Nilai-nilai Keislaman dalam Karya Sastra Forum Lingkar Pena (FLP Bag.3)


            Sebagai organisasi yang berazaskan Islam, FLP menekankan kegiatan menulis sebagai bagian dakwah dan pencerahan kepada anggotanya. Dakwah berasal dari bahasa Arab dakwah dan kata dâ’a, yad’u yang berarti panggilan, ajakan, seruan (Aziz, 2004: 2). Berdasarkan etimologi tersebut, Aziz, mengungkapkan setidaknya ada tiga pengertian dakwah.
                 1) Proses penyampaian agama islam dari seseorang kepada orang lain, 2) penyampaian ajaran Islam tersebut dapat berupa   amr ma’ruf (ajaran kepada kebaikan) dan nahi mun’kar (mencegah kemungkran), 3) usaha    tersebut dilakukan secara sadar dengan tujuan terbentuknya suatu individu atau masyatrakat yang taat dan mengamalkan sepenuhnya ajaran Islam.  (2004: 10)
            Berdakwah adalah kewajiban seluruh umat muslim dan bersifat universal itulah mengapa tugas dakwah tidak hanya dibebankan kepada ulama atau cendikiawan muslim. Ada tiga metode yang dapat dilakukan untuk dakwah. Pertama, dakwah Qoliyah berbentuk ucapan seperti, ceramah, diskus, tanya jawab. Kedua, dakwah Kitabiyah, yaitu penyampaian dakwah melalui tulisan seperti, melalui media masa, buku-buku, kitab agama, gambar, lukisan. Ketiga, dakwah alamiyah, penyampaian dakwah dengan tidak menggunakan kata-kata lisan maupun tulisan tetapi dengan tindakan nyata (2004: 155-156). Sifat universalitas dakwah itu yang ditangkap oleh FLP dan diterapkan dalam karya-karyanya.   
            Salah satu dasar pemikiran dakwah adalah hadis, “ballighu annii walau ayatan”, artinya sampaikanlah apa yang kalian dapat dari aku (Muhammad) walau cuma satu ayat (Budiwanti, 2000: 6). Dengan metode penyampaian dakwah lewat tulisan (kitabiyah), para anggota FLP menulis karya-karya Islami yang melahirkan tren sastra islami di tahun 2000-an.     
            Karya-karya yang digolongkan zaman Islam adalah karya-karya yang secara jelas memperlihatkan pengaruh atau alam pemikiran Islam. Karya-karya tersebut dibagi menjadi dua: pertama adalah karya yang bersifat sufistik yang ditulis para ulama yang mendalami pengetahuan tentang Islam dan mempunyai kencenderungan terhadap sufisme. Kedua adalah karya yang memperlihatkan pengaruh sastra Islam baik dari bahasa Arab maupun Persia atau karya ciptaan baru yang memperlihatkan pengaruh agama/peradaban Islam terhadap penulisnya (Rosidi, 1995:337-338). Dengan menekankan pada diri sastrawan sebagai pencipta karya sastra, Hasjmy mengungkapkan ciri khas sastrawan muslim sebagai berikut.
     1) hati dan jiwannya penuh dengan keimanan, 2) kerjannya senantiasa beramal salih, berbuat bakti,3) pancaran iman menjelma dalam amal perbuatannya, 4) mereka selalu mengenang Allah, sehingga berujud dalam karya-karyanya (1977: 62-63).
            Untuk melihat nilai keislaman dalam karya-karya Forum Lingkar Pena, saya akan memfokuskan pada satu novel berjudul Diselubung Malam karangan Novia Syahidah (selanjutnya disebut Via). Novel tersebut saya pilih karena dua alasan, pertama, Novia Syahidah adalah salah satu penulis FLP Jakarta yang menulis empat artikel dalam Materi Kelompok Pramuda Forum Lingkar Pena JAKARTA Jakarta, yaitu Cerpen, Tenik Penokohan, Latar dan Pelataran, serta Penyusunan Konflik. Sehingga, saya berasumsi anggota pramuda tidak hanya belajar teknik menulis dari artikel yang ditulisanya di modul, tapi juga mempelajarinya secara langsung dari karya-karya yang dibuatnya. Kedua, novel tersebut mendapat penghargaan dari Forum Lingkar Pena sebagai Novel Remaja Terpuji 2005. Penghargaan tersebut memperlihatkan novel Di Selubung Malam merupakan salah satu novel terbaik yang dimiliki FLP Jakarta.  
