Kritik atas ulasan H.B. Jassin "Kenyataan Artistik Tidak Identik Dengan Kenyataan Objektif" (Bagian 1)

Kali ini, saya mencoba menyusun kembali tulisan yang dibuat pada 2009. Sebelumnya tulisan ini pernah saya "posting" di Facebook. Untuk lebih memudahkan pembaca, saya membagi dalam 2 tulisan.

Bagian 1 

Jika kita membaca salah satu tulisan Jassin dalam bukunya yang bertajuk Sastra Indonesia sebagi Warga Sastra Dunia, rasanya menarik dan cukup menggelitik. Menarik karena label “Paus Sastra” membuat pembacaan terhadap karya Jassin tidak pernah usai, namun menjadi menggelitik jika  kita mencoba melihatnya dengan kacamata kekinian. Maka, tidak salah rasanya jika kita melihat dan mempertanyakan kembali apa yang dipersoalkan Jassin dalam tulisan "Kenyataan Artistik Tidak Identik Dengan Kenyataan Objektif". Dalam tulisan tersebut, Jassin mencermati tiga persoalan dari empat karya yang diulasnya, yaitu 1) karya sastra sebagai hasil imajinasi, tidak lebih dari itu, 2) hubungan antara pengarang, karya, dan isinya ditinjau dari kaidah agama, serta 3) sikap pengarang. 

Menurut Jassin, imajinasi adalah sesuatu yang hidup, suatu proses, dan kegiatan jiwa. Dengan demikian, imajinasi yang dituangkan ke dalam sesuatu karya seni, tidaklah identik dengan kenyataan sejarah, pengalaman, ataupun ilmu pengetahuan. Dapat pula dikatakan, kenyataan artistik tidak identik dengan kenyataan obyektif atau sejarah. 

Buat saya, pernyataan Jassin tersebut cenderung ragu-ragu dan tidak tegas. Kata identik sendiri mempunyai arti; sama benar, tidak berbeda sedikitpun. Tidak identik berarti, tidak sama benar. Lalu apakah maksud pernyataan Jassin tersebut? Apakah kernyataan artistik ‘tidak sama benar’ dengan kenyataan obyektif, -dalam hal ini berarti masih ada unsur yang sama- atau kenyataan artistik tidak sama dengan kenyataan objektif, karenahasil karya sebagai imajinasi tidak lebih dari itu.   

Sebagai kritikus sastra Jassin tak lepas dari teori-teori yang berkembang pada abad ke-18 dan 19, salah satunya adalah teori-teori Abrams yang diambilnya dari "framework" yang sederhana tapi cukup membantu, yaitu Universe (Semesta), Work (Karya), Artist (Pencipta), dan Audience (Pembaca) . Memang, Jassin tidak menyingung langsung tentang keempat teori Abrams tersebut. Namun, dari analisisnya setidaknya terdapat tiga dari empat teori yang ditawarkan Abrams untuk menganalisis karya sastra yaitu, mimetik, ekspresif, pragmatik yang digunakan Jassin secara acak dan bersamaan.   

Teori sastra yang dapat digunakan untuk menelaah hubungan karya dengan kenyataan adalah teori mimetik. Menurut Abrams (1987), The Mimetic Orientation- the explanation of art as essentially an imitation of aspects of the universe. Teori mimetik lahir dari pemikiran Plato yang menganggap bahwa karya seni tidak bisa mewakili kenyataan sesungguhnya, melainkan hanya sebuah peniruan. Pernyataan Plato dan Abrams inilah yang menghubungan antara tulisan Jassin dan teori mimetik. 

Dalam buku "H.O.S Tjokroaminoto: Hidup dan Perjuangannya" yang disusun Amelz dan diterbitkan oleh Bulan Bintang pada 1952, diceritakan Tjokroaminoto pernah bermimpi bertemu Rasulullah yang mengajarinya beberapa ayat Alquran. Maka, menurut Jassin, jika ia seorang pelukis maka mungkin saja ia melukiskan wajah nabi seperti yang dilihatnya dalam mimpi, dalam hal ini berarti Tjokroaminoto meniru gambar wajah nabi dari mimpinya. Tidak hanya itu, pada halaman berikutnya, Jassin pun menuliskan, seniman menggunakan bahan-bahan dari realitas dan menyusunya kembali dalam susunan yang mempunyai realitasnya sendiri. Pernyataan-pernyataan tersebut, memperlihatkan bagaimana Jassin mencoba melihat karya sebagai tiruan dari apa yang dilihat oleh pengarangnya, baik lewat mimpi, ataupun realitas. Itulah yang membuat Jassin menyimpulkan bahwa kenyataan artistik bukanlah kenyataan obyektif atau historis. Tapi merupakan imajinasi si pengarang sendiri.  

