Tanggapan Atas Naskah Sandiwara "Cindua Mato"

 Novi Diah Haryanti

Mursal Esten dalam buku Tradisi dan Modernitas dalam Sandiwara (1992) meneliti hubungan teks sandiwara “Cindua Mato” karya Wisran Hadi dengan teks kaba “Cindua Mato” yang merupakan karya sastra tradisonal Minangkabau. Dalam simpulannya Esten mengungkapkan “Wisran Hadi menggunakan genre yang juga mencerminkan sikapnya. Ia menggunakan tradisi bakaba dan randai untuk hal yang bersifat tradisional dan menggunakan sandiwara untuk mengungkapkan konflik yang terjadi dan pikiran-pikiran barunya” (1992: 149). Sedangkan Wisran Hadi dalam wawancara yang dilakukan dengan Esten,[1] mengungkapkan bahwa “Cindua Mato” dibuat sebagai upaya untuk ‘menshock’ masyarakat Minang yang berusaha mempertahankan tradisi dan mengagung-agungkan kaba Cindua Mato yang para tokohnya “bersih” sebagai manusia.  
Wisran Hadi lahir di Lapai, Padang, Sumatera Barat, pada 27 Juli 1945. Lewat karya-karyanya, Wisran berupaya untuk menghidupkan kembali tradisi dan mitos lama Minangkabau dan Melayu menjadi bentuk yang lebih baru dan tidak tunduk kepada pemikiran masyarakatnya.[2] Selain menulis naskah drama, dia juga menulis, puisi, cerpen, dan novel. Pada 1978, ia mendirikan sanggar Teater Bumi di Padang. Kumpulan naskah drama berjudul Empat Orang Melayu berisi empat naskah drama Senandung Semenanjung, Dara Jingga, Gading Cempaka”dan Cindua Mato” membuatnya mendapat penghargaan SEA Write Award 2000.
“Cindua Mato” karya Wisran Hadi adalah pemenang sayembara penulisan naskah sandiwara Indonesia yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta pada 1977.  Wisran membagi sandiwarannya ke dalam delapan putaran. Cerita dimulai dengan kabar pernikahan Puti Bungsu dengan Imbang Jaya yang diterima oleh Dang Tuanku. Sebagai orang yang sudah dijodohkan sejak kecil, Dang Tuanku merasa terhina ketika tahu wanitanya direbut oleh lelaki lain. Itulah yang membuat Dang Tuanku bersikeras menyuruh Cindua Mato berperang untuk merebut Puti Bungsu. Bundo Kanduang pun merasa terhina dengan ulah Rajo Mundo yang membatalkan perjodohan antara Dang Tuangku dan Puti Bungsu serta menerima lamaran dari Raja Tiang Bungkuk. Maka diutuslah Cindua Mato untuk menghadiri dan mengacaukan perkawinan Puti Bungsu dan Imbang Jaya. Ternyata, Cindua Mato bertindak melebihi perintah Bundo Kanduang. Imbang Jaya dibunuhnya, hingga Cindua Mato di penjara. Tak hanya itu kedekatan Cindua Mato dengan Puti Bungsu membuat Dang Tuangku merasa cemburu padanya. Namun, atas saran Bundo Kanduang, Dang Tuangku yang sudah tak ingin lagi menerima Puti Bungsu karena dianggap tidak suci lagi, akhirnya kembali. Terdesak oleh serangan yang dilakukan oleh Raja Tiang Bungkuk, Cindua Mato pun dibebaskan untuk berperang melawannya. Kemenangan yang diperoleh oleh Cindua Mato tidak lantas membuatnya bahagia karena ia merasa sedih ditinggal oleh Puti Bungsu yang lebih memilih Dang Tuangku dibanding dirinya.
/2/
             Sebagai tokoh utama, Cindua Mato digambarkan Wisran mula-mula sebagai sosok yang tenang dan pemberani. Ketenangan dan keberanian Cindua Mato, tampak ketika terjadi situasi tidak nyaman dalam istana Pagaruyung karena mendengar Puti Bungsu akan dinikahkan oleh Imang Jaya. Keinginan Dang Tuanku untuk berperang karena merasa telah dihina, ditanggapi dingin oleh Cindua Mato. Hal tersebut tampak dari kutipan berikut.
Dang Tuanku: Arang telah dicorengkan ke dahi kita. Cindua Mato! Apa kau takut turun ke gelanggang!
Cindua Mato: Menyiapkan angkatan perang tidak begitu sulit, selagi kita masih punya uang. Tapi dapatkan Dang Tuanku mengingat kembali berapa jumlah prajurit kita yang mati di Padang Sibusuk melawan tentara Majapahit dulu? (Hadi, 2000:261)

Bagi Cindua Mato, perkara merebut Puti Bungsu bukanlah persoalan negara yang harus melibatkan banyak korban. Seharusnya, Dang Tuanku sebagai putra mahkota dapat menyelesaikannya sendiri. Itulah yang membuat kesetiaan Cindua Mato diragukan oleh Dang Tuanku.
Dang Tuanku: Tunggu dulu. Tugas yang kuberikan belum kau jawab untuk disanggupi.
Cindua Mato: Apa gunanya aku diberi tugas kalau kesetiaanku diragukan?  
           