            Novi Syahidah lahir di Payakumbuh, 7 Desember 1973. Ia menekuni dunia tulis menulis sejak bergabung dengan FLP Jakarta pada 2002. Buku pertamanya Putri Kejawen (Pustaka Annida, 2003), pernah dimuat sebagai cerita bersambung di majalah Annida. Selanjutnya, ia menulis novel Titip Rindu Buat Ibu (DAR! Mizan, 2003) yang berlatar Minangkabau, 1927. Tak hanya menulis novel, ia juga menulis kumpulan cerpen yang memuat latar tempat dan budaya yang beragam seperti NTB, Lampung, Thailand, Somalia, Vietnam, dan Tibet berjudul Gadis Lembah Tsang Po (Asy-Syaamil, 2003). Cerpen pertamanya Pasanga Ri Kajang menjadi nominator Kategori Sastra dalam Lomba Cipta Cerpen Islami FLP Tingkat Nasional. Beberapa buku Antologi cerpen memuat karyanya, seperti Dari Negeri Asing (Asy-Syaamil, 2002), Bulan Kertas (FBA Press, 2003), 20 Tahun Cinta dan Mengetuk Cintamu (Senayan Abadi, 2003), serta From Batavia With Love (Asy-Syaamil, 2003).
            D Selubung Malam (DAR! Mizan, 2004) adalah karya Novia Syahidah yang mengupas mengenai suku Sasak di Lombok. Sistem kelas dalam tingkatan gelar kebangsawanan yang diterapkan masyarakat Lombok, membuat pernikahan menjadi hal yang tidak mudah bagi kaum perempuan. Hal itu yang terjadi pada tokoh Saqnah, seorang keturunan bangsawan Sasak di Bayan Timur yang jatuh cinta pada Gerantang yang gelar bagsawanannya lebih rendah.  Penikahan yang dilakukan Saqnah dengan Gerantang membuat Saqnah terbuang dari keluarga besarnya. Watak Gerangtang yang mulanya baik, berubah menjadi buruk karena pengaruh judi. Cintanya pada Saqnah, terkikis dengan hutang yang menumpuk pada seorang rentenir, Muhanar. Kekalahan terus menerus dalam berjudi membuat Gerantang tak sanggup membayar hutangnya. Maka, Muhanar pun meminta Saqnah sebagai penebus hutang.
            Sikap pengecut Gerantang itulah yang memicu konflik. Perkosaaan yang dilakukan Munahar pada Saqnah dan nyaris saja terjadi pada Mandalika –anak perempuan Saqnah –menimbulkan kebencian pada sosok ayah (Gerantang) dalam diri Mandalika. Beruntung Jamanik yang sudah menaruh hati pada Mandalika, menyelamatnya. Sebagai tokoh yang pencerahan, Jamanik lepas kontrol melihat gadis yang dicintainya hampir menjadi korban perkosaan bapaknya. Sehingga, tanpa sadar Jamanik membunuh Munahar dan menghabiskan waktu dipenjara.
            Rasa dendam Mandalika dan sang kakak Jagat Wira, membuat kakak-beradik ini mencari Gerantang untuk membalaskan dendamnya. Belum juga sempat ia membunuh ayahnya, Jagat Wira menemukan kondisi Gerantang di Sumbawa sangat mengenaskan. Bandannya kurus kering, kakinya pincang, matanya buta sebelah. Cacat yang dialami Gerantang membuat Jagat Wira kesal dan marah. Namun, hal tersebut membuka hatinya bahwa Tuhan telah menghukum sang ayah dengan caranya sendiri, hingga ia tak perlu mengotori tangannya. Sedangkan, Mandalika yang sebelumnya dipenuhi dendam berubah setelah mendekatkan diri dan menyerahkan semuannya pada Tuhan. Sebagai media dakwah, novel ini ditutup dengan perubahan watak para tokohnya menjadi lebih baik karena kedekatannya dengan agama.  
            Sebagai karya Islami, Di Selubung Malam memperlihatkan pengaruh peradaban Islam terhadap penulisnya. Pengaruh tersebut terlihat dari syariat Islam yang terdapat dalam novel. Syariat Islam merupakan ketetapan Allah SWT tentang ketentuan hukum dasar yang bersifat global dan kekal, sehingga tidak mungkin dirombak oleh siapapun. Hamid mengungkapkan secara garis besar, syariat Islam mencakup tiga hal.
