Sang Penari: Bila Ronggeng Mulai Menari

Sang Penari
"Sang Penari" (SP) merupakan salah satu film yang sejak akhir Oktober lalu sudah saya tunggu pemutarannya. Alasannya tentu saja karena penasaran bagaimana jika novel seserius "Ronggeng Dukuh Paruk" (RDP) -trilogi RDP (2003) terbitan Gramedia 397 hlm- diadaptasi ke layar lebar dengan durasi yang terbatas. Tidak hanya itu, sudah dua semester ini saya selalu menyelipkan RDP sebagai bacaan wajib di kelas, sehingga visualisasi Srintil (tokoh utama) sebagai ronggeng membuat saya sangat penasaran.

RDP berkisah mengenai gadis bernama Srintil yang harus menanggung dosa kedua orang tuanya yang dianggap telah membunuh orang se-Dukuh Paruk dengan tempe bongkreknya. Namun, dosa masa lalu itupun dianggap hilang saat ia kemasukkan roh indang hingga ia dianggat sebagai ronggeng. Kemunculan ronggeng tersebut menghidupkan kembali Dukuh Paruk yang telah lama "mati". Ronggeng menjadi harapan, penghibur, 'penolong' warga Dukuh Paruk hingga datanglah PKI memanfaatkan kepopuleran Srintil untuk menarik simpati warga.


Tidak jauh berbeda dengan novelnya, SP memperlihatkan dengan baik bagaimana awal mula terjadinya tragedi tempe bongkrek. Sayangnya, peralihan masa kanak-kanak Srintil (Prisia Nasution) ke masa remajanya tidak semulus bagian pembuka karena sutradara (Ifa Ifansyah) gagal mengambil moment-moment penting di saat Srintil bertransformasi dari gadis cilik yang diam-diam menari bersama teman sepermainannya menjadi seorang ronggeng. Tidak hanya itu, penokohan Rasus (Oka Antara) dan Srintil juga tidak terbangun sebaik novelnya bahkan gambaran pedihnya "tragedi" 65 pun tidak terlalu tampak dan hanya menjadi "tempelan" dalam film. Selain akting pemain yang standar, parahnya -menurut saya- film ini minim interpretasi!

Ronggeng Dukuh Paruk
Meskipun demikian, keberanian Ifa untuk mengangkat RDP ke layar lebar patut diapresiasi. Terlebih lagi karya tersebut merupakan salah satu karya kanon yang mengangkat isu sensitif "65". Setidaknya film ini mengingatkan kita bahwa ada tragedi yang belum selesai di negeri ini.

Sapardi Djoko Damono dalam kuliahnya di kelas Alih Wahana pernah mengungkapkan bahwa alih wahana tidak harus sama dengan karya aslinya. Justru ketika karya tersebut dibuat sama dengan aslinya (dalam hal ini novelnya) maka alih wahana (adaptasi) tersebut gagal. 

Ini hanya catatan singkat yang saya buat dengan sedikit emosional. Entah karena sudah tengah malam atau sangat terganggu dengan certa "Sang Penari". Penasaran? Lupakan catatan saya, berangkatlah ke bioskop dan buat catatanmu sendiri.

Selamat menonton teman!

Novi Diah Haryanti


Published with Blogger-droid v2.0.1

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis Dongeng

"Yang Fana adalah Waktu, Kita Abadi"

Lindungi Hak Kami sebagai Konsumen dan Nasabah Bank! (Mempertanyakan SOP transaksi perbankan di Indomaret)