Maka, meloncatlah Jassin dari teori mimetik ke teori ekspresif. Menurut Abrams di dalam teori ekspresif seniman menjadikan dirinya  sebagai element terpenting (the major element) dalam penciptaan suatu karya. Jassin mengambil contoh Davina Comedia. Seharusnya, pembaca tak perlu berpolemik terhadap karya tersebut, karena merupakan imajinasi pengarang sehingga tak perlu memperdebatkan isinya, apalagi meninjaunya dari sisi agama. Memang Jassin tidak mengulas Davina Comedia dengan kaidah agama, namun, dia menyorot profesi penyair dari sudut pandang agama. Jassin pun mengutip surah XXVI 24-26, Tafsir Quran susunan H Zainuddin Hamidy dan Fachruddin Hs, yang menulis, jika diukur dari kaidah agama tidak ada penyair atau pengarang yang bisa lolos masuk surga, sebab mereka pernah sekali waktu melanggar atau meragukan kaidah agama dalam imajinasinya, atau perbuatannya. Para pun penyair mempunyai reputasi buruk menurut Al Quran. Mereka tidak mempunyai dasar keimanan dan amal baik, hanya berkhayal dengan tak tentu tujuan dan arah.  Walau pada kalimat selanjutnya, Jassin seakan melontarkan ‘apology’ dengan menjelaskan bahwa dalam surah XXVI, 227 dijelaskan pula pengarang yang baik sebab mereka beriman dan mengejarkan hal baik, mengingat Tuhan sebanyak-banyaknya. Namun hal tersebut menjadi janggal dengan komentar yang diberikan Jassin berikut ini: 

“ragu-ragu bertanya Chairil Anwar tentang surga yang kata Masyumi dan Muhammadiyah bersungai susu dan bertabur bidadari.... dan bagaimana kita harus menanggapi sajak-sajak Amir Hamzah yang mencoba berkomunikasi dengan Tuhannya dan malah mengiaskan Tuhan dengan Kucing yang mempermainkan mangsanya” 

Apakah menurut Jassin, Chairil dan Hamzah merupakan contoh dari pengarang yang beriman dan mengerjakan hal baik atau justru pengarang pendusta? Selain itu, menurut Jassin sebuah hasil imajinasi tidaklah sama dengan kitab pelajaran ilmu fiqih. Hal ini dilihat dari karya A.A Navis, Datang dan Perginya, yang menceritakan pernikahan insest kakak beradik. Jika dilihat dari kehidupan sehari-hari rasanya tidak mungkin orang tua yang membiarkan kakak beradik menikah walau atas mengatasnamakan kebahagiaan. Namun, dalam cerpen ini Navis memilih mengorbankan perasaan sang ayah untuk menjaga keutuhan rumah tangga anaknya. 

Kontroversi cerpen Navis menurut Jassin menimbulkan rasa kurang puas dalam diri pengarangnya, sehingga sebelas tahun berselang, lahirlah novel Kemarau yang mendapat banyak perhatian bukan hanya karena novel ini merupakah novel pertama Navis, tapi dalam novel ini, Navis kembali menghidupkan cerpen Datang dan Perginya dengan akhir yang berbeda dengan cerpennya. Hal tersebut senada dengan yang diungkapkan Navis dalam Ivan Adilla (2003), "melalui Kemarau ia memilih agama sebagai pandangan hidup. Sebagai pengarang, Navis memang tertarik pada humanisme, tapi humanisme yang terkontrol oleh agama"  

(Lebih lengkap baca bagian 2)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis Dongeng

Lindungi Hak Kami sebagai Konsumen dan Nasabah Bank! (Mempertanyakan SOP transaksi perbankan di Indomaret)

"Yang Fana adalah Waktu, Kita Abadi"