok Pramuda Forum Lingkar Pena JAKARTA Jakarta mengupas tentang wawasan keislaman. Ada tiga tulisan yang menggambarkan wawasan keislaman dalam modul ini. Pertama, tulisan Azimah Rahayu berjudul Anda Menulis, Maka Anda Hidup. Ada lima interpretasi Rahayu terhadap kalimat anda menulis, maka anda hidup, yaitu; 1) tulisan kita sama dengan prasasti hidup kita, 2) sebagai parameter perkembangan pemikiran, 3) curahan jiwa karena menulis adalah bukti bahwa kita masih hidup, merasakan, berbagi dan akhirnya mengerti, 4) sumber penghidupan adalah makna yang paling pragmatis, karena ada penulis yang mampu hidup dengan royalti dan honor lainnya yang didapat dari kegiatannya menulis, 5) berdakwah lewat tulisan.
            Dari kelima interpretasi tersebut, poin terakhirlah yang merupakan inti wawasan keislaman dalam tulisan Rahayu. Berikut saya tampilkan secara penuh apa yang dimaksud Rahayu berdakwah lewat tulisan.
                 Sesungguhnya semua makna di atas dapat diberi jiwa dengan            makna ini: Bedakwah lewat tulisan[8].
a.       Tulisan, apapun bentuknya adalah media yang sangat efektif untuk berdakwah, kerena:
§   Dapat menjangkau semua lapisan masyarakat tanpa dibatasi ruang dan waktu.
§   Upaya pembentukan opini yang sangat efektif.
§   Dapat meminimalisir kesan menggurui, bahkan sekalipun bentuk tulisan itu seperti ‘khotbah’.
§   Tulisan-tulisan berupa naskah fiksi, ataupun renungan dengan sentuhan sastra biasanya juga lebih menyentuh dan membetukan atsar/kesan mendalam.
b.      Ada beberapa kaidah/adab yang perlu diperhatikan oleh penulis islami.
§   Penulis cerita islami selayaknya berusaha memiliki wawasan keislaman yang baik.
§   Cerita yang ditulis tidak boleh bertentangan dengan akidah dan syariat dan tidak mengeksploitir dan mendramatisir nilai-nilai jahiliyah.
§   Cerita tersebut mampu membawa pembaca kepada ammar ma’ruf nahi mungkar&sarat ibrah (hikmah).
§   Cerita tersebut dibuat karena Allah dalam rangka dakwah ilallah.
c.       Ikatlah ilmu dengan menuliskannyakaidah yang perlu kita dipegang. Alasannya yang kuat, mengapa kita perlu menulis dan harus terus menulis.

Tulisan kedua berjudul Menggores Pena Mendidik Diri oleh Asa Mulchias. Sebelum menyimpulkan wawasan keislaman versi Mulchias, berikut saya tampilkan kutipan tulisan Mulchias.
     Menjadi penulis dengan label ‘islami’ atau ‘humanis’ memang tidak mudah. Tidak semudah menjadi penulis novel esek-esek, tabloid gaya hidup metropolis, atau koran yang hanya menyajikan peristiwa-peristiwa kriminal plus praktik-praktik kejahatan di negeri ini. Penulis yang memilik jalan sebagai penulis kebaikan memiliki sejumlah pasal yang mesti dipatuhi. Pasal yang membuat dia tidak sebebas penulis-penulis yang telah mengabdikan diri menulis ayat-ayat setan yang menjerumuskan.

Menurut Mulchias ada pasal-pasal yang harus dimiliki sebagai penulis islami seperti semangat mengajarkan kebaikan walau sedikit sehingga tidak hanya pembaca yang akan mendapat manfaat, tapi diri penulis sendiri. Dengan kata lain, penulis tidak hanya menganjurkan untuk berbuat baik tapi dia pun harus berbuat baik. Pasal yang kedua, janganlah menjadi penulis munafik yang hanya menulis kebaikan untuk mendapat honor dan ingin tulisannya. Pasal yang ketiga, dakwah adalah kewajiban setiap orang. Keempat, jangan meninggalkan para nabi hanya karena kita belum mampu menjalankan ketentuannya. Pasal yang terakhir, seruan untuk menulis dengan simponi kebenaran tanpa melupakan kalau kita juga berhak menikmati simponi itu untuk diri sendiri.
Tulisan terakhir mengenai wawasan keislaman, ditulis oleh Ahmad Lamuna berjudul Universalitas Islam. Lamuna mencatat, kemunculan FLP diiringi dengan munculnya isu sastera islami. Dari FLP muncul pemuda-pemuda yang bergairah untuk melaksanakan Da’wah melalui goresan penanya. Ia pun menampilkan beberapa karakteristik sastra islami yang didapat dari definisi beberapa tokoh berikut ini.
1.      Karya sastra itu dibuat sebagai bentuk menifestasi seorang
      muslim dalam mengabdi kepada Allah.
2.      Karya sastera itu berisikan dan berlandaskan akhlak islam.
3.      Karya sastera itu mengandung nilai yang membuat manusia
      mengarah kepada kesempurnaan (karya itu mengandung
      pencerahan).

