Pendekatan Struktural

Strukturalis pada dasarnya merupakan cara berpikir tentang dunia yang  berhubungan dengan tanggapan dan deskripsi struktur-struktur. Dalam pandangan ini karya sastra diasumsikan sebagai fenomena uang memiliki struktur yang saling terkait satu sama lain.[1]
Struktur berasal dari kata stuctura, bahasa latin, yang berarti bentuk atau bangunan. Secara definitif strukturalisme berarti paham mengenai unsur-unsur, yaitu struktur itu sendiri, dengan mekanisme antarhubugannya, di satu pihak antarhubungan unsur yang satu dengan unsur lainnya, dipihak yang lain hubungan antara unsur (unsur) dengan totalistasnya.[2]  Sebagai kualitas totalitas, antar-hubungan merupakan energi, motivator terjadinya gejala yang baru, mekanisme yang baru, yang pada gilirannya menampilkan makna-makna baru. [3]
Strukturalisme adalah suatu pendekatan terhadap teks dan praktik teks yang berasal dari kerangka teoritis seorang pakar linguistik Swiss, Ferdinand de Saussure. Strukturalisme mengambil dua ide dasar Saussure. Pertama, perhatian pada hubungan yang mendukung teks dan praktik budaya, “tata bahasa” yang memungkinkan makna. Kedua, pandangan bahwa makna selalu merupakan hasil dari hubungan seleksi dan kombinasi yang dimungkinkan terjadi di dalam struktur yang mendukungnya.[4]
Menurut Jean Peaget strukturalisme mengandung tiga hal pokok:

Pertama gagasan keseluruhan (wholness), dalam arti bahwa bagian-bagian atau unsurnya menyesuaikan diri dengan seperangkat kaidah instrinsik yang menentukan baik keseluruhan struktur maupun bagian-bagiannya. Kedua, gagasan transformasi (trasformation), struktur itu menyanggupi prosedur transformasi yang terus-menerus memungkinkan pembentukan bahan-bahan baru. Ketiga, gagasan keteraturan yang mandiri (self regulation) yaitu tidak memerlukan hal-hal di luar dirinya untuk mempertahankan prosedur transformasinya, struktur itu otonom terhadap rujukan sistem lain.[5]
            Begitupun dengan Northrop Frye, baginya kesusastraan ialah sebuah ‘struktur verbal otonom’ yang terputus dari acuan lain di luar dirinya. Sebuah  area yang tersegel dan menatap ke dalam yang ‘mengandung kehidupan dan realitas dalam sebuah sistem hubungan verbal’. Yang dilakukan sistem ini hanya menata ulang unit-unit simbolisnya dalam hubungannya satu sama lain, bukan dalam hubungannya dengan realitas apa pun di luar sistem.[6]
Abrams mengatakan ada empat model pendekatan yang dapat dilakukan dalam mengkaji karya sastra. Pertama, pendekatan yang menitikberatkan karya itu sendiri, pendekatan ini disebut objektif. Kedua, pendekatan yang menitikberatkan penulis, disebut ekspresif. Ketiga, pendekatan yang menitik beratkan pada semesta, disebut mimetik. Keempat, pendekatan yang menitikberatkan pembaca, disebut pragmatik.[7]
Sebagai pendekatan yang menitik beratkan pada karya itu sendiri, pendekatan objektif identik dengan pendekatan strukturalisme yang bertujuan memaparkan fungsi dan keterkaitan antarunsur karya sastra. Secara garis besar struktur karya sastra (fiksi) dibagi atas dua bagian, yaitu: (1) struktur luar (ekstrinsik) dan (2) struktur dalam (instrinsik). Struktur luar (ekstrinsik) adalah segala macam unsur yang berada di luar suatu karya sastra yang ikut mempengaruhi kehadiran karya sastra tersebut. Struktur dalam (intrinsik) adalah unsur-unsur yang membantuk karya sastra tersebut seperti penokohan atau perwatakan, tema, alur (plot), pusat pengisahan, latar dan gaya bahasa.[8]
            Karya sastra yang dibangun atas dasar bahasa, memiliki ciri bentuk (form) dan isi (content) atau makna (significance) yang otonom. Artinya, pemahaman karya sastra dapat diteliti dari teks sastra itu sendiri dan tidak memerlukan hal-hal di luar dirinya untuk mempertahankan prosedur transformasinya. Karena itulah pendekatan strukturalis memandang karya sastra sebagai teks mandiri.[9]
Dresden dalam Teeuw mengatakan, bagi setiap peneliti sastra, analisis struktur karya sastra merupakan prioritas, pekerjaan pendahuluan, sebab karya sastra sebagai ”dunia dalam kata” mempunyai kebulatan makna intrinsik yang hanya dapat digali dari karya itu sendiri. [10] Selain itu analisis struktural bertujuan membongkar dan memaparkan dengan cermat, teliti dan marik keterkaitan dan keterjalinan semua unsur karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makna seutuhnya.[11]

Novi Diah Haryanti 


     [1] Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Sastra, Op.Cit., hlm. 49.
     [2] Nyoman Kutha Ratna, S.U, Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra,  (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm. 91
     [3] Ibid., hlm.77
     [4] John Storey, Teori Budaya dan Budaya Pop; Memetakan Landskap konseptual Cultural Studies, terjemahan Dede Nurdin (Yogyakarta: Qalam, 2003) , hlm. 109.
     [5] Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Sastra, Op.Cit., hlm. 50
     [6] Terry Eagleton, Teori Sastra; Sebuah Pengantar Komprehensif, (Yogyakarta: Jalasutra, 2007), hlm. 133-134
     [7] A. Teeuw, Sastera dan Ilmu Sastera, (Bandung: Pustaka Jaya, 2003), hlm. 43.
     [8] Atar Semi, Anatomi Sastra, (Angkasa Raya: Pandang), hlm.35. 
     [9]  Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Sastra, Op.Cit., hlm. 50
     [10] A.Teeuw, Membaca dan Menilai Sastra, (Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama,1991),hlm.61
     [11] Rachmat Djoko Pradopo, Kritik Sastra Indonesia Modern, (Yogyakarta: Gama Media, 2002), hlm.72

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis Dongeng

"Yang Fana adalah Waktu, Kita Abadi"

Lindungi Hak Kami sebagai Konsumen dan Nasabah Bank! (Mempertanyakan SOP transaksi perbankan di Indomaret)