            Jawaban dari tantangan Dang Tuanku, terdapat di putaran kedua. Perbincangan antara Cindua Mato dan Dang Tuanku mengenai cinta dan wanita mulai membuka sedikit demi sedikit perasaan Cindua Mato pada Puti Bungsu. Cindua Mato meragukan cinta yang diberikan Dang Tuanku pada Puti Bungsu, apakah itu cinta atau perasaan terbiasa. Bahkan, Cindua Mato pun sengaja membuat Dang Tuanku meragukan cinta Puti Bungsu. Kedatangan Puti Bungsu tiap tahun menurut Cindua Mato adalah untuk “menemui seorang laki-laki berdestar merah mudah. Kemudian keduanya berjumpa dalam gelap menyatakan cinta, hidup dan masa depan” (hlm.269).
Apa yang dikatakan Cindua Mato dengan cepat dan nada tak biasa pada Dang Tuanku, memperlihatkan bahwa sebenarnya Cindua Mato diam-diam menaruh hati pada Puti Bungsu. Itulah yang membuat ia rela untuk merebut sendiri Puti Bungsu dari Imbang Jaya, namun kesetiaannya pada putra mahkota membuat Cindua Mato menyimpan sendiri rasanya. Hal tersebut tampak dari kutipan berikut:
Dang Tuanku: Dorongan apakah itu? Karena menolong seorang sahabat, atau karena,
Cindua Mato: Jangan tanyakan, itu bagian dari rahasiaku sendiri.
(Hadi, 2000: 269)

Namun, bagian dari rahasia itulah yang kemudian menjadi pertanyaan dalam diri Dang Tuanku. Ketika akhirnya Puti Bungsu diketahui hamil, Dang Tuanku merasa kehamilan Puti Bungsu adalah ulah dari Cindua Mato. Penolakan yang dilakukan Dang Tuanku tidak bertahan lama, atas saran Bundo Kanduang Dang Tuanku tetap menerima Puti Bungsu. Kepergian Puti Bungsu, Dang Tuanku, dan Bundo Kanduang pada bagian akhir menegaskan sisi lain dari Cindua Mato yang tak hanya jagoan, tenang, dan setia tapi juga kesepian.
Rasa kesepian Cindua Mato pertama kali terungkap dari percakapannya dengan Dang Tuanku. Hal tersebut tampak dari kutipan berikut:
Dang Tuanku: Bila Puti Bungsu tidak menerima diriku hadir dalam hatinya, siapa lagi yang akan menerima hatiku dalam dirinya?
Cindua Mato: Kau selalu merasa kesepian tapi kukira karena kita tidak merasakan kasih sayang seorang ayah. Pernah kutanya Bundo Kanduang, jawabannya hanya air mata. Sebelumnya kutanya juga ibuku tapi dia hanya membisu. Itulah sebabnya kau didik secara keras, agar secepatnya dapat menjadi raja. Sedangkan aku harus siap-siap mendampingimu untuk menjaga keutuhan kerajaan dan rahasia-rahasianya. (Hadi, 2000: 267)

Itulah yang membuat Cindua Mato menggila saat mengetahui rahasia siapa ayah dari Cindua Mato dan Dang Tuanku. Hal tersebut tampak dari kutipan berikut.
Cindua Mato: (Semakin liar)
Akan kukatakan pada seluruh negeri! Ayah kita yang tidak diketahui selama ini adalah Bujang Salamat itu! Dia tidak disebut namanya dalam naskah karena dia telah menjadikan istana sebagai sebuah arena skandal yang memalukan! (Hadi, 2000: 277)

            Pada putaran akhir, terbukalah semua usaha dan siasat yang dilakukan Cindua Mato kesepian dan tertekan karena kerap menjadi orang kedua di istana Pagaruyung. Apapun yang dilakukannya adalah untuk putra mahkota dan Cindua Mato walaupun ia adalah’ pahlawan yang pemberani’ ia tetap menjadi bayang-bayang.
Cindua Mato: Semuanya telah kudendangkan. Karena akupun tak ada artinya dalam kenyataan. Aku telah menutup mata untuk dapat melakukan segalanya. Kesediaanku pergi merebut Puti Bungsu sebagai seorang lelaki yang sangat mencintainya, tapi juga paling kuyakini bahwa aku tidak mungkin dapat mengawininya. Dan saudaraku sendiri, Dang Tuanku, tealah kulemahkan segala persedian peragaannya dengan berita-berita bohong tentang hubungan gelapku dengan Puti Bungsu, Agar Dang Tuanku pergi, sehingga aku dapat mempersunting Puti Bungsu.
Aku tau, tidak seorang pun yang setuju mengangkatku menjadi raja, karena aku hanya orang kedua. Anak dari seorang dayang yang kebetulan sebapak dengan putra mahkota. Untuk melampiaskan perasaanku yang tertekan begitu lama, seluruh istana kuobrak-abrik moral dan ukuran nilai-nilainya. (Hadi, 2000: 313)

/3/

Membaca dan menginterpretasi “Cindua Mato” tidaklah mudah. Dari analisis singkat terhadap tokoh Cindua Mato tampak bahwa setiap tokoh dalam sandiwaranya memiliki sifat yang “misterius” dan selalu menampilkan sisi yang berbeda dari satu putaran-keputaran lainnya. Wisran memang harus bekerja lebih ekstra agar pembaca atau penonton sandiwaranya dapat memahami dan menikmati, karena tanpa mengetahui konvesi budaya dan bahasa Minang pembaca naskah ini hanya akan menemukan ‘masalah’ tanpa menangkap esensinya.   


     [1] Lihat wawancara Mursal Esten dengan Wisran Hadi yang menjadi pada lampiran 1 bukunya  
     [2] Lihat profil Wisran Hadi di http://www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/wisranhadi.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis Dongeng

Lindungi Hak Kami sebagai Konsumen dan Nasabah Bank! (Mempertanyakan SOP transaksi perbankan di Indomaret)

"Yang Fana adalah Waktu, Kita Abadi"