     1) Petunjuk dan bimbingan untuk mengenal Allah SWT dan alam gaib yang tak terjangkau oleh indera manusia (Ahkam syar’iyyah I’tiqodiyyah) yang menjadi pokok bahasan ilmu tauhid; 2) Petunjuk untuk mengembangkan potensi kebaikan yang ada dalam diri manusia agar menjadi mahluk terhormat yang sesuangguhnya (Ahkam Syar’iyyah khuluqiyyah) yang menjadi bidang bahasan ilmu tasawuf (ahlak); 3) Ketentuan-ketentuan yang mengatur tata cara beribadah kepada Allah SWT atau hubungan manusia dengan Allah (vertikal), serta ketentuan yang mengatur pergaulan/hubungan antara manusia dengan sesamanya dan dengan lingkungannya. (2007: 22-23)
             Berdasarkan tiga cakupan syariat tersebut, dalam penelitian ini saya akan mengupas mengenai ketentuan-ketentuan yang mengatur tata cara beribadah kepada Tuhan, hubungan antara manusia dengan sesamanya dan lingkungannya. Syariat tersebut, ditampilkan Syahidah lewat karakteristik tokoh-tokoh pencerahan yaitu Jamanik, Biyu, Pipit. Adapula tokoh-tokoh yang bertansformasi menjadi pribadi yang lebih baik setelah mendalami agama seperti Mandalika, Jagat Wira, dan Darmaji.  
            Novel Di Selubung Malam dimulai dengan kompleksitas status sosial masyarakat Sasak, di Lombok. Saqnah berasal dari kampu Bayan Timur, yang merupakan kampu paling dihormati di seluruh daerah Bayan. Sebagai anak perempuan dari bangsawan Bayan Timur, Saqnah dan keluarga besarnya, menganut agama Islam Wetu Telu, yang tidak memperlihatkan suatu batasan yang jelas antara adat dan agama.
            Setelah menikahi laki-laki yang gelar bangsawannya lebih rendah, Saqnah meninggalkan kampu Bayan Timur dan tinggal di Meninting. Kehidupan Saqnah pun berubah. Tidak hanya perubahan rumah tangga yang menjadi tidak harmonis karena suaminya menjadi seorang penjudi, tapi kehidupan beragam Saqnah pun perubahan. Setelah meninggalkan kampu Bayan Timur Saqnah mulai mulai melepaskan agama Wetu Telu yang dianutnya. Hal tersebut terlihat dari kutipan  perbincangan antara Saqnah dan Mandalika berikut.     
     “Kenapa kita tidak kembali saja ke Bayan, Inaq? Mungkin di sana kita bisa hidup lebih tenang,” ujar Baiq Mandalika sambil menatap wajah ibunya.
     “Belum tentu di sana kita bisa akan hidup lebih baik, Nak” 
     Baiq Mandalika terdiam. Ia tahu bahwa cara hidup leluhurnya di Bayan sana, yang menganut keyakinan Wetu Telu, memang berbeda dengan cara hidup orang Sasak pada umumnya. (54-55)
            Masyarakat Sasak yang tinggal di Bayan, Barat Laut Lombok, dikenal sebagai penganut Islam Wetu Telu dan Waktu Lima yang saling berlawanan. Menurut Budiwanti (2000: 247), komunitas Wetu Telu di Bayan terdiri dari bangsawan (perwangsa) dan orang biasa (jajarkarang). Bangsawan Bayan Timur mengklaim bahwa garis silsilah mereka lebih tua dan karenanya status kebangsawanan mereka lebih tinggi dari status kebangsawanan keluarga manapun. Untuk menjaga kemurnian garis keturunan dan mempertahankan status serta privilese, kaum bangsawan mencegah saudara dan anak perempuan mereka agar tidak kawin dengan pria dari tingkatan yang lebih rendah.
            Adat perkawinan di Bayan yang memberikan tekanan lebih berat bagi para wanita bangsawan ketimbang kaum laki-lakinya, menurut Budiwanti (2000: 261), mengakibatkan sejumlah wanita tidak kawin (dedare). Pada akhirnya, dedare lokaq/toaq ini tinggal dengan orang tua atau saudara laki-laki mereka sebagai bagian dari anggota keluarga besar (extended family).