Sebuah karya yang islami menurut Lamuna, tidak hanya menampilkan simbol-simbol islam atau memiliki tokoh seorang kyai, ustadz, jilbaber, atau ikhwan, melainkan memenuhi ketiga unsur tersebut.    
Wawasan keislaman Materi Kelompok Pramuda Forum Lingkar Pena JAKARTA Jakarta yang ditulis oleh Azimah Rahayu, Asa Mulchias dan Ahmad Lamuna mempelihatkan karakteristik isi yang sama. Pertama, karya sastra dibuat untuk Allah, sehingga apa yang ditulis di dalam tidaklah bertentangan dengan syariat Islam. Kedua, menulis sebagai bagian dakwah. Ketiga, memberikan manfaat bagi penulis dan pembaca. Isi wawasan keislaman ini hanyalah penegas dari bagian KE-FLP-AN yang juga berbicara menyinggung ketiga hal tersebut.
Bagian terakhir dari modul FLP JAKARTA adalah materi kepenulisan. Untuk mempermudah, daftar materi kepenulisan dan penulisnya saya tampilkan dalam bentuk tabel berikut ini.
Tabel 1. Daftar Penulis dan Judul Tulisan









No.
Penulis
Judul Artikel
1
Beni Jusuf
  • Soal Memulai Menulis dan Menulis Bebas

  • Menganalisis Segmen Pasar dan Memilih Pasar Sasaran

  • Karakteristik Media Cetak

2
Novia Syahidah
  • Cerpen

  • Tenik Penokohan

  • Latar dan Pelataran

  • Penyusunan Konflik

3
Ahmad Lamuna
  • Menggali dan Mengembangkan Tema

  • Plot dan Ploting

4
Aep Saefulloh
  • Teknik Membangun Cerita

  • Membuka dan Menutup Secara Manis

5
Palris Jaya
  • Sudut Pandang

  • Gaya Bahasa

  • Tata Bahasa dan EYD

6
Andi Tenri Dala F
  • Fokus Cerita

  • Revisi Karya Fiksi

7
Billy Antoro
  • Reportase Untuk Tulisan Sastra Fiksi

  • Feature

  • Opini dan Kegelisahan Diri


 Sebagai organisasi kepenulisan, modul memiliki peran yang penting dalam proses akselerasi kemampuan menulis dan kaderisasi anggota. Tidak hanya memuat berbagai teknik dalam menulis, separuh halaman modul ini memberikan gambarkan kepada pembaca untuk mengetahui Forum Lingkar Pena. Dengan membaca Materi Kelompok Pramuda Forum Lingkar Pena Jakarta, terlihat bahwa nilai keislaman yang diusung FLP, tidak hanya terimplementasikan dalam  karya-karya yang ditulis para anggota FLP. Namun, menjadi asas yang tertuang dalam AD/ART. Hal tersebut berarti semangat keislaman telah memperkokoh FLP sebagai organisasi kepenulisan berbasis Islam yang menggunakan karya sebagai media dakwah. 



     [1] Selain tulisan Herfanda, “Reposisi dan Pergeseran Peran Komunitas Sastra” dalam Komunitas Sastra Indonesia Catatan Perjalanan  (2008), mengenai sastra pedalaman juga diulas oleh Will Derks, “Sastra Pedalaman Pusat-pusat Sastra Lokal dan Regional di Indonesia” dalam buku Clearing a Space Kritik Pascakolonial tentang Sastra Indonesia Modern (2006)   
     [2] Para TKW di Hongkong, mendirikan FLP Hongkong pada 16 Februari 2004 yang seluruh anggotanya adalah pembantu rumah tangga.  
     [3] Contoh antologi Ketika Duka Tersenyum (2002) yang seluruh penjualannya didedikasikan bagi Pipiet Senja yang mengidap thalassemia. 
     [4] Lihat wawancara dengan Rahmadiyanti yang saat ini menjabat sebagai CEO Lingkar Pena Publishing House (LPPH) dan koordinator Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM).
     [5] Tentang FLP JAKARTA dapat dilihat di http://galeriflpJakarta.multiply.com
     [6] Menurut Irfan Hidayatullah, keanggotaan FLP cabang Jabodetabek lebih plural, berbeda dengan FLP di UGM atau Jatinangor yang anggotanya mayoritas berstatus mahasiswa. Hal itu, juga ditegaskan oleh Taufan. E Prast yang mengungkapkan bahwa keanggotaan FLP Jakarta terdiri dari pelajar, ibu rumah tangga, mahasiswa, dan golongan pekerja.
     [7] Data per 8 Maret 2009
     [8] Berdakwah Lewat Tulisan yang diberi Bold oleh Azimah Rahayu, memperlihatkan penekanan yang ingin disampaikan penulis.    

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis Dongeng

"Yang Fana adalah Waktu, Kita Abadi"

Lindungi Hak Kami sebagai Konsumen dan Nasabah Bank! (Mempertanyakan SOP transaksi perbankan di Indomaret)