            Syahidah menggambarkan nasib dedare toaq lewat tokoh Denda Apti yang terlihat dari kutipan berikut.
     “Kau harus sadar, Apti. Meskipun sampai saat ini belum ada seorang pemuda bangsawan yang melamarmu, kehoramatanmu sebagai seorang pewangsa tetap terjaga. Berbanggalah karena kau tetap bebas mendiami kampu ini sampai kapanpun”
     Denda Apti menunduk. Hatinya jeri. Adakah kehormatan bagi seorang gadis yang tetap melajang sampai melewati batas usia? Menjadi dedare toaq yang akan dipandang sebelah mata oleh orang sekampung. (Syahidah, 2004: 61)
Perubahan kenyakinan tokoh Saqnah dari Islam Wetu Telu ke Islam Waktu Lima dilakukan Syahidah untuk mempermudah proses dakwah dalam karyanya. Dengan memilih Waktu Lima yang ajarannya sesuai dengan syariat Islam, Syahidah memperlihatkan kecendrungan umum pengislaman masyakat Sasak Asli (indigenous)  yang menjadi sasaran kegiatan –kegiatan dakwah Waktu Lima.  
Kemenangan Waktu Lima juga ditampilkan Syahidah lewat para tokoh yang mencoba melawan adat istiadat yang dibuat oleh bangsawan Sasak yang kebanyakan masih menganut Wetu Telu. Hal tersebut terlihat sosok Denda Apti yang selama empat puluh lima tahun patuh pada adat leluhur, mencoba lepas dari adat dengan meninggalkan kampu Bayan mencari Saqnah.
Sebagai novel yang bertujuan memberikan pencerahan dengan berpegang pada nilai-nilai Islam yang universal, Syahidah menutup cerita Denda Apti dengan sikap melunak yang ditunjukannya dengan mendatangi Mamiq (ayah) yang terbaring sakit untuk memimta restu setelah menerima pinangan Darmaji, yang bukan golongan bangsawan. Walaupun tahu bahwa keinginannya untuk menikah dengan orang biasa pasti tak akan direstui, tidak menyurutkan niat Darmaji dan Denda Apti untuk mendatangi Mamiq dan meminta restunya untuk menikah secara agama, seperti tampak pada kutipan berikut.
                 “Maafkan kehadiran saya, Mamiq. Saya memang hanya seorang pemuda biasa yang berniat menikahi Denda Apti tanpa merari dan sajikrama. Bukan karena saya tidak menghormati Mamiq atau tradisi orang Sasak, terutama tradisi di Bayan ini, tapi karena kami sudah sepakat untuk menikah secara agama saja” ujar Darmaji santun (Syahidah, 2004: 254)
Kutipan tersebut, selain memperlihatkan sikap hormat anak terhadap  orangtuanya, juga menegaskan mulai lunturnya adat dan menguatnya pengaruh Waktu Lima dikalangan masyarakat Sasak. Pilihan Denda Apti dan Darmaji untuk menikah secara agama adalah bentuk perlawanan dari kebiasaan merari (kawin lari) yang biasa dilakukan oleh perempuan yang ingin menikah dengan pria yang tidak  direstui oleh keluarga. Merari tersebut membuat pihak lelaki harus membayar sajikrama (mas kawin) yang besarnya sesuai dengan status kebangsawanan sang gadis. Tradisi itu, semakin menyudutkan perempuan Sasak karena mahalnya sajikrama kerap membuat pihak lelaki memilih mundur.
Selain memperlihatkan kompleksitas penikahan di suku Sasak Bayan Timur, sesuai dengan misi dakwahnya, Di Selubung Malam bercerita tentang transformasi diri  para tokoh dalam menjalani hidup yang lebih baik. Kehadiran tokoh-tokoh yang memberikan pencerahan seperti Jamanik, Biyu, dan Pipit adalah pintu gerbang bagi Mandalika, Darmaji, dan Jagat Wira untuk mengenal dan berprilaku secara Islami. Orang yang baik keislamannya tidak hanya saleh secara ritual, melainkan saleh secara sosial. Maksudnya orang tersebut tidak cukup cuma sholat, berpuasa, membayar zakat, dan pergi haji –sesuai dengan rukun Islam saja –juga senantiasa berprilaku baik sebagaimana diajarkan dalam Islam.
Menurut Hamid, ciri-ciri prilaku Islami diantaranya; adil, amal saleh, amanah (jujur), mengajak orang kepada kebijakan (amar ma’ruf), bakti kepada orang tua,  mencintai Allah SWT dan Rosul-Nya, dermawan (murah hati), hemat (tidak boros), hormat, memelihara kesucian diri (iftah), berbuat baik bagi orang lain (ihsan), ikhlas, instropkesi diri, menepati janji, berkerja (mencari nafkah), maaf-memaafkan, malu untuk berbuat kerusakan, mecegah kemungkaran, ridho, sedekah, sederhana, menjalin silaturrahmi, bersyukur, taat. (2007: 505-515). Prilaku Islami itulah yang ditampilkan Syahidah lewat karakteristik para tokoh dalam novel.
Sebagai tokoh penggerak cerita, Mandalikan, mulanya digambarkan sebagai gadis pendendam yang sangat membenci ayahnya. Kejadian pemerkosaaan yang menimpa Saqnah –ibunya– membuat Mandalika ingin membunuh sang ayah. Untuk menetralisasi amarah Mandalika, maka Syahidah menghadirkan tokoh Biyu, yang perannya memberikan nasihat –dakwah keagamnaan –seperti  tampak pada kutipan berikut ini.
     “Lika Manusia memiliki banyak kelamahan, memiliki nafsu dan sifat-sifatnya buruk lainnya. Sementara Allah tidak. Allah mahasemupurna dari segala kelemahan dan kekurangan. Jadi, satu-satunya yang pantas menghukum secara adil adalah Dia.”
     “Jangan membuat diri kita dihasut oleh setan. Setan hanya akan menimbulkan kesombongan dalam diri kita, hingga kita menganggap bahwa kitalah yang pantas menjatuhkan hukuman itu sesuai dengan keinginan kita. Padahal, kita tidak sadar bahwa sesungguhnya pada saat itu hati kita tela dikemudikan oleh setan,” tambah Biyu, tetap dengan nada lembut.
     “Sesungguhnya, dengan alasan apapun, membunuh orantua sendiri bukalah perbuatan yang dibenarkan. Selamanya, kita akan merasa jadi anak durhaka dan orang-orang pun akan menganggap kita manusia biadab.” (Syahidah, 2004: 179-180)      
 Tidak hanya memaafkan sang ayah, sejak mengenal Biyu yang alim, Mandalika menjadi menjadi lebih dekat dengan Tuhan. Hal tersebut terlihat dari kebiasaan sholat, menikuti pengajian yang kerap dilakukan, sampai memakai tutup kepala (jilbab). Perubahan tampilan dan sifat Mandalika terlihat dari percakapannya dengan Jamanik, pada saat mengunjungi Jamanik di penjara. 
     Selama ini ia berharap melihat Baiq Mandalika memakai kerudung seperti ini. Dan ia seperti tidak percaya ketika pada kunjungan pada kunjungan kedua beberapa bulan lalu, Baiq Mandalika datang bersama Darmaji dengan kerudung menutup kepalanya.
      “Kak Jamanik tetap bisa shalat dan mengaji di sini kan?” tanya Baiq Mandalika kemudian.
      Alhamdulillah. Tempat ini membuat saya semakin leluasa mendekatakan diri pada Allah. Saya juga bisa banyak belajar dari narapidana yang lain, sekaligus mengajak mereka untuk lebih banyak beribadah.” (174-175) 
Sifat religius Jamanik juga terlihat dari sikapnya yang santun dan  kebiasaanya mengajar anak-anak kampung membaca Al-Quran. Maka, saat Syahidah menggambarkan Jamanik sebagai sosok yang sangat religius namun mampu membunuh sang ayah yang berusaha memperkosa gadisnya, memperlihatkan bahwa tak ada sifat seseorang yang “benar-benar hitam” atau “benar-benar putih”. Sifat manusia yang mudah berubah ini, memperlihatkan tak ada manusia yang sempurna, karena kesempurnaan adalah milik Tuhan. 
Perubahan sifat juga terlihat dari sosok Darmaji. Setelah majikannya Munahar meninggal, Darmaji, berusaha mengabdi kepada Jamanik agar tidak kehilangan pekerjaan. Untuk memenuhi keinginan tersebut, Jamanik memberikan persyaratan kepadanya untuk menjalankan shalat lima waktu dan shalat Jumat di masjid, membaca Al Quran, tidak boleh mabuk-mabukan, dan dilarang berbohong. Upaya pencerahan yang dilakukan Jumanik terhadap Darmaji ayah terlihat berikut.  
     “Saya hanya berpikir, kira-kira apa kami pantas ke masjid?”
     “Tentu saja pantas. Bahkan sangat pantas. Kalian semua orang Muslim, kan? Sudah jelas itu pantas. Justru aneh kalau kalian mengaku muslim, tapi tidak pernah shalat, tidak pernah ke masjid, tidak pernah baca Al-Quran dan sebagainya.” Jamanik tersenyum. (Syahidah, 2004: 94)
            Jagat Wira adalah tokoh terakhir yang mengalami perubahan setelah bertemu dengan Pipit. Walaupun tidak sereliugus Damanik dan Mandalika, sejak menikah dengan Pipit, mau tak mau Jagat Wira menemani istrinya untuk melaksanakan pengajian subuh di masjid. Tak hanya itu, Pipit juga kerap mengingatkan Jagat Wira untuk melaksanakan shalat tepat waktu. Kehadiran Pipit adalah upaya yang dilakukan oleh pengarang untuk melakukan dakwah dan pencerahan kepada tokoh Jagat Wira. Meskipun belum bisa membuat Jagat Wira melaksanakan shalat lima waktu, setidaknya timbul perasaan tak enak dalam diri Jagat Wira saat melupakan shalat. Hal itu membuktikan bahwa dakwah dan pencerahan yang dilakukan Pipit cukup berhasil.
     Hatinya benar-benar jadi tidak enak. Selama di Batam ia selalu berusaha untuk tetap shalat lima waktu, meski itupun lebih sering disebabkan oleh paksaan dari istrinya. Sementara sejak ia pulang ke Lombok, seingatnya ia hanya shalat sekali saja. Yaitu ketika diajak shalat Jumat oleh Darmaji ke masjid. (Syahidah, 2004:278)
            Sebagai karya yang bertujuan memberikan pencerahan kepada para pembaca, Di Selubung Malam, tidak ingin menyisakan satupun tokoh yang hidup dalam “kegelapan”, termasuk Gerantang yang memberi banyak masalah bagi keluarganya. Ia seakan mendapati hukuman (karma) dari perbuatan buruknya, hal itu terlihat dari tubuhnya yang kini ringkih sakit-sakitan, matanya buta sebelah, dan jalannya yang pincang. Di akhir cerita Gerantang pun mendekatkan diri, berserah, dan pasrah kepada Tuhan.
Penutup
Di tengah maraknya komunitas sastra yang hadir untuk melakukan perlawanan terhadap hegemoni pusat-pusat, FLP lahir bertujuan memberikan pembinaan terhadap peningkatan kualitas tulisan para anggotannya. Kehadiran FLP, menjadi alternatif bagi siapapun yang ingin mengasah kemampuan menulisnya. Selain lewat pertemuan rutin, untuk mempercepat proses belajar para anggotanya, pengurus FLP juga menyusun materi ajar (modul), yang digunakan sebagai pegangan dan panduan (arahan) dalam menulis.
Materi Kelompok Pramuda Forum Lingkar Pena Jakarta –modul FLP Jakarta –memperlihatkan nuansa keislaman yang ketal dalam FLP. Lewat materi KE-FLP-AN dan wawasan keislaman, anggota FLP diarahkan untuk menulis sebagai bagian dari dakwah dan pencerahan, salah satunya terlihat dari karya Novia Syahidah Di Selubung Malam. Novia Syahidah, yang dibesarkan di FLP Jakarta adalah satu dari ribuan penulis FLP yang karya-karyanya kerap disebut sebagai sastra islami. Karya yang digunakan sebagai media dakwah ini menjadi padat dengan pesan moral, sedangkan latar budaya Sasaknya kurang tergali. Pesan moral tersebut diantaranya, keutamaan shalat, membaca Al Quran, pengajian, tidak mabuk-mabukan serta,  berbuat baik pad asesama, melepas semua dendam dan memaafkan.
Ada satu catatan penting untuk Syahidah, yang kerap menulis novel berlatar budaya. Pada halaman 205-210, saat Syahidah mencoba masukan tokoh lelaki tua yang tubuhnya sedikit bungkuk untuk bercerita mengenai sejarah Lombok, ia membuat kesalahan fatal. Berikut adalah kutipan bagian yang saya maksud.
     Lagi-lagi ia teringat akan ucapan Baiq Mandalika seminggu lalu.
     “Saya bahkan lebih mencintai Lombok daripada Bali, meskipun saya berdarah Bali dan menganut agama Hindu”(Syahidah, 2004: 210)
Kesalahan tersebut sangat fatal karena tokoh Mandalika, adalah gadis yang dilahirkan oleh Saqnah –perempuan kampu Bayan Timur –di Lombok. Kesalahan  yang walau sedikit, sangat mempengaruhi saya sebagai pembaca, karena kesalahan terdapat pada tokoh utama yang kisah hidupnya kita tahu melalui cerita. Mungkin Syahidah terlalu asyik memainkan data, sehingga ia lupa melihat kesesuaian antara data –masyakarat Bali di Lombok mayoritas menganut agama Hindu – dengan fakta –Mandalika adalah orang Lombok yang beragama Islam Waktu Lima –yang terdapat dalam cerita. Kesalahan itu membuktikan, bahwa para penulis FLP seperti saya kutip dari tulisan Helvy Tiana Rosa, merupakan ‘pemula’ yang terus bermetamorfosis.
Sebagai organisasi yang menggunakan karya-karyanya sebagai media dakwah dan pencerahan, FLP mampu memberikan alternatif bagi pembaca muslim. Walaupun Helvy Tiana Rosa dan Irfan Hidayatullah mengungkapkan bahwa FLP bersifat terbuka –tidak ekslusif – sulit bagi FLP untuk mendapatkan  (memperbanyak) anggota nonmuslim karena recuitment, dan sistem pembinaan yang berbasis Islam. Namun, keislaman itulah yang menjadi kekuatan dan ciri khas Forum Lingkar Pena.

Daftar Bacaan
     Aziz, Moh. Ali. 2004. Ilmu Dakwah. Jakarta: Prenada Media.
     Budianta, Melani dan Iwan Gunadi (ed). 1998. Pemetaan Komunitas Sastra di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Tangerang: Komunitas Sastra   Indonesia.
     Budiwanti, Erni. 2000. Islam Sasak Wetu Telu versus Waktu Lima. Yogyakarta:        LKIS
     Derk, Will. 2006. “Sastra Pedalaman: Pusat-pusat Sastra Lokal dan Regional di Indonesia” dalam Keith Foulcher dan Tony Day (editor) Clearing A        Space, Kritik Pascakolonial tentang Sastra Indonesia Modern. Jakarta: Yayasan Obor.
       Hamid, Syamsul Rijal. 2007. Buku Pintar Agama Islam Edisi yang    Disempurnakan. Bogor: Cahaya Salam.
       Hasjmy, A. 1977. Sumbangan Kesastraan Aceh dalam Pembinaan Kesusastraan    Indonesia. Jakarta: Bulan Bintang. 
     Herfanda, Ahmadun Yosi. Dkk. (ed). 2008. Komunitas Sastra Indonesia: Catatan    Perjalanan. Tangerang: Komunitas Sastra Indonesia.
     Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
      Rosa, Helvy Tiana. 2007. Forum Lingkar Pena: Sejarah, Konsep, dan Gerakan.     Makalah yang disampaikan pada seminar internasional HISKI di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.
     _____. 2004. Majalah Remaja Annida Konsep, Strategi, dan Pola Representasi     dalam Delapan Cerpennya tahun 1990-an. Tesis. Depok: FIB UI
     Rosidi, Ajib. 1995. Sastra dan Budaya Kedaerahan dan Keindonesiaan. Jakarta: Pustaka Jaya.
Syahidah, Novia. 2004. Di Selubung Malam. Jakarta: DAR! Mizan.
     TIM FLP DKI Jakarta. 2008. Materi Kelompok Pramuda Forum Lingkar Pena. Untuk kalangan sendiri. http://galeriflpJakarta.multiply.com




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis Dongeng

"Yang Fana adalah Waktu, Kita Abadi"

Lindungi Hak Kami sebagai Konsumen dan Nasabah Bank! (Mempertanyakan SOP transaksi perbankan di Indomaret)